Jumat, 10 Mei 2024

MAKALAH KEPRAMUKAAN :P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI

 

Cover

MAKALAH KEPRAMUKAAN

 

P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI

 

Dosen pengampuh matakuliah

Ibu. : Wulan Riyanjani, S.Pd., M.Pd       

 

 

DISUSUN OLEH KELOMPOK 7

1.bertha  m kafiar

2.albina wakum

3.ruth  rumbekwan

4.martina karma

5.merry rumainum

6.lidia wambraw

7.rafika. manggaprow

8.santi mandowen

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS CENDRAWASIH

TAHUN 2024

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panja tkan kehadirat Tuhan yang maha esa, yang atas berkatnya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ” p3k pokok pokok pertolongan pembalutan dan pembidaian dan transportasi “penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah kepramukaan di universitas cendrawasih. 

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada Teknik penulisan maupun materi,mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini 

Dalam penulisan makalah ini kami mengucapkan terimah kasih yang  sebesar besarnya kepada pihak pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini

 

 

 

biak 4  mei 2024

penyusun

 

 

 

 

Kelompok 7

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

COVER.. i

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

A.     Latar Belakang. 1

B.     Rumusan Masalah. 1

C.     Tujuan. 1

BAB II. 2

PEMBAHASAN.. 2

1.      Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). 2

v      Definisi P3K.. 2

v      Tujuan P3K.. 2

v      Tindakan P3K.. 2

2.      Pokok-Pokok Tindakan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). 3

v      Pemahaman. 3

v      Tindakan. 3

3.      Pembalutan dan Pembidaian. 3

v      Pembidaian. 4

4.      Transportasi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). 4

v      Prinsip Transportasi P3K.. 5

v      Komunikasi dalam Transportasi P3K.. 5

v      Persiapan Transportasi P3K.. 5

BAB III. 6

PENUTUP. 6

A.     Kesimpulan. 6

B.     Saran. 6

DAFTAR PUSTAKA.. 7


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

 

Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) merupakan pengetahuan dan keterampilan yang penting bagi semua orang. Tanpa latihan atau praktek, kita mungkin tidak terlatih ketika menghadapi kejadian sebenarnya. Kondisi alam yang seringkali tidak dapat diduga juga memerlukan pemahaman P3K. Selain itu, tenaga medis dan sarana kesehatan tidak selalu mudah dijangkau. Oleh karena itu, pemahaman tentang P3K sangat relevan, terutama dalam situasi darurat.

 

B.    Rumusan Masalah

 

  1. Apa yang dimaksud dengan P3K?
  2. Bagaimana cara melaksanakan P3K?
  3. Apa kesalahan yang sering muncul saat memberikan P3K?

 

 

C.    Tujuan

 

  1. Agar pembaca tahu bagaimana memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kejadian dengan cepat dan tepat.
  2. Mencegah terjadinya kesalahan saat memberikan pertolongan jika terjadi kecelakaan dan mencegah penurunan kondisi badan atau cacat.
  3. Meminimalisir kesalahan yang terjadi.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk memberikan pertolongan sementara kepada korban kecelakaan sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut dari dokter atau paramedis.

1.      Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)

 

v  Definisi P3K

P3K adalah serangkaian tindakan yang dilakukan secara cepat dan tepat untuk memberikan bantuan awal kepada individu yang mengalami kecelakaan atau cedera, sebelum mendapatkan perawatan medis profesional.

v  Tujuan P3K

Tujuan utama dari P3K adalah:

  • Menyelamatkan nyawa: Ini adalah prioritas tertinggi dalam P3K.
  • Mencegah kondisi korban memburuk: Tindakan P3K dapat mencegah cedera menjadi lebih serius.
  • Meringankan penderitaan: Mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan korban.
  • Mempromosikan pemulihan: Membantu proses penyembuhan dan pemulihan korban.

v  Tindakan P3K

Tindakan dalam P3K meliputi:

  • Penilaian awal: Memeriksa kesadaran korban dan memastikan lingkungan sekitar aman.
  • Pemanggilan bantuan: Menghubungi layanan darurat jika diperlukan.
  • Penanganan darurat: Melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) jika korban tidak bernapas, menghentikan pendarahan, melindungi luka, dan lain-lain.
  • Penggunaan alat dan sumber daya yang tersedia: Memanfaatkan peralatan P3K yang ada untuk memberikan pertolongan.

 

 

2.      Pokok-Pokok Tindakan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)

 

v  Pemahaman

 

  • P3K adalah langkah awal yang krusial dalam menangani kecelakaan atau cedera.
  • Pentingnya P3K: P3K dapat membuat perbedaan antara kehidupan dan kematian, serta mencegah cedera menjadi lebih parah.
  • Keterampilan P3K: Setiap orang harus memiliki pengetahuan dasar tentang P3K untuk dapat bertindak cepat dan tepat dalam situasi darurat.

 

v  Tindakan

 

  • Penilaian Situasi: Memastikan bahwa situasi aman untuk penolong dan korban.
  • Penilaian Korban: Memeriksa kesadaran dan kondisi korban, seperti pernapasan dan perdarahan.
  • Pemanggilan Bantuan: Menghubungi layanan darurat jika situasi memerlukan bantuan medis profesional.
  • Penanganan Darurat: Melakukan tindakan seperti menghentikan pendarahan, melakukan resusitasi jantung paru (CPR) jika diperlukan, dan menghindari pemindahan korban yang dapat menyebabkan cedera tambahan.

 

3.      Pembalutan dan Pembidaian

 

v  Pembalutan

Pembalutan adalah proses menutup dan melindungi luka atau cedera dengan menggunakan bahan seperti kain atau perban. Tujuan utama dari pembalutan adalah:

Beberapa jenis pembalutan meliputi:

  • Pembalutan segitiga atau Mitela: Digunakan untuk mendukung lengan atau bahu yang cedera.
  • Pembalut Plester: Digunakan untuk merekatkan kain kassa atau sebagai fiksasi pada cedera tertentu.
  • Pembalut Pita Gulung: Umumnya digunakan untuk cedera yang memerlukan pembalutan yang lebih kuat dan stabil.

v  Pembidaian

Pembidaian adalah proses menggunakan alat yang kaku, seperti papan atau bambu, untuk mengimobilisasi dan mendukung bagian tubuh yang cedera, terutama pada kasus patah tulang. Tujuan dari pembidaian adalah:

  • Mempertahankan kedudukan tulang yang patah agar tidak bergerak dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.
  • Menghindari gerakan yang berlebihan pada tulang yang patah untuk memfasilitasi penyembuhan.

Syarat-syarat dalam pembidaian meliputi:

Pembalutan dan pembidaian adalah komponen penting dalam P3K yang bertujuan untuk menstabilkan kondisi korban dan mencegah cedera menjadi lebih parah sebelum bantuan medis profesional tiba. Selalu pastikan untuk melakukan pembalutan dan pembidaian dengan benar untuk menghindari komplikasi lebih lanjut. 

 

4.      Transportasi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)

Dalam memberikan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), transportasi korban merupakan langkah penting yang harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu untuk memastikan keselamatan korban:

v  Prinsip Transportasi P3K

v  Komunikasi dalam Transportasi P3K

v  Persiapan Transportasi P3K

Transportasi P3K harus dilakukan dengan penuh perhatian dan kehati-hatian untuk memastikan bahwa korban mendapatkan pertolongan yang tepat dan aman sampai ke fasilitas medis. 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

 

P3K adalah Pertolongan Pertama pada Kecelakaan: P3K merupakan upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapatkan pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik.

Prioritas Utama: Pertolongan pertama harus cepat dan tepat untuk mengurangi cacat atau penderitaan serta menyelamatkan korban dari kematian.

P3K Bersifat Sementara: Pertolongan pertama hanya bersifat sementara, dan korban harus segera dibawa ke fasilitas medis untuk perawatan lebih lanjut.

 

 

B.    Saran

 

  1. Pelajari P3K dengan Baik: Semua orang harus memiliki pengetahuan dasar tentang P3K. Latihan dan praktek sangat penting agar kita siap menghadapi situasi darurat.
  2. Prioritaskan Keselamatan: Sebelum melakukan tindakan P3K, pastikan keselamatan diri sendiri dan korban.
  3. Koordinasi dengan Tim Medis: Jika memungkinkan, hubungi tim medis untuk bantuan lebih lanjut.
  4. Pahami Teknik P3K: Pelajari teknik-teknik P3K, termasuk pembalutan dan pembidaian.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fitria, Anisa, Ros Aminah Hasibuan, and Feny Sastia. "MATERI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN PRAMUKA PENGGALANG DAN PENEGAK." Journal of Community Devation 1.1 (2024): 137-142.

SIDAURUK, JUNITA FITRIANI. "PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN PERTOLONGAN PERTAMA TERHADAP PENGETAHUAN SISWA/I ANGGOTA PRAMUKA DI SMA BUDI MURNI 2 MEDAN."

FITRIA, Anisa; HASIBUAN, Ros Aminah; SASTIA, Feny. MATERI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN PRAMUKA PENGGALANG DAN PENEGAK. Journal of Community Devation, 2024, 1.1: 137-142.

Fitria, A., Hasibuan, R. A., & Sastia, F. (2024). MATERI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN PRAMUKA PENGGALANG DAN PENEGAK. Journal of Community Devation, 1(1), 137-142.

MAKALAH PENGEMBANGAN MATEMATIKA SD

 

MAKALAH PENGEMBANGAN MATEMATIKA SD

 

TEORI BELAJAR GAGNE

 

Dosen pengampuh matakuliah

Ibu. : Tamsil S.Pd., M.Pd

 

 

 

 

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1        

1.       Martina Raubaba         

2.       Marice Anes                

3.       Hermon rumakiek

4.       Theresia Baab 

5.       Sofia rumbino

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS CENDRAWASIH

TAHUN 2024

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panja tkan kehadirat Tuhan yang maha esa, yang atas berkatnya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ” Teori Belajar Gagne “penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah Makalah Pengembangan Matematika Sd di universitas cendrawasih. 

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada Teknik penulisan maupun materi,mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini 

Dalam penulisan makalah ini kami mengucapkan terimah kasih yang  sebesar besarnya kepada pihak pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini

 

 

 

biak 28  maret  2024

penyusun

 

 

 

 

Kelompok 1

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI iii

BAB I 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1        Latar Belakang. 1

1.2        Rumusan Masalah. 1

1.3        Tujuan. 1

BAB II 2

PEMBAHASAN.. 2

A.     Teori Belajar Gagne. 2

B.     Belajar Menurut Pandangan Gagne. 3

C.     Tipe-Tipe belajar menurut Robert Gagne. 4

D.     Jenis-jenis Belajar Menurut Gagne. 7

E.     Fase-fase Belajar Menurut Gagne. 8

F.      Implikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran. 12

G.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Menurut Gagne. 13

BAB III 21

PENUTUP. 21

A.     KESIMPULAN.. 21

B.     SARAN.. 22

DAFTAR PUSTAKA.. 23

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1             Latar Belakang

 

Dalam mempelajari ilmu pendididkan, sering dikemukakan pertanyaan berupa ”mengapa seseorang perlu belajar?” untuk menjawab pertanyaan ini, sepertinya kita sependapat bahwa di dunia ini tak ada makhluk hidup yang ketika baru dilahirkan dapat melakukan segala sesuatu dengan sendirinya, begitu juga dengan manusia. Sejak ia bayi, bahkan ketika dewasa pun, ia pasti membutuhkan bantuan orang lain.

Jika bayi manusia yang baru dilahirkan tidak mendapat bantuan dari manusia dewasa lainnya, tentu ia akan binasa. Ia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak dididik oleh manusia. Oleh karena itu, manusia disebut sebagai makhluk sosial. Selain itu, manusia juga makhluk berbudaya, sehingga belajar merupakan kebutuhan yang vital sejak manusia dilahirkan. Manusia selalu memerlukan dan melakukan perbuatan belajar kapan saja dan dimana saja ia berada.

Banyak ilmuan yang telah menemukan teori belajar. Salah satu teori belajar tersebut adalah teori belajar dari Robert M. Gagne, yang akan kami bahas dalam maklah ini.

1.2             Rumusan Masalah

 

1.                  Bagaimana belajar menurut pandangan Gagne?

2.                  Apa saja tipe-tipe belajar menurut Gagne ?

3.                  Apa saja jenis-jenis belajar menurut Gagne ?

4.                  Apa saja fase-fase belajar menurut Gagne ?

5.                  Bagaimana implikasi dan aplikasi teori Gagne dalam pembelajaran?

6.                  Apa saja kelebihan dan kekurangan teori Gagne ?

1.3             Tujuan

 

1.       Untuk mengetahui dan memahami belajar menurut pandangan Gagne.

2.       Untuk mengetahui tipe-tipe belajar menurut Gagne.

3.       Untuk mengetahui jenis-jenis belajar menurut Gagne.

4.       Untuk mengetahui fase-fase belajar menurut Gagne.

5.       Untuk mengetahui dan memahami implikasi dan aplikasi teori Gagne dalam pembelajaran.

6.       Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan teori Gagne.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Teori Belajar Gagne

 

Robert Mills Gagne yang lahir pada 21 Agustus 1916 adalah seorang psikolog pendidikan Amerika yang terkenal dengan teori Conditions of Learning. Menurut Gagne, tatanan pembelajaran yang lebih tinggi pada prinsipnya dibangun melalui tingkat pembelajaran yang lebih rendah. Dia menyatakan ada beberapa perbedaan tipe atau tingkatan belajar. Untuk itu perlu diklasifikasikan karena berbeda tipe atau tingkatan belajar maka berbeda pula jenis instruksinya (Samuel, 2012).

Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang memungkinkan seseorang merubah tingkah lakunya secara permanen, oleh karena itu perubahan tingkah laku yang terjadi dihasilkan dari perubahan struktur dalam diri seseorang. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar akan terjadi apabila seseorang berinterkasi dengan lingkungannya (Hudojo, 1988).

Gagne mengidentifikasi tipe pembelajaran terdiri dari lima yaitu : informasi lisan, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilanmotorik. Kondisi internal dan eksternal yang berbeda diperlukan untuk setiap jenis pembelajaran. Misalnya, untuk strategi kognitif yang harus dipelajari, harus ada kesempatan untuk berlatih mengembangkan solusi baru untuk masalah. Untuk mempelajari sikap, pelajar harus dihadapkan pada model peran yang kredibel atau argumen persuasif  (Samuel, 2012).

Menurut Gagne ada dua objek pembelajaran matematika yaitu objek langsung (direct objects) dan objek tidak langsung (indirect objects). Objek langsung pembelajaran matematika adalah fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip. Sedangkan yang termasuk objek tidak langsung diantaranya adalah berpikir logis, kemampuan memecahkan masalah, ketekunan, ketelitian, kemampuan inquiry, disiplin diri, dan   sikap   positif   terhadap matematika. Kemampuan- kemampuan tersebut adalah kemampuan yang secara tak langsung akan dipelajari siswa ketika mereka mempelajari objek langsung matematika. Objek langsung pembelajaran matematika yaitu fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip adalah empat kategori yang konten matematisnya dapat dipisahkan (Shadiq, 2008)

 

1.   Fakta

Fakta matematika adalah konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti simbol matematika, aturan dalam matematika. Contoh: fakta bahwa “2” adalah simbol untuk dua, “+” adalah simbol untuk operasi penjumlahan, dan sinus itu adalah nama yang diberikan pada fungsi khusus dalam trigonometri. Fakta dipelajari melalui berbagai teknik belajar seperti hafalan, latihan, permainan, dan pertandingan matematika. Orang-orang dianggap telah belajar fakta ketika mereka dapat menyatakan fakta dan menggunakannya dengan tepat sesuai dengan situasi.

2.   Konsep

Konsep dalam matematika adalah gagasan abstrak yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan objek atau peristiwa dan untuk menentukan apakah objek dan peristiwa itu merupakan contoh atau bukan contoh. Contohyang merupakan konsep matematika adalah himpunan, himpunan bagian, persamaan, ketidaksetaraan, segitiga, kubus, radius, dan eksponen.

Seseorang yang telah mempelajari konsep segitiga akan mampu mengelompokkan kumpulan gambar atau benda yang merupakan segitiga dan non- segitiga, jika dia sudah mengetahui konsep dari segitiga. Konsep dapat dipelajari baik melalui definisi atau pengamatan langsung.

3.   Prinsip

Prinsip adalah Objek matematis yang paling kompleks. Prinsip adalahurutan konsep bersama dengan hubungan antara konsep-konsep ini, atau Prinsip adalah suatu pernyataan yang memuat hubungan antara dua konsep atau lebih. Pernyataan berikut adalah contoh prinsip.

·         Dua segitiga adalah kongruen jika dua sisi dan sudut yang termasuk satusegitiga sama dengan dua sisi dan sudut yang termasuk sudut yang lain.

·         Rumus luas segitiga adalah L = ½ . a . t

Pada rumus luas segitiga di atas, didapati adanya beberapa konsep yang digunakan, yaitu konsep luas, konsep panjang alas segitiga dan konsep tinggi segitiga.

Prinsip dapat dipelajari melalui proses penyelidikan ilmiah, pelajaran penemuan terpandu, diskusi kelompok, penggunaan strategi pemecahan masalah, dan demonstrasi. Seorang siswa telah mempelajari prinsip-prinsip ketika dia dapat mengidentifikasi konsep yang termasuk dalam prinsip, meletakkan konsep-konsep itu dalam hubungan yang benar satu sama lain, dan menerapkan prinsip pada situasi tertentu.

4.   Keterampilan

Keterampilan dalam matematika adalah kemampuan dalam menyelesaikan masalah matematika dengan kecepatan dan ketepatan. Misalkan pembagian dengan cara panjang, penjumlahan dengan menyimpan, dan siswa diminta untuk menentukan hasil dari 345 × 87 tanpa menggunakan kalkulator.

Keterampilan dipelajari melalui demonstrasi dan berbagai jenis latihan seperti lembar kerja, bekerja di papan tulis, aktivitas kelompok dan permainan. Siswa telah menguasai keterampilan ketika mereka dengan benar dapat menunjukkan keterampilan dengan memecahkan berbagai jenis masalah yang membutuhkan keterampilan atau dengan menerapkan keterampilan dalam berbagai situasi (Samuel, 2012).

B.    Belajar Menurut Pandangan Gagne

 

Sebagaimana tokoh-tokoh  dalam psikologi pembelajaran, Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan individu seseorang meliputi lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan menentukan akan menjadi apa ia nantinya.

Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.

Kematangan menurut Gagne, bukanlah belajar sebab perubahan tingkah laku yang terjadi dihasilkan dari pertumbuhan struktur dan diri manusia itu sendiri. Dengan demikian belajar terjadi bila individu merespon terhadap stimulus yang datangnya dari luar sedangkan kematangan datangnya memang dari dalam diri orang itu. Perubahan tingkah laku yang tetap sebagai hasil belajar harus terjadi bila orang tersebut berinteraksi dengan lingkungannya.

Komponen- komponen dalam proses belajar menurut Gagne dapat digambarkan sebagai S-R. S adalah situasi yang memberi stimulus, R adalah respons atas stimulus itu, dan garis di antaranya adalah hubungan diantara stimulus dan respon yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat kita amati yang berkaitan dengan sistem alat saraf dimana terjadi transformasi perangsang yang diterima melalui alat indera. Stimulus ini merupakan input yang berada di luar individu dan respon adalah outputnya yang juga berada di luar individu sebagai hasil belajar yang dapat diamati.

Robert M. Gagne merupakan salah seorang penganut aliran psikologi tingkah laku. Gagne memiliki pandangan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang kegiatannya mengikuti suatu hirarki kemampuan yang dapat diobservasi atau diukur. Oleh karena itu, teori belajar yang dikemukakan Gagne dikenal sebagai Teori Hirarki Belajar. Teori hirarki belajar ditemukan oleh Rober M. Gagne  yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses  belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif.

Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari  hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks. Orton dalam Warsita Hirarki belajar  menurut Gagne harus disusun dari atas ke bawah atau top down. Dimulai dengan menempatkan kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu tujuan dalam proses pembelajaran dipuncak hirarki belajar tersebut, diikuti kemampuan, keterampilan atau pengetahuan prasyarat yang harus mereka kuasai lebih dahulu agar mereka berhasil mempelajari keterampilan atau pengetahuan diatasnya. Hirarki ini juga memungkinkan prasyarat yang berbeda untuk kemampuan yang berbeda pula.

Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi. Selanjutnya, Gagne juga mengemukakan tentang sistematika delapan tipe belajar, sistematika lima jenis belajar, fase-fase belajar, implikasi dalam pembelajaran, serta aplikasi dalam pembelajaran.

 

C.    Tipe-Tipe belajar menurut Robert Gagne

 

Menurut Robert M. Gagne, ada 8 tipe belajar, yaitu:

a.       Belajar Isyarat (Signal Learning)

Bentuk pembelajaran yang paling sederhana, dan pada dasarnya terdiri dari pengkondisian klasik yang pertama kali dijelaskan oleh psikolog perilaku Pavlov.

Dalam hal ini, subjek 'dikondisikan' untuk memancarkan respons yang diinginkan sebagai akibat stimulus yang biasanya tidak menghasilkan respons tersebut.

Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengekspos subjek pada stimulus yang dipilih (dikenal sebagai stimulus terkondisi) bersamaan dengan stimulus lain (dikenal sebagai stimulus tak berkondisi) yang menghasilkan respons yang diinginkan secara alami; Setelah sejumlah pengulangan stimulus ganda, ditemukan bahwa subjek memancarkan respons yang diinginkan saat terkena stimulus terkondisi sendiri.

Penerapan pengkondisian klasik dalam memfasilitasi pembelajaran manusia sangat terbatas.Belajar isyarat mirip dengan  conditioned respons  atau respon bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah  respons.

Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.

b.      Belajar Stimulus – Respons ( Stimulus Respons Learning)

Bentuk pembelajaran yang agak canggih ini, yang juga dikenal sebagai pengkondisian operan, pada awalnya dikembangkan oleh Skinner. Ini melibatkan pengembangan obligasi stimulus-respons yang diinginkan dalam subjek melalui jadwal penguatan yang direncanakan dengan hati-hati berdasarkan penggunaan 'penghargaan' dan 'hukuman'. Pengondisian operan berbeda dari pengkondisian klasik karena agen penguat ('hadiah' atau 'hukuman') disajikan setelah respon. Tipe pengkondisian inilah yang membentuk dasar pembelajaran terprogram dalam berbagai manifestasinya.Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe belajar S – R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. Mencium bau masakan sedap, keluar air liur, itupun ikatan S-R. Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement.

c.       Belajar Rangkaian (Chaining)

Bentuk pembelajaran yang lebih maju dimana subjek mengembangkan kemampuan untuk menghubungkan dua atau lebih ikatan stimulus-respons yang dipelajari sebelumnya ke dalam urutan yang terkait. Ini adalah proses dimana keterampilan psikomotor yang paling kompleks (misalnya mengendarai sepeda atau bermain piano) dipelajari.

d.      Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)

Asosiasi verbal dalah bentuk chaining dimana hubungan antara item yang terhubung bersifat verbal. Asosiasi verbal adalah salah satu proses kunci dalam pengembangan kemampuan bahasa. Contoh suatu kalimat “unsur itu berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa unsur berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.

e.       Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning)

Pembelajaran ini melibatkan pengembangan kemampuan untuk membuat tanggapan yang sesuai (berbeda) terhadap serangkaian rangsangan serupa yang berbeda secara sistematis. Prosesnya dibuat lebih kompleks (dan karenanya lebih sulit) oleh fenomena gangguan, dimana satu hal belajar menghambat yang lain. Gangguan dianggap salah satu penyebab utama lupa.Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan. 

f.        Belajar Konsep (Concept Learning)

Melibatkan pengembangan kemampuan untuk membuat respons yang konsisten terhadap rangsangan yang berbeda yang membentuk kelas atau kategori umum. Ini membentuk dasar kemampuan untuk menggeneralisasi, mengklasifikasikan dll.Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang bertulang belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia, reptilia, amphibia, burung, ikan. Kemampuan  membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat melakukan diskriminasi. 

g.      Belajar Aturan (Rule Learning)

Proses kognitif tingkat tinggi yang melibatkan kemampuan untuk mempelajari hubungan antara konsep dan menerapkan hubungan ini dalam situasi yang berbeda, termasuk situasi yang sebelumnya tidak dihadapi. Ini menjadi dasar pembelajaran peraturan umum, prosedur, dll.Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan 180o. Setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.

h.      Belajar Pemecahan Masalah ( Problem Solving Learning)

Tingkat tertinggi proses kognitif menurut Gagné. Ini melibatkan pengembangan kemampuan untuk menciptakan aturan, algoritma, atau prosedur yang kompleks untuk memecahkan satu masalah tertentu, dan kemudian menggunakan metode untuk memecahkan masalah lain yang serupa.

Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai urusan yang relevan dengan masalah itu. Dalam pemecahan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat adakalanya lama. Juga seringkali harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam  masalah itu, mencari hubungannya dengan aturan (rule) tertentu.

Dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan tiba-tiba. Dengan ulangan-ulangan masalah tidak terpecahkan, dan apa yang dipecahkan sendiri-yang penyelesaiannya ditemukan sendiri  lebih mantap dan dapat ditransfer kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.

 

D.    Jenis-jenis Belajar Menurut Gagne

 

Terdapat lima jenis hasil belajar atau yang bisa disebut dengan sistematika “ lima jenis belajar”. Sistematika ini tidak jauh berbeda dengan sistematika delapan tipe belajar, dimana isinya merupakan bentuk penyederhanaan dari sistematika delapan tipe belajar. Uraian tentang sistematika lima jenis belajar ini memperhatikan pada hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar ini merupakan kemampuan internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang tersebut melakukan sesuatu yang dapat memberikan ptrestasi tertentu.

Sistematika ini mencakup semua hasil belajar yang dapat diperoleh, namun tidak menunjukkan setiap hasil belajar atau kemampuan internal satu-persatu. Akan tetapi mengelompokkan hasil-hasil belajar yang memiliki ciri-ciri sama dalam satu kategori dan berbeda sifatnya dari kategori lain. Maka dapat dikatakan, bahwa sistematika Gagne meliputi lima kategori hasil belajar. Kelima kategori hasil belajar tersebut adalah Informasi verbal, Kemahiran intelektual, Pengaturan kegiatan kognitif, Keterampilan motorik, dan Sikap.

a.         Informasi Verbal (Verbal Information)

Merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan, dan tertulis. Pengetahuan tersebut diperoleh dari sumber yang juga menggunakan bahasa, lisan maupun tertulis. Informasi verbal meliputi ”cap verbal” dan ”data/fakta”. Cap verbal yaitu kata yang dimiliki seseorang untuk menunjuk pada obyek-obyek yang dihadapi, misalnya ’kursi’. Data/fakta adalah kenyataan yang diketahui, misalnya ’Ibukota negara Indonesia adalah Jakarta’.

b.         Kemahiran Intelektual (Intellectual Skill)

Adalah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang/simbol (huruf, angka, kata, dan gambar). Kategori kemahiran intelektual terbagi lagi atas empat subkemampuan, yaitu:

ü  Diskriminasi jamak: yaitu kemampuan seseorang dalam mendeskripsikan benda yang dilihatnya.

ü  Konsep:yaitu satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri sama. Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada obyek-obyek dalam lingkungan fisik. Konsep yang didefinisiskan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik.

ü  Kaidah: yaitu kemampuan seseorang untuk menggabungkan dua konsep atau lebih sehingga dapat memahami pengertiannya.

ü  Prinsip: yaitu telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks. Berdasarkan prinsip tersebut, seseorang mampu memecahkan suatu permasalahan, dan kemudian menerapkan prinsip tersebut pada permasalahan yang sejenis.

c.         Pengaturan Kegiatan Kognitif (Cognitive Strategy)

Merupakan suatu cara seseorang untuk menangani aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri, sehingga ia menggunakan cara yang sama apabila menemukan kesulitan yang sama.

d.         Keterampilan Motorik (Motor Skill)

Adalah kemampuan seseorang dalam melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.

e.         Sikap (Attitude)

Merupakan kemampuan seseorang yang sangat berperan sekali dalam mengambil tindakan, apakah baik atau buruk bagi dirinya sendiri.

 

E.    Fase-fase Belajar Menurut Gagne

 

Menurut Gagne, belajar melalui empat fase utama yaitu:

1.        Fase Pengenalan (Apprehending Phase)

Pada fase ini siswa memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. Dengan kata lain pada fase ini, rangsang diterima oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah. Pertama timbulnya perhatian, kemudian penerimaan, dan terakhir adalah pencatatan (dicatat dalam jiwa tentang apa yang sudah diterimanya). Ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar.

2.        Fase Perolehan (Acqusition Phase)

Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan baru (dapat berupa fakta, keterampilan, konsep atau prinsip) dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama. Pemilikan pengetahuan dapat ditentukan dengan mengamati atau mengukur apa yang telah dimilikinya itu. Hal ini perlu dilakukan di dalam proses belajar mengajar agar supaya guru dapat mengetahui apa yang telah dimiliki dan apa yang belum dimiliki.

3.        Fase Penyimpanan (Storage Phase)

Fase storage/retensi adalah fase penyimpanan informasi. Sarana menyimpan bagi manusia adalah ingatan (memory). Penelitian mengindikasikan bahwa terdapat dua tipe memori, yaitu memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory).

        Memori jangka pendek mempunyai kapasitas terbatas dan hanya bertahan dalam waktu singkat. Banyak orang dapat menahan (menyimpan) tujuh atau delapan informasi berbeda dalam memori selama tiga puluh detik. Memori jangka panjang adalah kemampuan kita mengingat informasi selama lebih dari tiga puluh detik, dan ini disimpan dalam pikiran secara permanen.

      Gagne mendeskripsikan beberapa ciri yang mungkin dimiliki fase ini, sebagai berikut.

ü  Apa yang telah dipelajari mungkin tersimpan di dalam suatu bentuk yang permanen, tetap intens selama bertahun-tahun.

ü  Beberapa hal yang dipelajari mungkin memudar sedikit demi sedikit sejalan dengan berlalunya waktu.

ü  Gudang ingatan mungkin mengalami pencampuradukan dalam arti ingatan yang baru mengaburkan ( atau mungkin menghapus) yang terlebih dulu karena mereka bercampur baur.

Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya. Sesuatu yang telah dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat digunakan bila diperlukan dan kemampuan baru yang telah diperoleh dipertahankan atau diingat. Fase ini berhubungan dengan ingatan dan kenangan.

4.         Fase Pengungkapan Kembali (Retrieval Phase)

Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori. Apa yang telah dipelajari, dimiliki, dan disimpan (dalam ingatan) dengan maksud untuk digunakan (memecahkan masalah) bila diperlukan, baik itu yang menyangkut fakta, keterampilan, konsep, maupun prinsip. Jika kita akan menggunakan apa yang disimpan, maka kita harus mengeluarkannya dari tempat penyimpanan tersebut, dan inilah yang disebut dengan pengungkapan kembali.

       Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu informasi yang baru dan yang lama disusun secara terorganisasi, diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi katagori, konsep sehingga lebih mudah dipanggil. Misalnya kadang-kadang informasi yang diinginkan, misalnya “nama”, tidak dapat dipanggil keluar dari memori atas permintaan seseorang, tetapi kemudian mungkin saja ke luar pada saat orang itu memikirkan sesuatu yang tidak ada kaitan dengan “nama” tadi. Fase ini meliputi penyadaran akan apa yang telah dipelajari dan dimiliki, serta mengungkapkannya dengan kata-kata (verbal) apa yang telah dimiliki tidak berubah-ubah.

      Jadi bagian penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah dipelajari, untuk memangil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.

Menurut Gagne, fase pertama dan kedua merupakan stimulus, dimana terjadinya proses belajar,sedangkan  pada fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar. Keempat fase belajar manusia ini telah disatukan menyerupai model sistem komputer, meskipun sedikit lebih kompleks daripada yang ada pada manusia. komputer menangkap rangsangan listrik dari pengguna komputer, memperoleh stimulus dalam central processing unit, menyimpan informasi dalam stimulus pada salah satu bagian memori, dan mendapatkan kembali informasi pada penyimpanannya.
Contoh kasus : jika siswa mempelajari prosedur menentukan nilai pendekatan akar kuadrat dari bilangan yang bukan kuadrat sempurna, mereka harus memahami metode, memperoleh metode, menyimpan di dalam memori, dan memanggil kembali ketika dibutuhkan.

Untuk membantu siswa melangkah maju melalui empat tahap dalam mempelajari algoritma akar kuadrat, guru menimbulkan pemahaman dengan mengerjakan suatu contoh pada papan tulis, memudahkan akusisi setelah setiap siswa mengerjakan contoh dengan mengikutinya, langkah demi langkah, daftar petunjuk, membantu penyimpanan dengan memberikan soal-soal untuk pekerjaan rumah, dan memunculkan pemanggilan kembali dengan memberikan kuis pada hari berikutnya.

Kemudian fase-fase belajar lainnya adalah sebagai berikut:

1.        Fase Motivasi

       Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik

2.        Fase Generalisasi (Generalization Phase)

       Tujuan belajar bukanlah sekedar untuk menambah pengetahuan atau mengubah kelakuan, akan tetapi agar apa yang dipelajari itu dapat digunakan dalam berbagai situasi lain, sehingga mantap dan dapat terus digunakan. Menggunakan apa yang dipelajari dalam situasi-situasi yang baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya disebut transfer. Menurut Gagne, konteks yang bervariasi untuk belajar merupakan suatu hal yang esensial yang dapat menjamin terjadinya transfer dalam proses belajar.

                 Transfer dapat bersifat horizontal, yakni apa yang dipelajari itu dapat digunakan untuk situasi-situasi lain yang bersamaan dan setaraf tingkatnya. Misalnya prinsip-prinsip yang dipelajari dalam matematika dapat digunakan dalam ilmu bumi, fisika, atau kimia. Di samping itu ada lagi transfer vertikal. Apa yang  dipelajari dapat digunakan untuk mencapai prinsip yang lebih tinggi.

3.         Fase Penampilan (Performance Phase)

       Dalam fase ini, siswa menampilkan tindakan/tingkah laku yang merefleksikan apa yang sudah ia pelajari. Tingkah laku baru yang ditampilkan sebagai hasil belajar ini, penting bagi siswa karena akan memberikan kepuasan, dan selanjutnya akan mendorongnya untuk belajar lebih lanjut. Fase ini memberikan gambaran apakah tujuan belajar telah tercapai atau belum.

4.         Fase Umpan Balik ( Feedback Phase)

       Para siswa memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan. Belajar tidak dengan sendirinya berhasil baik. Oleh sebab itu pelajar harus mengetahui apakah jawabannya tepat. Feedback pada manusia merupakan tanda bahwa jawabannya benar. Di sini pun tak perlu selalu dikatakan bahwa jawabannya itu benar. Sering anak mengetahuinya dari senyuman, anggukan kepala, pandangan mata guru atau isyarat lain. Feedback mempertinggi efektivitas dan efisiensi belajar.

               Feedback dapat juga dilakukan oleh murid sendiri, yakni bila ia dapat atau diberi jalan untuk memeriksa sendiri benar tidaknya jawabannya. Mengetahui keberhasilan belajar memberi kepuasan yang mempercepat proses belajar. Siswa yang sanggup men-check kebenaran hasil belajarnya telah sanggup untuk belajar secara individual dan belajar sepanjang hidupnya. Tidak ada metode mengajar yang menjamin keberhasilan. Keberhasilan  baru diketahui bila ada penilaian yang dapat menunjukkan kesalahan dan kekurangan sebagai feedback untuk diperbaiki. Mengabaikan feedback adalah meniadakan salah satu aspek yang penting dalam proses belajar.

 

F.     Implikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran

 

Ada beberapa pendekatan dan langkah-langkah agar bisa menerapkan teori Gagne dalam proses pembelajaran. Berikut merupakan konsep Sembilan Kondisi Intruksional Gagne yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menerapkan teroi Gagne dalam pembelajaran:

1.         Mengarahkan Perhatian

Kegiatan ini merupakan proses guru dalam memberikan stimulus kepada siswa dengan cara meyakinkan siswa bahwa mempelajari materi tersebut itu penting. Hal ini bisa dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan ringan seputar materi yang akan disajikan.

2.         Memberikan Informasi Tujuan Pembelajaran

Dalam hal ini guru harus mengupayakan untuk memberitahu siswa akan tujuan pembelajaran. Sehingga siswa mengetahui tujuan dari materi pembelajaran yang dipelajarinya. Ini sangat penting dilakukan agar siswa lebih termotivasi untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran.

3.         Merangsang siswa untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari

Upaya merangsang siswa dalam mengingat materi yang lalu bisa dilakukan dengan cara bertanya tentang materi yang telah diajarkan.

4.         Menyajikan stimulus

Menyajikan stimulus bisa dilakukan dengan cara guru menyajikan materi pembelajaran secara menarik dan menantang. Sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung.

5.         Memberikan bimbingan kepada siswa

Pada konsep ini guru harus membimbing siswa dalam proses belajarnya. Sehingga siswa dapat terarah dalam pembelajarannya.

6.         Memancing Kinerja

Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari itu.

7.         Memberikan balikan

Memberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak.

8.         Menilai hasil belajar

Menilai hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal.

9.         Mengusahakan transfer

Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam situasi-situasi lain.

 

G.     Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Menurut Gagne

 

a.      Kelebihan Teori Belajar Menurut Gagne yaitu :

 

1.       Mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran

Teori Gagne mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran yang akan dilakukan. Sehingga pembelajaran menjadi lebih terarah dan terstruktur. Selain itu agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi sebaik mungkin. Dimana inti dari kegiatan pembelajaran adalah menyajikan cirri-ci stimulis,memberikan pedoman belajar,memunculkan kinerja,dan memberikan tanggapan dan umpan balik.

2.       Memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan

Teori Gagne sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan prakrik dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan spontanitas kelenturan reflek, dan daya tahan. menurut gagne rancangan pembelajaran untuk keterampilan yang kompleks menyajikan peristiwa pembelajaran untuk urutan keterampilan yang ada dalam prosedur dan hirarki belajar.

3.       Cocok untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa

Menyajikan stimulus bisa dilakukan dengan cara guru menyajikan materi pembelajaran secara menarik dan menantang. Sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini dapat dilakukan langsung bagi siswa pendidikan dasar.

4.       Dapat dikendalikan

Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Mulai dari identifikasi kapabilitas yang akan dipelajari, analisis tugas atas tujuan, pemilihan peristiwa pembelajaran yang cocok, semua dapat disusun. Sehingga pembelajaran yang diinginkan dapat dikendalikan guru agar mendapatkan hasil yang maksimal. Pada teori ini, analisis tugas merupakan kunci bagi pengajaran yang efektif. Untuk mengajarkan tugas apapun, paling tidak guru harus memastikan bahwa semua komponen yang diperlukan telah dipelajari, yaitu bisa jadi mensyaratkan pengajaran-pengajaran setiap komponen pembelajaran.

 

b.      Sedangkan kekurangan teori belajar menurut Gagne yaitu :

1.       Pembelajaran hanya berpusat pada guru (teacher centered learning), dimana guru bersifat otoriter.

2.       Komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.

3.       Hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur.

4.       Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.

 

v  Pengalaman Instruksi (Events Of Instruction) Menurut Gagne

1.   Menarik Perhatian atau Motivasi (reception)

Agar setiap pembelajaran berlangsung dengan baik, hal yang pertama perlu dilakukan oleh guru adalah menarik perhatian siswa. Cara yang lebih baik untuk menarik perhatian siswa adalah dengan memulai setiap pelajaran dengan sebuah pertanyaan atau fakta menarik. Keingintahuan memotivasisiswa untuk belajar.

2.   Menginformasikan peserta didik tujuan belajar (expectancy)

Expectasi ini berfungsi mengantar siswa untuk mengetahui tujuan belajar, orientasi tujuan yang sudah terbentuk pada tahap ini membuat siswa dapat memilih hasil apa yang akan dikuasai. Pada awal setiap pelajaran, siswa harus mengetahui tujuan pembelajaran. Ini akan menjadi acuan dan membantu memotivasi peserta didik untuk menyelesaikan pelajaran. Tujuan ini harus menjadi dasar penilaian dalam proses pembelajaran. Biasanya, tujuan pembelajaran disajikan dalam bentuk "Setelah menyelesaikan pelajaran ini, Anda akan bisa ..."

3.   Mengingatkan kembali pembelajaran sebelumnya (retrieval)

Mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya dapat mempermudah proses pembelajaran. Akan lebih mudah bagi siswa untuk memahami dan menyimpan informasi dalam ingatan jangka panjang bila ada hubungan dengan pengalaman dan pengetahuan pribadinya. Cara sederhana untuk merangsang ingatan adalah mengajukan pertanyaan tentang pengalaman sebelumnya, pemahaman tentang konsep sebelumnya, atau isi konten.

4.   Penyampaian Materi (Present the content)

Pada penyampaian materi ini adalah guru menyampaikan atau menagajarkan materi baru kepada siswa. Materi harus kemas dan diorganisasikan secara bermakna, dan biasanya dijelaskan dan kemudian ditunjukkan. Agar pembelajaran menarik beragam media harus digunakan jika memungkinkan, termasuk teks, grafik, narasi audio, dan video.

5.   Berikan "bimbingan pembelajaran"

Untuk membantu pelajar memahami materi/informasi untuk penyimpanan jangka panjang, bimbingan harus diberikan bersamaan dengan penyajian materi baru. Strategi bimbingan yang bisa digunakan antara lain mencakup penggunaan contoh dan bukan contoh, studi kasus, representasi grafis, dan analogi.

6.   Melakukan kinerja (responding)

Dalam proses pembelajaran, siswa diharuskan mempraktikkan keterampilan atau perilaku baru. Melakukan unjuk kerja/kinerja memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengkonfirmasi pemahaman mereka yang benar, dan pengulangan tersebut yang selanjutnya meningkatkan kemungkinan retensi.

ü  Berikan umpan balik (provide feedback)

Karena peserta didik mempraktikkan perilaku baru, penting untuk memberikan umpan balik tertentu dan langsung dari kinerjanya.

ü  Penguatan (reinforcement)

Setelah menyelesaikan proses pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk mengambil (atau diminta untuk mengambil) penilaian akhir. Penilaian ini harus dilengkapi jawaban, umpan balik, atau petunjuk tambahan. Tingkat penguasaan yang umum diterima adalah 80% sampai 90% benar.

ü  Meningkatkan retensi dan transfer (generalisasi)

Transfer pembelajaran berfungsi meningkatkan kemampuan alih belajar kesituasi baru,  (Samuel, 2012).

 

v  Tahapan Urutan Belajar

Ada empat tahapan pembelajaran menurut Gagne (Samuel, 2012) yaitu tahapan Pengenalan, tahapan penguasaan, tahapan penyimpanan, dan tahapan pengungkapan. Berikut dipaparkan deskripsi dari setiap tahapan pembelajaran .

1)         Tahapan Pengenalan (apprehending phase)

Ini adalah kesadaran siswa akan rangsangan atau serangkaian rangsangan yang muncul dalam situasi belajar. Kesadaran atau perhatian mengarahkan siswa untuk memahami karakteristik dari rangkaian rangsangan. Apa yangdirasakan oleh siswa akan difahami dengan caranya sendiri oleh masing- masing individu dan akan tercatat dalam pikirannya. Cara istimewa di mana setiap siswa memahami rangsangan tertentu menghasilkan masalah umum dalam pembelajaran. Misalnya siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevanyang ditunjukkan oleh guru seperti “lihatlah gambar berikut ini, apakah kedua bangun datar itu sama?”.

2)         Tahapan perolehan/penerimaan (acquisition phase)

Tahap selanjutnya dalam pembelajaran adalah tahap akuisisi. Ini adalah pencapaian atau memiliki fakta, keterampilan, konsep, atau prinsip yang harus dipelajari. Akuisisi pengetahuan matematis dapat ditentukan denganmengamati atau mengukur fakta bahwa seseorang tidak memiliki pengetahuan atau perilaku yang dibutuhkan sebelum ada stimulus yang tepat, dan bahwa dia telah memperoleh pengetahuan atau perilaku yang dibutuhkan segera setelah presentasi stimulus.

3)         Tahap Penyimpanan

Setelah seseorang memperoleh kemampuan baru, ia harus dipertahankan atau diingat. Inilah tahap penyimpanan pembelajaran. Fasilitas penyimpanan manusia adalah memori, dan penelitian menunjukkan bahwa ada dua jenis memori yaitu memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi yang diterima dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Hal ini bisa dilakukan antara lain melalui pengulangan kembali, praktek, elaborasi.

4)         Tahap Mendapatkan kembali (The Retrieval Phase)

Tahap keempat pembelajaran adalah fase pencarian. Ini adalah kemampuan untuk memanggil informasi yang telah diperoleh dan disimpan di memori. Tahapan ini berfungsi untuk mengingat kembali kapabilitas prasyarat esensial untuk kegiatan belajar yang baru, proses menggali ingatan dapat dipengaruhi oleh stimulus eksternal. Pada proses ini kemungkinan peserta didik akan kehilangan hubungan dengan informasi yang ada dalam ingatan jangka panjang. Dalam keadaan demikian, pengajar harus memberikan stimulus eksternal, misalnya memberikan sedikit informasi yang relevan kemudian meminta peserta didik untuk mencari kaitannya (Akib, 2016).

Robert Gagne juga mengungkapkan delapan jenis pembelajaran yaitu signal learning, stimulus-response learning, chaining, verbal association, discrimination learning, concept learning, rule learning, and problem solving (Samuel, 2012). Berikut adalah deskripsi masing-masing jenis pembelajaran.

1) Belajar Isyarat (signal learning)

Belajar isyarat adalah pembelajaran tanpa disadari yang dihasilkan dari satu contoh saja atau sejumlah pengulangan stimulus yang akan membangkitkan respons emosional seseorang. Misalkan sikap guru yang menyenangkan sehingga membuat siswa merasa nyaman dan senangmengikuti pembelajaran dari guru tersebut.

2) Belajar Stimulus-Respon (stimulus-response learning)

Belajar Stimulus-respons juga belajar merespons suatu isyarat. Ini bersifat disengaja dan dilakukan secara fisik. Belajar stimulus respon menghendaki stimulus yang datangnya dari luar sehingga menimbulkan rangsangan otot-otot yang kemudian diiringi respon yang dikehendaki sehingga terjadi hubungan langsung yang bersesuaian antara stimulus-respon. Sebagian besar contoh pembelajaran stimulus-respons ditemukan pada anak kecil, mereka belajar mengatakan kata-kata, menggunakan alat sederhana, dan menampilkan perilaku yang dapat diterima secara sosial.

3) Belajar Rangkaian Gerak (Chaining)

Belajar rangkaian gerak adalah hubungan dari dua atau lebih tindakan stimulus-respons verbal yang telah dipelajari sebelumnya. Belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah terurut dari dua atau lebih stimulus- respon. Contoh belajar rangkaian gerak adalah mengikatkan sepatunya, membuka pintu, melempar bola, mengasah pensil, dan melukis.

Agar belajar rangkaian gerak terjadi, peserta didik sebelumnya harus mempelajari setiap hubungan stimulus-respon yang dibutuhkan. Jika setiap hubungan telah dipelajari, belajar rangkaian gerak dapat difasilitasi dengan membantu peserta didik membentuk urutan tindakan stimulus-respons yang benar untuk rangkaian tersebut.

Sebagian besar kegiatan matematika yang melibatkan manipulasi perangkat fisik seperti penggaris, jangka, dan model geometris memerlukan belajar rangkaian gerak. Belajar untuk membagi dua sudut dengan garis lurus dan jangka membutuhkan urutan dan penerapan yang tepat dari serangkaian keterampilan tipe respons stimulus yang dipelajari sebelumnya. Keterampilan yang muncul adalah kemampuan untuk menggunakan jangka untuk membuat lengkungan dan kemampuan untuk membuat garis lurus antara dua titik.

4) Belajar Rangkaian Verbal (verbal association)

Rangsangan verbal artinya, hubungan logis (merupakan perbuatan lisan) dari dua atau lebih tindakan stimulus-respons verbal yang telah dipelajari sebelumnya. Setiap stimulus respon dalam satu rangkaian berkaitan dengan stimulus respon lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama. Contoh : ketika siswa mengamati benda maka terjadilah hubungan stimulus-respon yang pertama. Keadaan ini diikuti oleh asosiasi stimulus-respon yang kedua yang memungkinkan siswa memberi nama benda tersebut. Misalnya apabila siswa melihat segitiga yang dua sudutnya ekuivalen, maka nama segitiga itu adalah segitiga sama kaki (Hudojo, 1988).

5) Belajar Memperbedakan (discrimination learning)

Belajar memperbedakan adalah belajar membedakan hubungan stimulus-respon sehingga bisa memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep dalam merespon lingkungannya. Dalam belajar memperbedakan, siswa membutuhkan keterampilan-keterampilan sederhana sehingga dapat membedakan suatu objek dengan objek lainnya, dan membedakan satu simbol dengan simbol lainnya.

Teradapat dua macam diskriminasi, yaitu (1) diskriminasi tunggal, contonya : siswa dapat menyebutkan segitiga sebagai kurva tertutup sederhana yang terbentuk dari gabungan tiga buah ruas garis; (2) diskriminasi ganda, contoh : siswa dapat menyebutkan perbedaan dua jenis segitiga berdasarkan besar sudut dan sisi-sisinya (Aisyah, Hawa, Somakin, Purwoko, Hartono, & AS, 2007).

6) Belajar Konsep (concept learning)

Belajar konsep adalah belajar untuk mengenali sifat umum benda atau peristiwa untuk mengelompokkannya menjadi satu. Agar siswa dapat belajar konsep, jenis pembelajaran prasyarat yang lebih sederhana harus terjadi. Misalnya dalam memperoleh konsep lingkaran hal pertama yang dilakukan adalah mungkin belajar mengatakan lingkaran kata sebagai hubungan stimulus- respons yang dihasilkan sendiri, sehingga siswa dapat mengulang katatersebut. Kemudian siswa dapat belajar untuk mengidentifikasi beberapa objek yang berbeda sebagai lingkaran. Selanjutnya, siswa dapat belajar membedakan antara lingkaran dan benda lainnya seperti segitiga dan kotak. Bila siswa dapat secara spontan mengidentifikasi lingkaran dalam konteks yang tidak mereka kenal, mereka telah memperoleh konsep lingkaran (Samuel, 2012).

7) Belajar aturan (rule learning)

Pembelajaran aturan adalah kemampuan untuk menanggapikeseluruhan rangkaian situasi (rangsangan) dengan serangkaian tindakan (tanggapan) keseluruhan. Aturan terbentuk berdasarkan konsep-konsep yang sudah dipelajari. Aturan merupakan pernyataan verbal dalam matematika, misalnya teorema, dalil, atau sifat-sifat. Contoh aturan dalam segitiga siku-sikuberlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrta sisi-sisi siku-sikunya.

8) Pemecahan Masalah

Seperti yang diketahui, pemecahan masalah adalah tatanan yang lebih tinggi dan tipe pembelajaran yang lebih kompleks daripada pembelajaran aturan (rule learning), dan belajar aturan merupakan prasyarat untuk pemecahan masalah. Pemecahan masalah melibatkan pemilihan dan penetapan seperangkat aturan dengan cara yang unik bagi pelajar yang menghasilkan penetapan seperangkat aturan yang lebih tinggi yang sebelumnya tidak diketahui oleh pelajar. Pemecahan masalah sebenarnya biasanya melibatkan lima langkah, yaitu:

·         Presentasi masalah dalam bentuk umum

·         Penyajian kembali masalah ke dalam definisi operasional

·         Perumusan hipotesis dan prosedur alternatif yang mungkin tepat untuk memecahkan masalah

·         Menguji hipotesis dan melaksanakan prosedur untuk mendapatkan solusi

·         Menentukan solusi yang mungkin paling tepat atau memverifikasi bahwa solusi tunggal benar (Samuel, 2012).

v  Aplikasi Teori Belajar Gagne Dalam Pembelajaran

Contoh berikut menggambarkan urutan pengajaran yang sesuai dengan sembilan pengalaman instruksional menurut Gagne.

Materi : Segiempat

1.     Menarik perhatian (Motivasi)

Siswa dimotivasi dengan memberikan pertanyaan tentang kegiatan apa saja yang pernah dilakukan sehari-hari yang berkaitan dengan bangun datar segiempat yang pernah mereka ketahui. Atau dengan menunjukkan aneka segiempat yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.

2.     Menginformasikan peserta didik tujuan belajar

Guru menjelaskan bahwa dengan belajar materi segiempat “siswa akan bisa membuat gambar bangun segiempat dan menentukan sifat-sifat dari segiempat”. Disamping itu, guru juga bisa menjelaskan bahwa dengan belajar materi ini, akan bermanfaat dikehidupan yang akan datang. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan : “Apa itu segiempat ?”

3.     Ingatkan kembali pelajaran sebelumnya.

Guru mengingatkan kembali definisi dari segiempat yang pernah mereka ketahui atau pelajari sebelumnya.

4.     Penyampaian materi.

Guru menyampaikan definisi segiempat, sifat-sifat yang dimiliki oleh segiempat.

5.     Bimbingan belajar

Guru memberikan contoh dan memandu siswa untuk bagaimana cara membuat bangun datar segiempat.

6.     Melakukan Kinerja

Guru meminta siswa untuk membuat 5 contoh segiempat yamg berbeda-beda dan menyebutkan sifat-sifatnya.

7.     Berikan umpan balik

Pada kegiatan ini, guru memeriksa semua contoh segiempat yang telah dibuat oleh siswa, tujuannya adalah untuk mengetahui yang benar dan yang salah.

8.     Berikan penilaian

Guru memberikan penilaian dari hasil kerja siswa, hasil penilaian tersebut yangdijadikan acuan untuk menentukan siswa yang tuntas dan siswa yang remedi.

9.     Tingkatkan retensi/transfer

Guru tunjukkan gambar dari beberapa objek benda kemudian meminta siswa untuk mengidentifikasi segiempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    KESIMPULAN

1.     Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara. Komponen- komponen dalam proses belajar menurut Gagne dapat digambarkan sebagai S-R. S adalah situasi yang memberi stimulus, R adalah respons atas stimulus itu. Gagne memiliki pandangan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang kegiatannya mengikuti suatu hirarki kemampuan yang dapat diobservasi atau diukur. Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi.

2.     Menurut Robert M. Gagne, ada delapan tipe belajar, yaitu: belajar isyarat (signal learning), belajar stimulus – respons ( stimulus respons learning), belajar rangkaian (chaining), asosiasi verbal (verbal assosiation), belajar diskriminasi (discrimination learning), belajar konsep (concept learning), belajar aturan (rule learning), dan belajar pemecahan masalah ( problem solving learning).

3.     Menurut Gagne, ada lima jenis hasil belajar. Kelima kategori hasil belajar tersebut adalah Informasi verbal (Verbal information), Kemahiran intelektual (Intellectual skill), Pengaturan kegiatan kognitif (Cognitive strategy), Keterampilan motorik (Motor skill), dan Sikap (attitude).

4.     Menurut Gagne, belajar melalui empat fase utama yaitu: fase pengenalan (apprehending phase), fase perolehan (acqusition phase), fase penyimpanan (storage phase), dan fase pengungkapan kembali (retrieval phase). Menurut Gagne, fase pertama dan kedua merupakan stimulus, dimana terjadinya proses belajar,sedangkan  pada fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar. Kemudian fase-fase belajar lainnya adalah fase motivasi, fase generalisasi (generalization phase), fase penampilan (performance phase), dan fase umpan balik ( feedback phase).

5.     Implikasi atau penerapan teori Gagne dapat diterapkan diberbagai bidang pembelajaran , namun untuk menerapkan teori Gagne harus memenuhi Sembilan Kondisi Intruksional Gagne yang telah dibahas sebelumnya. Jika ada satu diantara Sembilan Kondisi Instruksional Gagne yang tidak diterapkan maka teori Gagne gagal dalam penerapannya.

6.    Teori belajar menurut Gagne memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan teori Gagne yaitu mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran, memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan, cocok untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, serta dapat dikendalikan. Sedangkan kekurangan teori belajar menurut Gagne adalah pembelajaran hanya berpusat pada guru (teacher centered learning), komunikasi berlangsung satu arah, hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur, serta murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.

 

B.     SARAN

Dari materi yang telah dibahas secara rinci tersebut, kiranya diharapkan agar pemerintah, masyarakat serta lainnya yang berhubungan dengan dunia pendidikan lebih mengerti dan memahami bagaimana terciptanya pendidikan yang baik, yaitu salah satunya dengan menerapkan teori belajar Gagne agar peserta didik dapat menambah pemahaman mengenai materi-materi yang diajarkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Begle,  E.  G.  (1979).  Critical  Variables  in  Mathematics Education. NCTM Amerika

Bell,  Federick  H  (1981).  Teaching  And  Learning Mathematics (In  Secondari School). Wnc Brown  Comp. Publishers, IOWA USA. 

Bell  Gredler,  Margaret  E  (1994).  Belajar  Dan Membelajarkan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Darwis,  muhammad  (1994).  Hubungan  Persepsi  Terhadap Efektifitas  Pengajaran  Dosen,  Sikap  Terhadap  Kalkulus Dan  Penguasaan Logika  Elementer  Dengan Kemampuan Pemahaman Konsep Kalkulus Pada FPMIPA IKIP Ujung Pandang  (Tesis  S-2)  PSS  IKIP  Malang  Di  IKIP Surabaya

 

Gagne  (1997).  The  Conditions  Of  Learning  (Edisi  Ketiga). Holt, Rinehart And Winston, New York USA.

Gagne, Robert M And Briggs Leslie J. (1997). Principles Of Intruction, Prentice Hall, Rinehart And Winston, New York USA. 

Gagne, Robert  M And Perkins Driscool (1998).  Essentials Of Learning For Intructions. Prentice Hall, New Jersey Usa.

MAKALAH KEPRAMUKAAN :P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI

  Cover MAKALAH KEPRAMUKAAN   P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI   Dosen pengampuh matakul...