Dalam mempelajari ilmu pendididkan, sering dikemukakan
pertanyaan berupa ”mengapa seseorang perlu belajar?” untuk menjawab pertanyaan
ini, sepertinya kita sependapat bahwa di dunia ini tak ada makhluk hidup yang
ketika baru dilahirkan dapat melakukan segala sesuatu dengan sendirinya, begitu
juga dengan manusia. Sejak ia bayi, bahkan ketika dewasa pun, ia pasti
membutuhkan bantuan orang lain.
Jika bayi manusia yang baru dilahirkan tidak mendapat
bantuan dari manusia dewasa lainnya, tentu ia akan binasa. Ia tidak mampu hidup
sebagai manusia jika ia tidak dididik oleh manusia. Oleh karena itu, manusia
disebut sebagai makhluk sosial. Selain itu, manusia juga makhluk berbudaya,
sehingga belajar merupakan kebutuhan yang vital sejak manusia dilahirkan.
Manusia selalu memerlukan dan melakukan perbuatan belajar kapan saja dan dimana
saja ia berada.
Banyak ilmuan yang telah menemukan teori belajar. Salah
satu teori belajar tersebut adalah teori belajar dari Robert M. Gagne, yang
akan kami bahas dalam maklah ini.
1.
Bagaimana belajar menurut pandangan
Gagne?
2.
Apa saja tipe-tipe belajar menurut Gagne ?
3.
Apa saja jenis-jenis belajar menurut Gagne ?
4.
Apa saja fase-fase belajar menurut Gagne ?
5.
Bagaimana implikasi dan aplikasi teori
Gagne dalam pembelajaran?
6.
Apa saja kelebihan dan kekurangan teori Gagne ?
1.
Untuk mengetahui dan memahami belajar menurut pandangan
Gagne.
2.
Untuk mengetahui tipe-tipe belajar menurut Gagne.
3.
Untuk mengetahui jenis-jenis belajar menurut Gagne.
4.
Untuk mengetahui fase-fase belajar menurut Gagne.
5.
Untuk mengetahui dan memahami implikasi dan aplikasi teori
Gagne dalam pembelajaran.
6.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan teori Gagne.
Robert
Mills Gagne yang lahir pada 21 Agustus 1916 adalah seorang psikolog pendidikan
Amerika yang terkenal dengan teori Conditions of Learning. Menurut Gagne,
tatanan pembelajaran yang lebih tinggi pada prinsipnya dibangun melalui tingkat
pembelajaran yang lebih rendah. Dia menyatakan ada beberapa perbedaan tipe atau
tingkatan belajar. Untuk itu perlu diklasifikasikan karena berbeda tipe atau
tingkatan belajar maka berbeda pula jenis instruksinya (Samuel, 2012).
Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang memungkinkan
seseorang merubah tingkah lakunya secara permanen, oleh karena itu perubahan
tingkah laku yang terjadi dihasilkan dari perubahan struktur dalam diri
seseorang. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar akan terjadi apabila
seseorang berinterkasi dengan lingkungannya (Hudojo, 1988).
Gagne mengidentifikasi tipe pembelajaran terdiri dari lima yaitu :
informasi lisan, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan
keterampilanmotorik. Kondisi internal dan eksternal yang berbeda diperlukan
untuk setiap jenis pembelajaran. Misalnya, untuk strategi kognitif yang harus
dipelajari, harus ada kesempatan untuk berlatih mengembangkan solusi baru untuk
masalah. Untuk mempelajari sikap, pelajar harus dihadapkan pada model peran
yang kredibel atau argumen persuasif
(Samuel, 2012).
Menurut Gagne ada dua objek pembelajaran matematika yaitu objek
langsung (direct objects) dan objek tidak langsung (indirect objects). Objek
langsung pembelajaran matematika adalah fakta, keterampilan, konsep, dan
prinsip. Sedangkan yang termasuk objek tidak langsung diantaranya adalah
berpikir logis, kemampuan memecahkan masalah, ketekunan, ketelitian, kemampuan
inquiry, disiplin diri, dan sikap positif
terhadap matematika. Kemampuan- kemampuan tersebut adalah kemampuan yang
secara tak langsung akan dipelajari siswa ketika mereka mempelajari objek
langsung matematika. Objek langsung pembelajaran matematika yaitu fakta,
keterampilan, konsep, dan prinsip adalah empat kategori yang konten
matematisnya dapat dipisahkan (Shadiq, 2008)
1. Fakta
Fakta
matematika adalah konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti simbol
matematika, aturan dalam matematika. Contoh: fakta bahwa “2” adalah simbol
untuk dua, “+” adalah simbol untuk operasi penjumlahan, dan sinus itu adalah
nama yang diberikan pada fungsi khusus dalam trigonometri. Fakta dipelajari
melalui berbagai teknik belajar seperti hafalan, latihan, permainan, dan
pertandingan matematika. Orang-orang dianggap telah belajar fakta ketika mereka
dapat menyatakan fakta dan menggunakannya dengan tepat sesuai dengan situasi.
2. Konsep
Konsep dalam matematika adalah
gagasan abstrak yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan objek atau
peristiwa dan untuk menentukan apakah objek dan peristiwa itu merupakan contoh
atau bukan contoh. Contohyang merupakan konsep matematika adalah himpunan,
himpunan bagian, persamaan, ketidaksetaraan, segitiga, kubus, radius, dan
eksponen.
Seseorang yang telah
mempelajari konsep segitiga akan mampu mengelompokkan kumpulan gambar atau
benda yang merupakan segitiga dan non- segitiga, jika dia sudah mengetahui
konsep dari segitiga. Konsep dapat dipelajari baik melalui definisi atau
pengamatan langsung.
3. Prinsip
Prinsip
adalah Objek matematis yang paling kompleks. Prinsip adalahurutan konsep
bersama dengan hubungan antara konsep-konsep ini, atau Prinsip adalah suatu
pernyataan yang memuat hubungan antara dua konsep atau lebih. Pernyataan
berikut adalah contoh prinsip.
·
Dua segitiga adalah kongruen jika
dua sisi dan sudut yang termasuk satusegitiga sama dengan dua sisi dan sudut
yang termasuk sudut yang lain.
·
Rumus luas segitiga adalah L = ½ .
a . t
Pada rumus luas segitiga di atas, didapati adanya beberapa konsep yang
digunakan, yaitu konsep luas, konsep panjang alas segitiga dan konsep tinggi
segitiga.
Prinsip
dapat dipelajari melalui proses penyelidikan ilmiah, pelajaran penemuan
terpandu, diskusi kelompok, penggunaan strategi pemecahan masalah, dan
demonstrasi. Seorang siswa telah mempelajari prinsip-prinsip ketika dia dapat
mengidentifikasi konsep yang termasuk dalam prinsip, meletakkan konsep-konsep
itu dalam hubungan yang benar satu sama lain, dan menerapkan prinsip pada
situasi tertentu.
4. Keterampilan
Keterampilan
dalam matematika adalah kemampuan dalam menyelesaikan masalah matematika dengan
kecepatan dan ketepatan. Misalkan pembagian dengan cara panjang, penjumlahan
dengan menyimpan, dan siswa diminta untuk menentukan hasil dari 345 × 87 tanpa
menggunakan kalkulator.
Keterampilan dipelajari melalui demonstrasi dan berbagai jenis latihan
seperti lembar kerja, bekerja di papan tulis, aktivitas kelompok dan permainan.
Siswa telah menguasai keterampilan ketika mereka dengan benar dapat menunjukkan
keterampilan dengan memecahkan berbagai jenis masalah yang membutuhkan
keterampilan atau dengan menerapkan keterampilan dalam berbagai situasi
(Samuel, 2012).
Sebagaimana tokoh-tokoh dalam psikologi pembelajaran, Gagne
berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun
yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan
individu seseorang meliputi lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai
lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang akan menentukan apa yang
akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan menentukan akan menjadi apa
ia nantinya.
Bagi Gagne, belajar tidak
dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam
pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan
perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap,
perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap
meskipun hanya sementara.
Kematangan menurut Gagne,
bukanlah belajar sebab perubahan tingkah laku yang terjadi dihasilkan dari
pertumbuhan struktur dan diri manusia itu sendiri. Dengan demikian belajar
terjadi bila individu merespon terhadap stimulus yang datangnya dari luar sedangkan
kematangan datangnya memang dari dalam diri orang itu. Perubahan tingkah laku
yang tetap sebagai hasil belajar harus terjadi bila orang tersebut berinteraksi
dengan lingkungannya.
Komponen- komponen dalam
proses belajar menurut Gagne dapat digambarkan sebagai S-R. S adalah situasi
yang memberi stimulus, R adalah respons atas stimulus itu, dan
garis di antaranya adalah hubungan diantara stimulus dan respon yang terjadi
dalam diri seseorang yang tidak dapat kita amati yang berkaitan dengan sistem
alat saraf dimana terjadi transformasi perangsang yang diterima melalui alat
indera. Stimulus ini merupakan input yang berada di luar individu dan
respon adalah outputnya yang juga berada di luar individu sebagai hasil
belajar yang dapat diamati.
Robert M. Gagne merupakan
salah seorang penganut aliran psikologi tingkah laku. Gagne memiliki pandangan
bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang kegiatannya mengikuti suatu
hirarki kemampuan yang dapat diobservasi atau diukur. Oleh karena itu, teori
belajar yang dikemukakan Gagne dikenal sebagai Teori Hirarki Belajar. Teori
hirarki belajar ditemukan oleh Rober M. Gagne
yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks
pada proses belajar manusia.
Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif.
Analisanya dimulai dari
identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus
dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Orton dalam Warsita Hirarki belajar
menurut Gagne harus disusun dari atas ke bawah atau top down. Dimulai
dengan menempatkan kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi
salah satu tujuan dalam proses pembelajaran dipuncak hirarki belajar tersebut,
diikuti kemampuan, keterampilan atau pengetahuan prasyarat yang harus mereka
kuasai lebih dahulu agar mereka berhasil mempelajari keterampilan atau
pengetahuan diatasnya. Hirarki ini juga memungkinkan prasyarat yang berbeda
untuk kemampuan yang berbeda pula.
Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar,
yaitu individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan
aksi sebagai akibat dari stimulasi. Selanjutnya, Gagne juga mengemukakan
tentang sistematika delapan tipe belajar, sistematika lima jenis belajar,
fase-fase belajar, implikasi dalam pembelajaran, serta aplikasi dalam
pembelajaran.
Menurut Robert M. Gagne, ada
8 tipe belajar, yaitu:
a. Belajar Isyarat (Signal
Learning)
Bentuk pembelajaran yang paling sederhana, dan
pada dasarnya terdiri dari pengkondisian klasik yang pertama kali dijelaskan
oleh psikolog perilaku Pavlov.
Dalam hal ini, subjek 'dikondisikan' untuk
memancarkan respons yang diinginkan sebagai akibat stimulus yang biasanya tidak
menghasilkan respons tersebut.
Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu
mengekspos subjek pada stimulus yang dipilih (dikenal sebagai stimulus
terkondisi) bersamaan dengan stimulus lain (dikenal sebagai stimulus tak
berkondisi) yang menghasilkan respons yang diinginkan secara alami; Setelah
sejumlah pengulangan stimulus ganda, ditemukan bahwa subjek memancarkan respons
yang diinginkan saat terkena stimulus terkondisi sendiri.
Penerapan pengkondisian klasik dalam
memfasilitasi pembelajaran manusia sangat terbatas.Belajar isyarat mirip
dengan conditioned respons atau respon bersyarat. Seperti menutup mulut
dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, isyarat
untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat,
sedangkan diam dan datang adalah
respons.
Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan
merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur
dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya
bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.
b. Belajar Stimulus – Respons (
Stimulus Respons Learning)
Bentuk pembelajaran yang agak canggih ini, yang
juga dikenal sebagai pengkondisian operan, pada awalnya dikembangkan oleh
Skinner. Ini melibatkan pengembangan obligasi stimulus-respons yang diinginkan
dalam subjek melalui jadwal penguatan yang direncanakan dengan hati-hati
berdasarkan penggunaan 'penghargaan' dan 'hukuman'. Pengondisian operan berbeda
dari pengkondisian klasik karena agen penguat ('hadiah' atau 'hukuman')
disajikan setelah respon. Tipe pengkondisian inilah yang membentuk dasar
pembelajaran terprogram dalam berbagai manifestasinya.Berbeda dengan belajar
isyarat, respons bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe belajar S – R,
respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. Mencium
bau masakan sedap, keluar air liur, itupun ikatan S-R. Setiap respons dapat
diperkuat dengan reinforcement.
c. Belajar Rangkaian (Chaining)
Bentuk pembelajaran yang lebih maju dimana
subjek mengembangkan kemampuan untuk menghubungkan dua atau lebih ikatan
stimulus-respons yang dipelajari sebelumnya ke dalam urutan yang terkait. Ini
adalah proses dimana keterampilan psikomotor yang paling kompleks (misalnya
mengendarai sepeda atau bermain piano) dipelajari.
d. Asosiasi Verbal (Verbal
Assosiation)
Asosiasi verbal dalah bentuk chaining dimana
hubungan antara item yang terhubung bersifat verbal. Asosiasi verbal adalah
salah satu proses kunci dalam pengembangan kemampuan bahasa. Contoh suatu
kalimat “unsur itu berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang
dapat menyatakan bahwa unsur berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai
bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal
terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu
mengikuti yang lain.
e. Belajar Diskriminasi
(Discrimination Learning)
Pembelajaran ini melibatkan pengembangan
kemampuan untuk membuat tanggapan yang sesuai (berbeda) terhadap serangkaian
rangsangan serupa yang berbeda secara sistematis. Prosesnya dibuat lebih
kompleks (dan karenanya lebih sulit) oleh fenomena gangguan, dimana satu hal
belajar menghambat yang lain. Gangguan dianggap salah satu penyebab utama
lupa.Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti
membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
f.
Belajar Konsep (Concept Learning)
Melibatkan pengembangan kemampuan untuk membuat
respons yang konsisten terhadap rangsangan yang berbeda yang membentuk kelas
atau kategori umum. Ini membentuk dasar kemampuan untuk menggeneralisasi,
mengklasifikasikan dll.Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari
hasil membuat tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang
bertulang belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia,
reptilia, amphibia, burung, ikan. Kemampuan
membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat melakukan
diskriminasi.
g. Belajar Aturan (Rule
Learning)
Proses kognitif tingkat tinggi yang melibatkan
kemampuan untuk mempelajari hubungan antara konsep dan menerapkan hubungan ini
dalam situasi yang berbeda, termasuk situasi yang sebelumnya tidak dihadapi.
Ini menjadi dasar pembelajaran peraturan umum, prosedur, dll.Tipe belajar ini
banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika
dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan 180o. Setiap
dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.
h. Belajar Pemecahan Masalah ( Problem Solving
Learning)
Tingkat tertinggi proses kognitif menurut
Gagné. Ini melibatkan pengembangan kemampuan untuk menciptakan aturan,
algoritma, atau prosedur yang kompleks untuk memecahkan satu masalah tertentu,
dan kemudian menggunakan metode untuk memecahkan masalah lain yang serupa.
Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan
menghubungkan berbagai urusan yang relevan dengan masalah itu. Dalam pemecahan
masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat adakalanya lama. Juga seringkali
harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu, mencari hubungannya dengan
aturan (rule) tertentu.
Dalam segala langkah diperlukan pemikiran.
Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan tiba-tiba. Dengan ulangan-ulangan
masalah tidak terpecahkan, dan apa yang dipecahkan sendiri-yang penyelesaiannya
ditemukan sendiri lebih mantap dan dapat
ditransfer kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah
memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.
Terdapat lima jenis
hasil belajar atau yang bisa disebut dengan sistematika “ lima jenis belajar”. Sistematika ini tidak jauh berbeda dengan sistematika delapan tipe
belajar, dimana isinya merupakan bentuk penyederhanaan dari sistematika delapan
tipe belajar. Uraian tentang sistematika lima jenis belajar ini memperhatikan
pada hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar ini merupakan kemampuan
internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang
tersebut melakukan sesuatu yang dapat memberikan ptrestasi tertentu.
Sistematika ini mencakup semua hasil belajar
yang dapat diperoleh, namun tidak menunjukkan setiap hasil belajar atau
kemampuan internal satu-persatu. Akan tetapi mengelompokkan hasil-hasil belajar
yang memiliki ciri-ciri sama dalam satu kategori dan berbeda sifatnya dari
kategori lain. Maka dapat dikatakan, bahwa sistematika Gagne meliputi lima
kategori hasil belajar. Kelima kategori hasil belajar tersebut
adalah Informasi verbal, Kemahiran intelektual, Pengaturan kegiatan
kognitif, Keterampilan motorik, dan Sikap.
a.
Informasi Verbal (Verbal
Information)
Merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang
dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan, dan tertulis. Pengetahuan
tersebut diperoleh dari sumber yang juga menggunakan bahasa, lisan maupun
tertulis. Informasi verbal meliputi ”cap verbal” dan ”data/fakta”. Cap verbal
yaitu kata yang dimiliki seseorang untuk menunjuk pada obyek-obyek yang
dihadapi, misalnya ’kursi’. Data/fakta adalah kenyataan yang diketahui,
misalnya ’Ibukota negara Indonesia adalah Jakarta’.
b.
Kemahiran Intelektual
(Intellectual Skill)
Adalah kemampuan untuk berhubungan dengan
lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya
konsep dan berbagai lambang/simbol (huruf, angka, kata, dan gambar). Kategori
kemahiran intelektual terbagi lagi atas empat subkemampuan, yaitu:
ü Diskriminasi jamak: yaitu kemampuan seseorang dalam mendeskripsikan
benda yang dilihatnya.
ü Konsep:yaitu satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang memiliki
ciri-ciri sama. Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus
didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada obyek-obyek
dalam lingkungan fisik. Konsep yang didefinisiskan adalah konsep yang mewakili
realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan
hidup fisik.
ü Kaidah: yaitu kemampuan seseorang untuk menggabungkan dua konsep atau
lebih sehingga dapat memahami pengertiannya.
ü Prinsip: yaitu telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga
terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks.
Berdasarkan prinsip tersebut, seseorang mampu memecahkan suatu permasalahan,
dan kemudian menerapkan prinsip tersebut pada permasalahan yang sejenis.
c.
Pengaturan Kegiatan Kognitif
(Cognitive Strategy)
Merupakan suatu cara seseorang untuk menangani
aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri, sehingga ia menggunakan cara yang
sama apabila menemukan kesulitan yang sama.
d.
Keterampilan Motorik (Motor Skill)
Adalah kemampuan seseorang dalam melakukan
suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan
koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.
e.
Sikap (Attitude)
Merupakan kemampuan seseorang yang sangat
berperan sekali dalam mengambil tindakan, apakah baik atau buruk bagi dirinya
sendiri.
Menurut Gagne, belajar
melalui empat fase utama yaitu:
1.
Fase Pengenalan (Apprehending Phase)
Pada fase ini siswa memperhatikan stimulus
tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk
kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. Dengan kata lain pada fase
ini, rangsang diterima oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah.
Pertama timbulnya perhatian, kemudian penerimaan, dan terakhir adalah
pencatatan (dicatat dalam jiwa tentang apa yang sudah diterimanya). Ini berarti
bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai
akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang
unik yang dia terima pada situasi belajar.
2.
Fase Perolehan
(Acqusition Phase)
Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan baru (dapat berupa fakta,
keterampilan, konsep atau prinsip) dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan
pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk
asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama. Pemilikan
pengetahuan dapat ditentukan dengan mengamati atau mengukur apa yang telah
dimilikinya itu. Hal ini perlu dilakukan di dalam proses belajar mengajar agar
supaya guru dapat mengetahui apa yang telah dimiliki dan apa yang belum
dimiliki.
3.
Fase Penyimpanan
(Storage Phase)
Fase storage/retensi adalah fase penyimpanan informasi.
Sarana menyimpan bagi manusia adalah ingatan (memory). Penelitian
mengindikasikan bahwa terdapat dua tipe memori, yaitu memori jangka pendek
(short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory).
Memori
jangka pendek mempunyai kapasitas terbatas dan hanya bertahan dalam waktu
singkat. Banyak orang dapat menahan (menyimpan) tujuh atau delapan informasi
berbeda dalam memori selama tiga puluh detik. Memori jangka panjang adalah
kemampuan kita mengingat informasi selama lebih dari tiga puluh detik, dan ini
disimpan dalam pikiran secara permanen.
Gagne mendeskripsikan beberapa ciri yang
mungkin dimiliki fase ini, sebagai berikut.
ü Apa
yang telah dipelajari mungkin tersimpan di dalam suatu bentuk yang permanen,
tetap intens selama bertahun-tahun.
ü Beberapa
hal yang dipelajari mungkin memudar sedikit demi sedikit sejalan dengan
berlalunya waktu.
ü Gudang
ingatan mungkin mengalami pencampuradukan dalam arti ingatan yang baru
mengaburkan ( atau mungkin menghapus) yang terlebih dulu karena mereka
bercampur baur.
Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori
jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan
kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya. Sesuatu yang telah
dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat digunakan bila
diperlukan dan kemampuan baru yang telah diperoleh dipertahankan atau
diingat. Fase
ini berhubungan dengan ingatan dan kenangan.
4.
Fase Pengungkapan
Kembali (Retrieval Phase)
Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil
kembali informasi yang ada dalam memori. Apa yang telah dipelajari, dimiliki,
dan disimpan (dalam ingatan) dengan maksud untuk digunakan (memecahkan masalah)
bila diperlukan, baik itu yang menyangkut fakta, keterampilan, konsep, maupun
prinsip. Jika kita akan menggunakan apa yang disimpan, maka kita harus
mengeluarkannya dari tempat penyimpanan tersebut, dan inilah yang disebut
dengan pengungkapan kembali.
Kadang-kadang dapat
saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan hubungan dengan memori
jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu informasi yang baru dan yang
lama disusun secara terorganisasi, diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan
menjadi katagori, konsep sehingga lebih mudah dipanggil. Misalnya kadang-kadang
informasi yang diinginkan, misalnya “nama”, tidak dapat dipanggil keluar dari
memori atas permintaan seseorang, tetapi kemudian mungkin saja ke luar pada
saat orang itu memikirkan sesuatu yang tidak ada kaitan dengan “nama” tadi. Fase ini meliputi
penyadaran akan apa yang telah dipelajari dan dimiliki, serta mengungkapkannya
dengan kata-kata (verbal) apa yang telah dimiliki tidak berubah-ubah.
Jadi bagian
penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah
dipelajari, untuk memangil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
Menurut Gagne, fase pertama dan kedua merupakan stimulus,
dimana terjadinya proses belajar,sedangkan pada fase ketiga dan keempat merupakan
hasil belajar. Keempat fase belajar manusia ini
telah disatukan menyerupai model sistem komputer, meskipun sedikit lebih
kompleks daripada yang ada pada manusia. komputer menangkap rangsangan listrik
dari pengguna komputer, memperoleh stimulus dalam central processing unit,
menyimpan informasi dalam stimulus pada salah satu bagian memori, dan
mendapatkan kembali informasi pada penyimpanannya.
Contoh kasus : jika siswa mempelajari prosedur menentukan nilai pendekatan akar
kuadrat dari bilangan yang bukan kuadrat sempurna, mereka harus memahami
metode, memperoleh metode, menyimpan di dalam memori, dan memanggil kembali
ketika dibutuhkan.
Untuk membantu siswa melangkah maju melalui
empat tahap dalam mempelajari algoritma akar kuadrat, guru menimbulkan
pemahaman dengan mengerjakan suatu contoh pada papan tulis, memudahkan akusisi
setelah setiap siswa mengerjakan contoh dengan mengikutinya, langkah demi
langkah, daftar petunjuk, membantu penyimpanan dengan memberikan soal-soal
untuk pekerjaan rumah, dan memunculkan pemanggilan kembali dengan memberikan
kuis pada hari berikutnya.
Kemudian
fase-fase belajar lainnya adalah sebagai berikut:
1.
Fase
Motivasi
Siswa (yang belajar) harus diberi
motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah.
Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi
keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau
dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik.
2.
Fase Generalisasi
(Generalization Phase)
Tujuan belajar bukanlah sekedar untuk menambah
pengetahuan atau mengubah kelakuan, akan tetapi agar apa yang dipelajari itu
dapat digunakan dalam berbagai situasi lain, sehingga mantap dan dapat terus
digunakan. Menggunakan apa yang dipelajari dalam situasi-situasi
yang baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya disebut transfer. Menurut
Gagne, konteks yang bervariasi untuk belajar merupakan suatu hal yang esensial
yang dapat menjamin terjadinya transfer dalam proses belajar.
Transfer dapat bersifat horizontal, yakni apa yang dipelajari itu dapat
digunakan untuk situasi-situasi lain yang bersamaan dan setaraf tingkatnya.
Misalnya prinsip-prinsip yang dipelajari dalam matematika dapat digunakan dalam
ilmu bumi, fisika, atau kimia. Di samping itu ada lagi transfer vertikal. Apa
yang dipelajari dapat digunakan untuk mencapai prinsip yang lebih tinggi.
3.
Fase Penampilan
(Performance Phase)
Dalam
fase ini, siswa menampilkan tindakan/tingkah laku yang merefleksikan apa yang
sudah ia pelajari. Tingkah laku baru yang ditampilkan sebagai hasil belajar
ini, penting bagi siswa karena akan memberikan kepuasan, dan selanjutnya akan
mendorongnya untuk belajar lebih lanjut. Fase ini memberikan gambaran apakah
tujuan belajar telah tercapai atau belum.
4.
Fase Umpan Balik
( Feedback Phase)
Para siswa memperoleh umpan balik
tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum
mengerti tentang apa yang diajarkan. Belajar tidak dengan sendirinya berhasil baik. Oleh sebab itu pelajar harus
mengetahui apakah jawabannya tepat. Feedback pada manusia merupakan
tanda bahwa jawabannya benar. Di sini pun tak perlu selalu dikatakan bahwa
jawabannya itu benar. Sering anak mengetahuinya dari senyuman, anggukan kepala,
pandangan mata guru atau isyarat lain. Feedback mempertinggi
efektivitas dan efisiensi belajar.
Feedback dapat juga dilakukan
oleh murid sendiri, yakni bila ia dapat atau diberi jalan untuk memeriksa
sendiri benar tidaknya jawabannya. Mengetahui keberhasilan belajar memberi
kepuasan yang mempercepat proses belajar. Siswa yang sanggup men-check kebenaran
hasil belajarnya telah sanggup untuk belajar secara individual dan belajar
sepanjang hidupnya. Tidak ada metode mengajar yang menjamin keberhasilan.
Keberhasilan baru diketahui bila ada penilaian yang dapat menunjukkan
kesalahan dan kekurangan sebagai feedback untuk diperbaiki. Mengabaikan
feedback adalah meniadakan salah satu aspek yang penting dalam proses belajar.
Ada
beberapa pendekatan dan langkah-langkah agar bisa menerapkan teori Gagne dalam
proses pembelajaran. Berikut merupakan konsep Sembilan Kondisi Intruksional
Gagne yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menerapkan teroi Gagne dalam
pembelajaran:
1.
Mengarahkan Perhatian
Kegiatan ini merupakan proses guru dalam memberikan
stimulus kepada siswa dengan cara meyakinkan siswa bahwa mempelajari materi
tersebut itu penting. Hal ini bisa dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan
ringan seputar materi yang akan disajikan.
2.
Memberikan Informasi Tujuan
Pembelajaran
Dalam hal ini guru harus mengupayakan untuk memberitahu
siswa akan tujuan pembelajaran. Sehingga siswa mengetahui tujuan dari materi
pembelajaran yang dipelajarinya. Ini sangat penting dilakukan agar siswa lebih
termotivasi untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran.
3.
Merangsang siswa untuk mengingat
kembali apa yang telah dipelajari
Upaya merangsang siswa dalam mengingat materi yang lalu
bisa dilakukan dengan cara bertanya tentang materi yang telah diajarkan.
4.
Menyajikan stimulus
Menyajikan stimulus bisa dilakukan dengan cara guru
menyajikan materi pembelajaran secara menarik dan menantang. Sehingga siswa
merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung.
5.
Memberikan bimbingan kepada siswa
Pada konsep ini guru harus membimbing siswa dalam proses
belajarnya. Sehingga siswa dapat terarah dalam pembelajarannya.
6.
Memancing Kinerja
Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan
latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari itu.
7.
Memberikan balikan
Memberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan
kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak.
8.
Menilai hasil belajar
Menilai hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada
murid untuk mengetahui apakah ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu
dengan memberikan beberapa soal.
9.
Mengusahakan transfer
Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh
tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat
menggunakannya dalam situasi-situasi lain.
G.
Kelebihan dan Kekurangan
Teori Belajar Menurut Gagne
a. Kelebihan Teori Belajar Menurut Gagne yaitu :
1.
Mendorong
guru untuk merencanakan pembelajaran
Teori Gagne mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran
yang akan dilakukan. Sehingga pembelajaran menjadi lebih terarah dan terstruktur.
Selain itu agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi sebaik mungkin.
Dimana inti dari kegiatan pembelajaran adalah menyajikan cirri-ci
stimulis,memberikan pedoman belajar,memunculkan kinerja,dan memberikan
tanggapan dan umpan balik.
2.
Memperoleh
kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan
Teori Gagne sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang
membutuhkan prakrik dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti
kecepatan spontanitas kelenturan reflek, dan daya tahan. menurut gagne
rancangan pembelajaran untuk keterampilan yang kompleks menyajikan peristiwa
pembelajaran untuk urutan keterampilan yang ada dalam prosedur dan hirarki
belajar.
3.
Cocok
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa
Menyajikan stimulus bisa dilakukan dengan cara guru
menyajikan materi pembelajaran secara menarik dan menantang. Sehingga siswa
merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini
dapat dilakukan langsung bagi siswa pendidikan dasar.
4.
Dapat
dikendalikan
Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami
dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang
diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya. Mulai dari
identifikasi kapabilitas yang akan dipelajari, analisis tugas atas tujuan,
pemilihan peristiwa pembelajaran yang cocok, semua dapat disusun. Sehingga
pembelajaran yang diinginkan dapat dikendalikan guru agar mendapatkan hasil
yang maksimal. Pada teori ini, analisis tugas merupakan kunci bagi pengajaran
yang efektif. Untuk mengajarkan tugas apapun, paling tidak guru harus
memastikan bahwa semua komponen yang diperlukan telah dipelajari, yaitu bisa
jadi mensyaratkan pengajaran-pengajaran setiap komponen pembelajaran.
b. Sedangkan kekurangan teori belajar menurut Gagne
yaitu :
1.
Pembelajaran hanya berpusat pada guru (teacher centered learning),
dimana guru bersifat otoriter.
2.
Komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa
yang harus dipelajari murid.
3.
Hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur.
4.
Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan
menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
v Pengalaman
Instruksi (Events Of Instruction) Menurut
Gagne
1.
Menarik Perhatian atau Motivasi (reception)
Agar setiap pembelajaran berlangsung
dengan baik, hal yang pertama perlu dilakukan oleh guru adalah
menarik perhatian siswa.
Cara yang lebih baik untuk
menarik perhatian siswa adalah dengan
memulai setiap pelajaran
dengan sebuah pertanyaan atau
fakta menarik. Keingintahuan memotivasisiswa untuk belajar.
2.
Menginformasikan peserta
didik tujuan belajar
(expectancy)
Expectasi ini berfungsi mengantar
siswa untuk mengetahui tujuan belajar,
orientasi tujuan yang sudah terbentuk pada tahap ini membuat siswa dapat memilih hasil apa yang akan
dikuasai. Pada awal setiap pelajaran, siswa
harus mengetahui tujuan
pembelajaran. Ini akan menjadi acuan dan membantu
memotivasi peserta didik untuk menyelesaikan pelajaran. Tujuan ini harus menjadi dasar penilaian dalam proses pembelajaran. Biasanya, tujuan pembelajaran disajikan dalam bentuk
"Setelah menyelesaikan pelajaran
ini, Anda akan bisa ..."
3.
Mengingatkan kembali
pembelajaran sebelumnya (retrieval)
Mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya dapat mempermudah proses pembelajaran. Akan lebih mudah bagi siswa untuk memahami dan menyimpan informasi dalam
ingatan jangka panjang bila ada hubungan
dengan pengalaman dan pengetahuan pribadinya. Cara sederhana untuk merangsang ingatan
adalah mengajukan pertanyaan tentang pengalaman sebelumnya, pemahaman tentang konsep sebelumnya, atau isi konten.
4.
Penyampaian Materi
(Present the content)
Pada
penyampaian materi ini adalah guru menyampaikan atau menagajarkan materi baru kepada siswa. Materi harus kemas dan diorganisasikan secara bermakna, dan biasanya dijelaskan dan kemudian ditunjukkan. Agar pembelajaran menarik beragam
media harus digunakan jika memungkinkan,
termasuk teks, grafik, narasi audio, dan video.
5.
Berikan "bimbingan pembelajaran"
Untuk membantu pelajar memahami
materi/informasi untuk penyimpanan jangka panjang, bimbingan
harus diberikan bersamaan dengan penyajian
materi baru. Strategi bimbingan yang bisa digunakan antara lain mencakup penggunaan contoh dan bukan
contoh, studi kasus, representasi grafis, dan analogi.
6.
Melakukan kinerja
(responding)
Dalam proses pembelajaran, siswa diharuskan mempraktikkan keterampilan atau perilaku
baru. Melakukan unjuk kerja/kinerja memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk mengkonfirmasi pemahaman mereka yang benar, dan pengulangan tersebut
yang selanjutnya meningkatkan kemungkinan retensi.
ü Berikan umpan balik (provide
feedback)
Karena peserta didik mempraktikkan
perilaku baru, penting untuk memberikan umpan balik tertentu dan langsung dari
kinerjanya.
ü Penguatan (reinforcement)
Setelah menyelesaikan proses
pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk mengambil (atau diminta untuk
mengambil) penilaian akhir. Penilaian ini harus dilengkapi jawaban, umpan
balik, atau petunjuk tambahan. Tingkat penguasaan yang umum diterima adalah 80%
sampai 90% benar.
ü Meningkatkan retensi dan
transfer (generalisasi)
Transfer pembelajaran berfungsi
meningkatkan kemampuan alih belajar kesituasi baru, (Samuel, 2012).
v Tahapan Urutan Belajar
Ada empat tahapan pembelajaran
menurut Gagne (Samuel, 2012) yaitu tahapan Pengenalan, tahapan penguasaan,
tahapan penyimpanan, dan tahapan pengungkapan. Berikut dipaparkan deskripsi
dari setiap tahapan pembelajaran .
1) Tahapan
Pengenalan (apprehending phase)
Ini adalah kesadaran siswa akan
rangsangan atau serangkaian rangsangan yang muncul dalam situasi belajar.
Kesadaran atau perhatian mengarahkan siswa untuk memahami karakteristik dari
rangkaian rangsangan. Apa yangdirasakan oleh siswa akan difahami dengan caranya
sendiri oleh masing- masing individu dan akan tercatat dalam pikirannya. Cara
istimewa di mana setiap siswa memahami rangsangan tertentu menghasilkan masalah
umum dalam pembelajaran. Misalnya siswa memperhatikan aspek-aspek yang
relevanyang ditunjukkan oleh guru seperti “lihatlah gambar berikut ini, apakah
kedua bangun datar itu sama?”.
2) Tahapan
perolehan/penerimaan (acquisition phase)
Tahap selanjutnya dalam pembelajaran
adalah tahap akuisisi. Ini adalah pencapaian atau memiliki fakta, keterampilan,
konsep, atau prinsip yang harus dipelajari. Akuisisi pengetahuan matematis
dapat ditentukan denganmengamati atau mengukur fakta bahwa seseorang tidak
memiliki pengetahuan atau perilaku yang dibutuhkan sebelum ada stimulus yang
tepat, dan bahwa dia telah memperoleh pengetahuan atau perilaku yang dibutuhkan
segera setelah presentasi stimulus.
3) Tahap
Penyimpanan
Setelah seseorang memperoleh
kemampuan baru, ia harus dipertahankan atau diingat. Inilah tahap penyimpanan
pembelajaran. Fasilitas penyimpanan manusia adalah memori, dan penelitian
menunjukkan bahwa ada dua jenis memori yaitu memori jangka pendek dan memori
jangka panjang. Informasi yang diterima dipindahkan dari memori jangka pendek
ke memori jangka panjang. Hal ini bisa dilakukan antara lain melalui
pengulangan kembali, praktek, elaborasi.
4) Tahap
Mendapatkan kembali (The Retrieval Phase)
Tahap keempat pembelajaran adalah
fase pencarian. Ini adalah kemampuan untuk memanggil informasi yang telah
diperoleh dan disimpan di memori. Tahapan ini berfungsi untuk mengingat kembali
kapabilitas prasyarat esensial untuk kegiatan belajar yang baru, proses
menggali ingatan dapat dipengaruhi oleh stimulus eksternal. Pada proses ini
kemungkinan peserta didik akan kehilangan hubungan dengan informasi yang ada
dalam ingatan jangka panjang. Dalam keadaan demikian, pengajar harus memberikan
stimulus eksternal, misalnya memberikan sedikit informasi yang relevan kemudian
meminta peserta didik untuk mencari kaitannya (Akib, 2016).
Robert Gagne juga
mengungkapkan delapan jenis pembelajaran yaitu signal learning,
stimulus-response learning, chaining, verbal association, discrimination
learning, concept learning, rule learning, and problem solving (Samuel, 2012).
Berikut adalah deskripsi masing-masing jenis pembelajaran.
1) Belajar Isyarat (signal learning)
Belajar isyarat adalah pembelajaran
tanpa disadari yang dihasilkan dari satu contoh saja atau sejumlah pengulangan
stimulus yang akan membangkitkan respons emosional seseorang. Misalkan sikap
guru yang menyenangkan sehingga membuat siswa merasa nyaman dan senangmengikuti
pembelajaran dari guru tersebut.
2) Belajar Stimulus-Respon (stimulus-response learning)
Belajar Stimulus-respons juga belajar
merespons suatu isyarat. Ini bersifat disengaja dan dilakukan secara fisik.
Belajar stimulus respon menghendaki stimulus yang datangnya dari luar sehingga
menimbulkan rangsangan otot-otot yang kemudian diiringi respon yang dikehendaki
sehingga terjadi hubungan langsung yang bersesuaian antara stimulus-respon.
Sebagian besar contoh pembelajaran stimulus-respons ditemukan pada anak kecil,
mereka belajar mengatakan kata-kata, menggunakan alat sederhana, dan
menampilkan perilaku yang dapat diterima secara sosial.
3) Belajar Rangkaian Gerak (Chaining)
Belajar rangkaian gerak adalah
hubungan dari dua atau lebih tindakan stimulus-respons verbal yang telah
dipelajari sebelumnya. Belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah
terurut dari dua atau lebih stimulus- respon. Contoh belajar rangkaian gerak
adalah mengikatkan sepatunya, membuka pintu, melempar bola, mengasah pensil,
dan melukis.
Agar belajar
rangkaian gerak terjadi, peserta didik sebelumnya harus mempelajari setiap
hubungan stimulus-respon yang dibutuhkan. Jika setiap hubungan telah
dipelajari, belajar rangkaian gerak dapat difasilitasi dengan membantu peserta
didik membentuk urutan tindakan stimulus-respons yang benar untuk rangkaian
tersebut.
Sebagian besar
kegiatan matematika yang melibatkan manipulasi perangkat fisik seperti
penggaris, jangka, dan model geometris memerlukan belajar rangkaian gerak.
Belajar untuk membagi dua sudut dengan garis lurus dan jangka membutuhkan
urutan dan penerapan yang tepat dari serangkaian keterampilan tipe respons
stimulus yang dipelajari sebelumnya. Keterampilan yang muncul adalah kemampuan
untuk menggunakan jangka untuk membuat lengkungan dan kemampuan untuk membuat
garis lurus antara dua titik.
4) Belajar Rangkaian Verbal (verbal association)
Rangsangan verbal artinya, hubungan
logis (merupakan perbuatan lisan) dari dua atau lebih tindakan stimulus-respons
verbal yang telah dipelajari sebelumnya. Setiap stimulus respon dalam satu
rangkaian berkaitan dengan stimulus respon lainnya yang masih dalam rangkaian
yang sama. Contoh : ketika siswa mengamati benda maka terjadilah hubungan
stimulus-respon yang pertama. Keadaan ini diikuti oleh asosiasi stimulus-respon
yang kedua yang memungkinkan siswa memberi nama benda tersebut. Misalnya
apabila siswa melihat segitiga yang dua sudutnya ekuivalen, maka nama segitiga
itu adalah segitiga sama kaki (Hudojo, 1988).
5) Belajar Memperbedakan (discrimination learning)
Belajar memperbedakan adalah belajar
membedakan hubungan stimulus-respon sehingga bisa memahami bermacam-macam objek
fisik dan konsep dalam merespon lingkungannya. Dalam belajar memperbedakan,
siswa membutuhkan keterampilan-keterampilan sederhana sehingga dapat membedakan
suatu objek dengan objek lainnya, dan membedakan satu simbol dengan simbol
lainnya.
Teradapat dua
macam diskriminasi, yaitu (1) diskriminasi tunggal, contonya : siswa dapat
menyebutkan segitiga sebagai kurva tertutup sederhana yang terbentuk dari
gabungan tiga buah ruas garis; (2) diskriminasi ganda, contoh : siswa dapat
menyebutkan perbedaan dua jenis segitiga berdasarkan besar sudut dan
sisi-sisinya (Aisyah, Hawa, Somakin, Purwoko, Hartono, & AS, 2007).
6) Belajar Konsep (concept learning)
Belajar konsep adalah belajar untuk
mengenali sifat umum benda atau peristiwa untuk mengelompokkannya menjadi satu.
Agar siswa dapat belajar konsep, jenis pembelajaran prasyarat yang lebih
sederhana harus terjadi. Misalnya dalam memperoleh konsep lingkaran hal pertama
yang dilakukan adalah mungkin belajar mengatakan lingkaran kata sebagai
hubungan stimulus- respons yang dihasilkan sendiri, sehingga siswa dapat
mengulang katatersebut. Kemudian siswa dapat belajar untuk mengidentifikasi
beberapa objek yang berbeda sebagai lingkaran. Selanjutnya, siswa dapat belajar
membedakan antara lingkaran dan benda lainnya seperti segitiga dan kotak. Bila
siswa dapat secara spontan mengidentifikasi lingkaran dalam konteks yang tidak
mereka kenal, mereka telah memperoleh konsep lingkaran (Samuel, 2012).
7) Belajar aturan (rule learning)
Pembelajaran aturan adalah kemampuan
untuk menanggapikeseluruhan rangkaian situasi (rangsangan) dengan serangkaian
tindakan (tanggapan) keseluruhan. Aturan terbentuk berdasarkan konsep-konsep
yang sudah dipelajari. Aturan merupakan pernyataan verbal dalam matematika,
misalnya teorema, dalil, atau sifat-sifat. Contoh aturan dalam segitiga
siku-sikuberlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrta sisi-sisi
siku-sikunya.
8) Pemecahan Masalah
Seperti yang diketahui, pemecahan
masalah adalah tatanan yang lebih tinggi dan tipe pembelajaran yang lebih
kompleks daripada pembelajaran aturan (rule learning), dan belajar aturan
merupakan prasyarat untuk pemecahan masalah. Pemecahan masalah melibatkan
pemilihan dan penetapan seperangkat aturan dengan cara yang unik bagi pelajar
yang menghasilkan penetapan seperangkat aturan yang lebih tinggi yang
sebelumnya tidak diketahui oleh pelajar. Pemecahan masalah sebenarnya biasanya
melibatkan lima langkah, yaitu:
·
Presentasi masalah dalam bentuk umum
·
Penyajian kembali masalah ke dalam definisi operasional
·
Perumusan hipotesis dan prosedur alternatif yang mungkin
tepat untuk memecahkan masalah
·
Menguji hipotesis dan melaksanakan prosedur untuk mendapatkan
solusi
·
Menentukan solusi yang mungkin paling tepat atau
memverifikasi bahwa solusi tunggal benar (Samuel, 2012).
v Aplikasi Teori Belajar Gagne Dalam Pembelajaran
Contoh berikut menggambarkan urutan
pengajaran yang sesuai dengan sembilan pengalaman instruksional menurut Gagne.
Materi : Segiempat
1. Menarik perhatian (Motivasi)
Siswa dimotivasi dengan memberikan
pertanyaan tentang kegiatan apa saja yang pernah dilakukan sehari-hari yang
berkaitan dengan bangun datar segiempat yang pernah mereka ketahui. Atau dengan
menunjukkan aneka segiempat yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menginformasikan peserta didik tujuan belajar
Guru menjelaskan bahwa dengan belajar
materi segiempat “siswa akan bisa membuat gambar bangun segiempat dan
menentukan sifat-sifat dari segiempat”. Disamping itu, guru juga bisa
menjelaskan bahwa dengan belajar materi ini, akan bermanfaat dikehidupan yang
akan datang. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan : “Apa itu segiempat ?”
3. Ingatkan kembali pelajaran sebelumnya.
Guru mengingatkan kembali definisi
dari segiempat yang pernah mereka ketahui atau pelajari sebelumnya.
4. Penyampaian materi.
Guru menyampaikan definisi segiempat,
sifat-sifat yang dimiliki oleh segiempat.
5. Bimbingan belajar
Guru memberikan contoh dan memandu
siswa untuk bagaimana cara membuat bangun datar segiempat.
6. Melakukan Kinerja
Guru meminta siswa untuk membuat 5
contoh segiempat yamg berbeda-beda dan menyebutkan sifat-sifatnya.
7. Berikan umpan balik
Pada kegiatan ini, guru memeriksa
semua contoh segiempat yang telah dibuat oleh siswa, tujuannya adalah untuk
mengetahui yang benar dan yang salah.
8. Berikan penilaian
Guru memberikan penilaian dari hasil
kerja siswa, hasil penilaian tersebut yangdijadikan acuan untuk menentukan
siswa yang tuntas dan siswa yang remedi.
9. Tingkatkan retensi/transfer
Guru tunjukkan gambar dari beberapa
objek benda kemudian meminta siswa untuk mengidentifikasi segiempat.
1. Bagi Gagne, belajar tidak
dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam
pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan
perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap,
perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap
meskipun hanya sementara. Komponen- komponen dalam proses belajar menurut Gagne
dapat digambarkan sebagai S-R. S adalah situasi yang memberi stimulus, R adalah
respons atas stimulus itu. Gagne memiliki pandangan bahwa belajar merupakan
perubahan tingkah laku yang kegiatannya mengikuti suatu hirarki kemampuan yang
dapat diobservasi atau diukur. Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu
individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan aksi sebagai
akibat dari stimulasi.
2. Menurut Robert M. Gagne, ada delapan tipe
belajar, yaitu: belajar isyarat (signal learning), belajar stimulus – respons (
stimulus respons learning), belajar rangkaian (chaining), asosiasi verbal
(verbal assosiation), belajar diskriminasi (discrimination learning), belajar
konsep (concept learning), belajar aturan (rule learning), dan belajar
pemecahan masalah ( problem solving learning).
3. Menurut Gagne, ada lima jenis hasil
belajar. Kelima kategori hasil belajar tersebut adalah Informasi verbal (Verbal
information), Kemahiran intelektual (Intellectual skill), Pengaturan kegiatan
kognitif (Cognitive strategy), Keterampilan motorik (Motor skill), dan Sikap
(attitude).
4. Menurut Gagne, belajar melalui empat fase
utama yaitu: fase pengenalan (apprehending phase), fase perolehan (acqusition
phase), fase penyimpanan (storage phase), dan fase pengungkapan kembali
(retrieval phase). Menurut Gagne, fase pertama dan kedua merupakan stimulus,
dimana terjadinya proses belajar,sedangkan
pada fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar. Kemudian fase-fase
belajar lainnya adalah fase motivasi, fase generalisasi (generalization phase),
fase penampilan (performance phase), dan fase umpan balik ( feedback phase).
5. Implikasi atau penerapan teori Gagne dapat
diterapkan diberbagai bidang pembelajaran , namun untuk menerapkan teori Gagne
harus memenuhi Sembilan Kondisi Intruksional Gagne yang telah dibahas
sebelumnya. Jika ada satu diantara Sembilan Kondisi Instruksional Gagne yang tidak
diterapkan maka teori Gagne gagal dalam penerapannya.
6. Teori belajar menurut Gagne memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan teori Gagne yaitu mendorong guru untuk
merencanakan pembelajaran, memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan
kebiasaan, cocok untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran
orang dewasa, serta dapat dikendalikan. Sedangkan kekurangan teori belajar
menurut Gagne adalah pembelajaran hanya berpusat pada guru (teacher centered
learning), komunikasi berlangsung satu arah, hanya berorientasi pada hasil yang
diamati dan diukur, serta murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan
guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang
efektif.
Dari materi yang
telah dibahas secara rinci tersebut, kiranya diharapkan agar pemerintah,
masyarakat serta lainnya yang berhubungan dengan dunia pendidikan lebih
mengerti dan memahami bagaimana terciptanya pendidikan yang baik, yaitu salah
satunya dengan menerapkan teori belajar Gagne agar peserta didik dapat menambah
pemahaman mengenai materi-materi yang diajarkan
Begle, E.
G. (1979). Critical
Variables in Mathematics Education. NCTM Amerika
Bell, Federick
H (1981). Teaching
And Learning Mathematics (In Secondari School). Wnc Brown Comp. Publishers, IOWA USA.
Bell Gredler,
Margaret E (1994).
Belajar Dan Membelajarkan. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Darwis, muhammad
(1994). Hubungan Persepsi
Terhadap Efektifitas
Pengajaran Dosen, Sikap
Terhadap Kalkulus Dan Penguasaan Logika Elementer
Dengan Kemampuan Pemahaman Konsep Kalkulus Pada FPMIPA IKIP Ujung
Pandang (Tesis S-2)
PSS IKIP Malang
Di IKIP Surabaya
Gagne (1997).
The Conditions Of
Learning (Edisi Ketiga). Holt, Rinehart And Winston, New York
USA.
Gagne,
Robert M And Briggs Leslie J. (1997). Principles Of Intruction, Prentice Hall,
Rinehart And Winston, New York USA.
Gagne,
Robert M And Perkins Driscool
(1998). Essentials Of Learning For
Intructions. Prentice Hall, New Jersey Usa.