MANAJEMEN KELAS
Pengaturan ruang kelas
Dosen pengampu:
Ibu. Riana puspita
sarie S.pd,,M.pd
DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 3
1. ATI B. WAMBRAUW
2. MARSYAH
C. AWOM
3. MARSELIN.
RUMBRAPUK
4. NOVELA
WANMA
5. HERMON
RUMAKIEK
6. THERESIA
BAAB
PROGRAM STUDI
GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
CENDERAWASIH
TAHUN 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjantkan kehadirat Tuhan yang maha esa,
yang atas berkatnya sehingga dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul ” PENGATURAN RUANG KELAS”” . penulisan makalah
ini merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah MANAJEMEN
KELAS di universitas cendrawasih.
Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan
baik pada Teknik penulisan maupun
materi,mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran
dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini
Dalam penulisan makalah ini kami mengucapkan terimah kasih
yang sebesar besarnya kepada pihak pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya
kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini
Uncen biak/04/042023
i
Daftar isi
Kata
pengantar………………………………………………………………………………………………………………………………….i
Daftar
isi……………………………………………………………………………………………………………………………………………ii
Bab 1 pendahuluhan
A.
Latar belakang……………………………………………………………………………………………………………………..1
B.
Rumusan
masalah………………………………………………………………………………………………………………..1
C.
Tujuan penelitian
…………………………………………………………………………………………………………………1
D.
Manfaat
penelitian……………………………………………………………………………………………………………..
Bab 2 pembahasan
A.
Pentingnya pengaturan ruang kelas dalam
pembelajaran……………………………………………………3
B.
Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk
belajar………………………………………………………….8
C.
Mengatur
ruang…………………………………………………………………………………………………………………..10
Bab 3 penutup
A.
Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………………………..12
B.
Saran………………………………………………………………………………………………………………………………….12
C.
Daftar
Pustaka……………………………………………………………………………………………………………………14
ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pengaturan ruang kelas adalah Proses seleksi dan penggunaan
alat –alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas. Ini berarti guru
bertugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem / organisasi kelas.
Sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuanya, bakatnya, dan energinya
pada tugas –tugas individual. Pengaturan ruang kelas merupakan upaya dalam
mendayagunakan potensi kelas. Karena itu, kelas mempunyai peranan dan fungsi
tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif. Maka agar
memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas
harus dikelola sebaik –baiknya oleh guru.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian pengaturan ruang kelas?
2. Bagaimana kondisi ruangan kelas yang aman
dan nyaman?
3. Faktor apa yang mempengaruhi lingkungan
tehadap proses pembelajaran?
4. Bagaimana lingkungan fisik kelas yang
baik?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Memberi pengetahuan tentang pengaturan
ruang kelas.
2. Bisa menata kondisi ruangan kelas yang
aman dan nyaman.
3. Memberi pengetahuan tentang pengaruh
lingkungan terhadap proses pembelajaran.
4. Memotivasi siswa untuk menciptakan
lingkungan kelas yang baik.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari
pengaturan ruang kelas.
2. Memberikan kondisi ruangan kelas yang
aman dan nyaman.
3. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan
terhadap pembelajaran.
4. Untuk menciptakan lingkungan kelas yang
baik.
1
BAB 2 PEMBAHASAN
A.
Pengaturan Ruang Kelas dalam Pembelajaran
1, Ruang kelas
merupakan ruang khusus yang disediakan bagi anak didik untuk
mengikuti kegiatan pembelajaran.
2. Gaya/metode
mengajar
Guru yang mengajar dengan gaya atau metode yang menarik akan
menjadikan siswa tertarik dan senang mengikuti PBM. Misalnya proses
belajar-mengajar (PBM) dilaksanakan dengan metode sersan (serius tapi santai).
Setiap empat puluh menit misalnya, diselingi dengan intermezo sehingga siswa
akan merasa terhibur.
3. Penguasaan bahan ajar
Menguasai bahan ajar atau materi pembelajaran sangat penting
bagi guru. Guru yang menguasai materi pembelajaran akan leluasa dan luwes dalam
pelaksanaan PBM. Ia bisa melakukan berbagai improvisasi dalam menyajikan materi
pembelajaran yang tentu saja dapat menjadi daya tarik bagi siswa.
4. Pengelolaan kelas
Guru harus bisa melakukan pengelolaan kelas yang baik dan
berkesinambungan. Dalam pelaksanaan PBM, seringkali didapatkan siswa yang
kerjanya hanya menganggu temannya atau mengerjakan sesuatu yang tidak
berhubungan dengan materi pembelajaran yang disajikan. Di sinilah perlunya
seorang guru memiliki kemampuan dalam pengelolaan kelas. Tegurlah siswa dengan
bijak dan sedikit gaya ironi agar siswa tetap merasa nyaman meski mendapat
teguran.
5. Volume suara saat menyajikan materi pelajaran
Suara atau vokal angat penting dalam menyajikan materi
pelajaran. Proses penyampaian informasi atau materi pembelajaran kepada siswa
akan menjadi jelas bila diiringi dengan volume suara yang tinggi dan
bervariasi. Dengan volume suara yang tinggi, siswa yang duduk paling belakang
pun akan jelas mendengar materi yang disampaikan oleh guru. Bahkan siswa yang
akan mengantuk dapat hilang rasa kantuknya jika volume suara gurunya
bervariasi.
D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menjadi
guru yang profesional dan spesial itu tidaklah sulit. Dengan kesungguhan dan
kemantapan hati, predikat guru profesional dan spesial di mata siswa akan dapat
diraih. Sekarang tergantung pada pribadi kita masing-masing, mau atau tidak
meraih predikat tersebut.
3
Sesuai dengan perkembangannya, anak memiliki banyak
idealisme, angan-angan, atau keinginan yang hendak diwujudkannya. Namun,
sesungguhnya anak-anak itu belum memiliki banyak kemampuan untuk melakukannya.
Keterbatasan pemikiran pada anak-anak salah satu penyebab kurangnya kemampuan
dalam mewujudkan keinginannya itu. Akibat dari kurangnya kemampuan berpikir,
anak-anak menjadi bergerak atau bertindak sesuai nalurinya. Anak-anak kadang
menjadi liar karena adanya dorongan nalurinya untuk melihat, meraba, dan merasakan
segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.
Pada usia 2 – 5 tahun sifat hiperaktif anak terlihat dari
perilaku anak yang tidak bisa tinggal diam. Mereka akan terus bergerak dan
bergerak melakukan aktivitas yang tidak kunjung selesai. Anak yang hiperaktif
akan membuat orang tua atau pengasuhnya menjadi capek karena harus mengikuti
kemana anak pergi dan terus mengawasi aktivitas anak. Pengawasan harus melekat
pada anak hiperaktif mengingat mereka memiliki pemikiran yang masih terbatas.
Dengan demikian, tentu mereka tidak bisa membedakan mana yang berbahaya dan
mana yang tidak berbahaya.Mereka baru mengetahui sesuatu itu berbahaya atau
tidak setelah mencobanya.
Anak yang hiperaktif harus mendapat pengawasan ekstraketat.
Anak yang hiperaktif rawan mengalami hal-hal yang berbahaya jika tidak selalu
diawasi atau dipantau setiap kegiatan yang dilakukannya. Semua benda yang
ditemui biaanya akan diraba, diangkat, atau digoyang-goyangkan untuk mengetahui
jenis benda tersebut. Anak yang hiperaktif memiliki sifat keinginantahuan yang
tinggi. Oleh karena itu, anak yang hiperaktif sudah harus diberi pembinaan
sejak masih balita atau masa prasekolah.
Pada masa usia prasekolah, anak hiperaktif biasanya tambah
mulai menjadi-jadi. Hal ini karena anak sudah mulai lepas dari lingkungan
rumah, pelukan dan pengawasan ibu, atau pengawasan pengasuh mereka. Lingkungan
pergaulan menjadi lebih luas dan mulai mendapatkan banyak teman. Selanjutnya,
tanggung jawab pengawasan pada anak, sudah mulai berpindah kepada guru di
sekolah. Oleh karena itu, seorang guru yang mendapatkan anak hiperaktif harus
memiliki teknik pengawasan dan pembinaan yang tepat. Ia harus mengetahui cara
mengatasi anak yang hiperaktif agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung
dengan baik dan lancar.
Anak yang hiperaktif jika tidak dibina dengan baik akan
menjadi anak yang menghambat pelaksanaan pembelajaran di kelas. Sifat tidak
bisa tinggal diam pada anak tersebut akan menjadikan teman-teman lainnya ikut
terpancing dan melakukan aktivtas yang sama dengan anak yang hiperaktif
tersebut. Hal ini tentu akan menjadikan kelas tambah ramai dan tidak kondusif
untuk kegiatan pembelajaran.
Mengatur lingkungan fisik bagi pengajaran merupakan titik
mula yang logis untuk pengelolaan ruang kelas karena hal ini merupakan subuah tugas
yang dihadapi semua guru sebelum kegiatan kelas dimulai. Banyak guru merasa
lebih mudah merencanakan aspek pengelolaan kelas non-fisik dibandingkan harus
mengatur lingkungan kelas dalam mendukung dan mencapai tujuan pembelajaran.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam mengatur ruang kelas umum di tingat
Sekolah Dasar yang mempunyai banyak instrument dan perabotan, seperti: meja
guru dan siswa, rak buku, lemari buku, kursi guru dan siswa, serta lemari
arsip. Mungkin juga ada peralatan elektronik seperti: proyektor, komputer,
speaker atau audio, selain itu juga ada alat bantu visualisasi seperti: papan
tulis, white board, papan bulletin, diagaram, peta dll. Terakhir guru juga
memberikan sentuhan personal bagi sebuah ruang kelas seperti: tanaman, aquarium,
dan beberapa pernak-pernik hasil karya siswa.
4
Pengaturan ruangan yang akan dilakukan guru dapat
mengkomunikasikan kepada siswa bagaimana guru mengharapkan kepada semua anggota
kelas untuk turut serta dalam mengelola kelas. Filosofi guru mengenai
pembelajaran akan mempengaruhi bagaimana cara guru dalam mengatur setiap
komponen pada ruang kelas. Meja dan kursi yang diatur secara berkelompok
mengisyaratkan bahwa interaksi dan kalaborasi diantara siswa memfasilitasi
beberapa kegiatan aktif yang hendak dicapai. Meja tulis yang diatur berurutan
mengindikasikan bahwa fokus dari ruang kelas adalah sang guru, papan tulis atau
beberapa titik pusat perhatian lainnya.
Pengaturan ruang kelas merupakan bentuk dari kemampuan guru
dalam memanajemen kelas dan menciptakan iklim pembelajaran yang baik bagi
siswa. Ruang kelas bukanlah wilayah yang sangat luas bagi siswa hingga puluhan
orang berinteraksi selama periode waktu yang lama selama 5-8 jam sehari. Guru
dan siswa akan selalu terlibat dalam berbagai kegiatan dalam menggunakan
berbagai wilayah ruang yang berbeda dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru
akan selalu memfasilitasi kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan baik jika guru
mengatur ruang kelas untuk memungkinkan pergerakan yang teratur, mempertahankan
distraksi seminimal mungkin, dan menggunakan ruang yang tersedia secara
efisien.
Menurut Carolyn & Edmund (2015:4) ada 4 kunci bagi guru
untuk melakukan pengaturan ruang kelas yang baik, yaitu:
Jadikanlah wilayah sirkulasi dan mobilitas siswa tinggi dan
bebas dari kemacetanPastikan setiap siswa dapat dipantau dengan mudah oleh guru
Menjaga agar instrument pengajaran yang sering digunakan dan perlengkapan siswa
mudah diakses Pastikan bahwa para siswa dapat dengan mudah melihat persentasi
dan tampilan seisi kelas Menerapkan tiap-tiap komponen dalam 4 kunci tersebut
akan membantu guru dalam merancang pengaturan ruang kelas sehingga dapat
menciptakan iklim pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa.
Komponen-komponen di atas dapat diaplikasikan guru dengan memperhatikan
beberapa aspek penting pengaturan ruang kelas seperti:
1. Pengaturan Ruang Dinding dan Langit-Langit
Ruang dinding dan papan bulletin menyedikan tempat untuk
memfasilitasi dalam menampilkan/ruang display hasil karya-karya siswa dan instrument
yang relevan dengan pembelajaran seperti; tugas-tugas yang diberikan guru,
peraturan kelas, jadwal pelajaran, piket kelas, jam dinding, pernak-pernik
hiasan dinding dan hal menarik lainnya. Adapun ruang langit-langit juga bisa
digunakan untuk menggantung benda-benda hasil karya siswa, dekorasi dan
benda-benda yang bisa dipindah-pindahkan untuk mempercantik ruang kelas.
2. Pengaturan Ruang lantai
Salah satu titik mula yang baik bagi rencana pengaturan
lantai ruang kelas adalah menentukan dimana guru dan siswa akan
menyelenggarakan pembelajaran kelas dengan duduk di kursi, berdiri atau duduk
di lantai dengan suasana yang santai. Maka guru harus menyediakan tempat/ tata
letak ruang yang luas untuk siswa dapat berkumpul di lantai dalam pembelajaran
5
3. Pengaturan Meja & Kursi Siswa
Guru harus menentukan pengaturan tempat duduk yang dibuat
bervariasi untuk menciptakan suasana baru dan menarik bagi siswa. Meja tulis
siswa dapat diatur berkelompok, berjajar, berbaris, melingkar, setengah
lingkaran, tapal kuda dsb. Disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai.
4. Pengaturan Lemari Buku dan Material Pembelajaran
Lemari buku yang berisi materi, bahan ajar/buku pelajaran
sebaiknya diletakkan dimana tidak menghalangi dan menghambat siswa dalam mengakses.
Maka letaknya harus mudah dilihat, diakses dan diawasi dengan mudah serta tidak
menghalangi jalan. Pertimbangan menggunakan lemari dorong lebih efektif untuk
menyimpan buku pelajaran dan material lainnya yang mungkin harus dipindahkan
dari posisi satu ke posisi lain yang mudah dilihat.
5. Pengaturan Berkas Portofolio Siswa
Setiap siswa mempunyai dokumen portofolio yang berisi
tugas-tugas dan pekerjaan mereka selama di kelas, maka guru harus menempatkan
portofolio siswa di tempat yang mudah dijangkau atau ditemukan dalam susunan
alfabet, seperti ditempel di tembok kelas yang Panjang, atau di lemari kaca
transparan.
6. Pengaturan Meja Tulis & Perlengkapan Guru
Prinsip pengaturan meja tulis guru dapat diatur menghadap
para siswa dan pastikan mereka dapat melihat guru dari tempat duduknya. Bukan
keharusan meja tulis guru berada di depan meja tulis siswa, karena beberapa
guru lebih suka menempatkan meja tulis mereka dibelakang ruangan dibandingkan
di depan. Adapun perlengkapan guru sebaiknya disimpan di meja tulisnya sendiri
dan selalu memperhatikan Batasan perlengkapan pada setiap tahun ajaran.
7. Pengaturan Benda-Benda Musiman/Jarang Digunakan
Hiasan bertemakan hari libur atau musiman, tampilan
bulletin, proyek khusus, busur derajat, material seni tertentu, dan
perlengkapan sains yang digunakan pada beberapa keadaan tertentu dapat disimpan
di lemari belakang ruangan untuk mengefektifkan penggunaan dan tata letak
barang.
Menurut Suharsimi Arikunto (2008:304) dalam tata ruang
kelas, guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam bertindak dan
memanfaatkan sesuatu, diantaranya: (1) menata tempat duduk siswa, (2) menata
alat peraga yang ada di dalam kelas, (3) menata kedisiplinan siswa, (4) menata
pergaulan siswa, (5) menata tugas siswa, (6) menata ruang fisik kelas, (7)
menata kebersihan dan keindahan kelas, (8) menata kelangkapan kelas, dan (9)
menata pajangan kelas.
Tata ruang kelas sendiri merupakan upaya yang dilakukan oleh
guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan
pengaturan siswa dan barang/fasilitas pembelajaran. Selain itu, tata ruang
kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan memelihara tingkah laku siswa yang
dapat mendukung proses pembelajaran (Djamarah, 2006).
6
Sehingga tujuan pokok mengatur menata ruang kelas adalah
untuk menciptakan dan mengarahkan kegiatan siswa serta mencegah munculnya
tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk,
perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya di dalam kelas. Di samping itu,
beberapa tujuan tata ruang kelas secara khusus dapat disimpulkan, diantaranya
yaitu:
Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai
lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkingkan siswa
untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. Menghilangkan berbagai
hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajar. Menyediakan
dan mengatur fasilitas perabot kelas yang mendukung dan memungkinkan siswa
belajar sesuai lingkungan, sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam
kelas. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,
budaya, serta sifat-sifat individunya.
Lingkungan belajar menjadi hal yang berpengaruh terhadap
pembelajaran anak. Dimana lingkungan belajar yang kondusif menjadi faktor
penting untuk memaksimalkan kesempatan belajar bagi anak. Lingkungan belajar
yang dimaksud yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses
pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif artinya kondisi yang benar-benar
nyaman serta mendukung kegiatan belajar mengajar.
Adapun proses pembelajaran yaitu interaksi antara peserta
didik dengan lingkungannya, sehingga terjadilah proses informasi menjadi
keterampilan, pengetahuan dan sikap pada diri anak sebagai hasil dari proses
pembelajaran.
Lingkungan belajar menurut Saroni (2006) dan Kusmoro (2008),
terdiri dari dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik merupakan sarana fisik yang berada di sekitar siswa saat
belajar. Contoh sarana fisik yang ada di lingkungan sekolah yaitu, ruang kelas
belajar di sekolah sarana dan prasarana kelas, pengudaraan, alat atau media
belajar, pencahayaan, pewarnaannya, pajangan hingga penataannya.
Sedangkan lingkungan sosial merupakan kondisi atau situasi
interaksi yang terjadi saat proses pembelajaran, mulai dari pola interaksi
antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber pembelajaran
dan lainnya. Untuk menciptakan lingkungan sosial yang baik, maka diperlukan
interaksi yang proporsional antara siswa dengan guru ketika kegiatan
pembelajaran berlangsung.
Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa untuk
menumbuhkan minat atau memotivasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Lingkungan belajar harus difasilitasi untuk merefleksikan ekspektasi tinggi
dalam meraih kesuksesan anak secara individu. Lingkungan belajar juga menjadi
situasi yang dapat direkayasa oleh guru untuk mengefektifkan proses
pembelajaran.
Kondisi atau lingkungan pembelajaran yang kondusif wajib
diterapkan, untuk memaksimalkan kegiatan belajar mengajar. Lalu, bagaimana cara
menciptakan lingkungan yang kondusif?
7
B. menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar
Lingkungan pembelajaran yang kondusif memang tidak tercipta
dengan sendirinya. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan lingkungan ini
dapat direalisasikan dengan baik. Berikut ini merupakan 7 tips membangun
lingkungan yang kondusif dalam pembelajaran, di antaranya yaitu:
1. Menata Ruang Kelas Belajar
Untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif,
diperlukan penataan ruang kelas yang baik dan tepat. Pasalnya ruang kelas
merupakan lingkungan utama untuk menciptakan kegiatan belajar dan mengajar yang
menyenangkan. Ruang belajar yang bersih, nyaman dan tertata dengan rapi akan
mendukung pembelajaran lebih baik.
Menata ruang kelas merupakan tugas bersama antara siswa
dengan wali kelas yang bersangkutan. Pihak sekolah juga bisa berkontribusi
untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, misalnya dengan mengadakan lomba
kebersihan kelas secara berkala. Perlombaan tersebut memacu anak untuk
menciptakan ruangan kelas yang bersih, rapi dan nyaman.
Menata ruang kelas bukan hanya menjajarkan kursi dan meja
dengan teratur, melainkan melengkapinya dengan administrasi kelas, seperti
denah tempat duduk, jadwal pelajaran, struktur kelas dan lain sebagainya.
Tambahkan juga beberapa aksesoris di dinding kelas untuk menciptakan suasana
yang menyenangkan, misalnya dengan menempelkan lukisan hasil siswa atau kalimat
positif yang memotivasi belajar siswa.
2.Suasana Belajar dan Mengajar
Setelah menciptakan ruang kelas yang kondusif, selanjutnya
yaitu menciptakan suasana belajar dan mengajar yang menyenangkan. Ada beberapa
faktor yang mendukung suasana belajar dan mengajar lebih menyenangkan, mulai
dari cara mengajar guru, mood siswa, lingkungan dalam kelas dan lainnya. Meskipun
begitu, guru berperan penting untuk menciptakan suasana yang menggairahkan dan
memacu siswa semangat belajar.
Guru yang simpatik dan demokratis memungkinkan suasana
belajar yang kondusif tercipta. Dimana hasil belajar siswa dihargai, sehingga
siswa tidak takut merasa salah ketika menjawab pertanyaan atau bertanya kepada
guru.
Suasana belajar dan mengajar yang menyenangkan membuat siswa
menjadi semangat belajar dan pembelajaran akan lebih bermakna. Sehingga,
pembelajaran tidak selalu dinilai dari perolehan angka yang tinggi.
3.Lingkungan Luar Kelas
Meskipun siswa melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam
kelas, namun lingkungan luar kelas juga
berpengaruh terhadap proses pembelajaran siswa. Lingkungan luar kelas yang
kondusif membuat siswa belajar dengan baik, namun sebaliknya, jika lingkungan
luar tidak kondusif dan terjadi masalah maka konsentrasi siswa akan terganggu.
8
Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang baik, diperlukan
kerjasama yang baik antar pihak yang bersangkutan mulai dari siswa, guru,
kepala sekolah, staff hingga petugas pembersihan. Bangunlah komunikasi yang
baik dengan pihak yang terkait. Lingkungan sekolah juga menjadi acuan penilaian
kualitas sekolah, sehingga harus dijaga dengan baik.
4. Komunikasi dan Hubungan Sosial
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di ruang kelas
bersifat intern, di mana guru memiliki wewenang penuh untuk menjalankan proses
pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal tersebut tidak akan berjalan dengan
baik, tanpa didasari komunikasi serta hubungan sosial yang harmonis antara
siswa dan guru.
Komunikasi yang efektif selama proses pembelajaran akan
mengurangi terjadinya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa selama
belajar. Selain itu, komunikasi yang baik membuat waktu belajar menyenangkan.
5. Menjadi guru yang menyenangkan
Setelah menciptakan komunikasi yang baik, seorang guru juga
harus mampu mengajar murid dengan menyenangkan. Peran guru bukan hanya mengajar
siswa, melainkan menjadi orang tua siswa di sekolah, menjadi pendengar yang
baik, menjadi penasihat, mendengarkan keluh kesah anak, memberi solusi, saran
atau pendapat dan lain sebagainya. Ada baiknya jika guru mengurangi sikap
otoriter dalam mengajar, agar siswa merasa nyaman dan tidak tertekan saat
belajar.
Salah satu cara yang bisa dilakukan guru untuk membangun
komunikasi dengan baik terhadap siswa yaitu dengan memberikan nasihat saat
dibutuhkan. Nasihat menjadi cara yang bijaksana untuk menyentuh hati siswa agar
Ia mau merubah perilaku lebih baik. Dengan nasihat yang tepat, maka siswa akan
sadar peran dan tugas yang harus dijalankannya, sehingga ia akan berubah
menjadi lebih baik dan melaksanakan kewajibannya sebagai pelajar serta menjadi
orang yang bertanggung jawab.
Agar pembelajaran bisa lebih menyenangkan, ada baiknya jika
guru tidak terlalu serius dalam mengajar, sisipkanlah beberapa candaan yang
bisa mengurangi kejenuhan siswa. Sehingga siswa akan lebih nyaman saat belajar
dan tidak terkesan kaku atau monoton.
6. Membiarkan Siswa Berkreasi
Cara membuat lingkungan belajar yang kondusif selanjutnya
yaitu dengan membiarkan siswa berkreasi sesuai imajinasinya. Seperti yang
diketahui, guru merupakan fasilitator, mediator, motivator dan katalisator yang
mendukung pembelajaran siswa.
Guru tidak boleh bersifat otoriter dan menguasai pembelajaran,
tetapi guru harus berani memberikan kesempatan kedua untuk siswa terus
berkreasi. Selain itu, guru juga harus memberikan apresiasi kepada siswa yang
telah berkreasi. Agar siswa merasa senang dan semangat untuk berkreasi kembali
7. Menyepakati Aturan Bersama
Untuk menciptakan kelas kondusif, guru harus bisa memberikan
aturan yang disepakati oleh siswa. Sehingga siswa tidak bisa membuat keributan
di kelas yang membuat suasana belajar tidak kondusif,
9
karena telah membuat aturan yang disepakati. Berikan hukuman
ringan bagi siswa yang melanggar peraturan sesuai dengan kesepakatan bersama,
misalnya dengan membersihkan ruangan kelas, menghafalkan materi pelajaran dan
lain sebagainya
Itulah beberapa penjelasan singkat mengenai lingkungan pembelajaran
serta cara menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Pasalnya lingkungan
belajar yang kondusif membuat kegiatan belajar mengajar lebih bermakna dan
menyenangkan.
C . mengatur ruang kelas
Pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar pengelolaan kelas
dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan
untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi
kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan
baik sesuai dengan kemampuan. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan
usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran, seperti lingkungan
fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang efektif membutuhkan
kondisi kelas yang kondusif. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang
mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Strategi belajar
apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan
iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Oleh karena itu guru perlu menata dan
mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan,
aman, dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses
pembelajaran.
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak
mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan
belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan
mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses
belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang
kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan
untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau
dilakukannya. Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan enam cara
sebagai berikut :
1. Penciptaan lingkungan fisik kelas yang
kondusif
2. Penataan ruang belajar sebagai sentral
pembelajaran
3. Penetapan strategi pembelajaran
4. Penilaian hasil belajar
5. Pemanfaatan media dan sumber belajar
6. Penciptaan atmosfir belajar yang
menyenangkan, mengasikkan, mencerdaskan, dan menguatkan.
10
Kondisi Yang Mempengaruhi Penciptaan Iklim yang Kondusif
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar
proses belajar mengajar dikelas seperti : Kompetensi dan kreativitas guru dalam
mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan strategi belajar yang
bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media
dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan
evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. Keselurahan aspek yang dijelaskan
di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. Yang menjadi
penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan
suasana pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan dan menguatkan.
1. Menyenangkan dan mengasyikkan
Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif
perasaan. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendaknya
dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang
disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan
pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus
dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. Untuk keperluan itu
guru-guru dilatih :
a. bersikap ramah
b. membiasakan diri selalu
tersenyum
c. berkomunikasi dengan santun dan
patut
d. adil terhadap semua siswa
e. senantiasa sabar menghadapi berbagai
ulah dan perilaku siswanya.
f. menciptakan kegiatan belajar
yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa.
2. Mencerdaskan dan Menguatkan
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif
(pengetahuan) melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence).
Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan
normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif
dalam.keseharian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama
dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). Oleh karena itu, guru
dilatih :
a. Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya
sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan
tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
b. Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam
pembelajaran, karena jika anak senang dan asyik, tentu saja bukan hanya
kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang
menguatkan mereka sebagai pembelajar.
11
c. Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya
memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.
d. Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan
harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut
dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.
Selain itu, ada juga hal dalam pengaturan tata ruang kelas
dan pengaturan tempat duduk :
a. Pengaturan Tata Ruang Kelas
1. Ventilasi dan Tata Cahaya
Kondisi –kondisi
yang perlu diperhatikan didalam ruang kelas adalah :
a. Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan
kelas
b. Sebaiknya tidak merokok
c. Pengaturan cahaya perlu diperhatikan
d. Cahaya yang masuk harus cukup
e. Masuknya dari arah kiri, jangan
berlawanan dengan bagian depan.
2. Pemeliharaan Kebersihan dan Penataan Keindahan Ruang
Kelas
a. Siswa bergiliran untuk
membersihkan kelas
b. Guru memeriksa kebersihan dan
ketertiban dikelas
3. Penataan Keindahan
a. Memasang hiasan dinding yang
mempunyai nilai edukatif. Contohnya : burung garuda, teks proklamasi, slogan
pendidikan, foto pahlawan, peta/globe, dll.
b. Mengatur tempat duduk siswa,
lemari, rak buku, dan semacamnya secara rapi.
c. Merapikan meja guru dengan
memakai taplak meja, vas bunga, dan sebagainya.
12
BAB 3 PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pengaturan dapat pula diartikan dengan pengelolaan, menurut
kamus bahasa Indonesia kalimat ini berasal dari kata manajemen yang berarti
penyelenggaraan. pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru
yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya
proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal.
Pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar pengelolaan kelas
dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan
untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi
kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan
baik sesuai dengan kemampuan.
Pengaruh lingkungan terhadap pembelajaran meliputi : a.
Lingkungan sosial yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. b. Lingkungan non
sosial yaitu alam, sarana dan prasarana.
Guru harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu
perkembangan pendidikan subyek didiknya (siswa). Dengan teknik motivasi yang
akurat, guru dapat menciptakan kontribusi iklim kelas yang sehat.
B. SARAN
Menurut kami saran baik yang dapat dilakukan dalam
pengaturan ruang kelas, yaitu :
1. Untuk guru /
dosen : menentukan posisi tempat duduk yang disesuaikan dengan metode
pembelajaran dan tujuan pembelajaran.
2. Untuk pembaca
: menggunakan tempat duduk yang mudah diatur atau diubah-ubah untuk mempermudah
merubah posisi tempat duduk.
3. Untuk penulis
: dengan mengetahui posisi tempat duduk yang cocok sesuai dengan karakteristik
siswa atau sesuai tinggi siswa, sehingga penulis bisa mengatur tempat duduknya.
DAFTAR PUSTAKA
Afriza, S.Ag,
M.Pd. 2014. Manajemen Kelas. Pekanbaru : Kreasi Edukasi, halaman 67
Drs. Mudasir,
M.Pd. 2011. Manajemen Kelas. Pekanbaru : Zanafa Publishing, halaman 5
Hery Hernawan,
Asep. 2006. Pengelolaan Kelas. Bandung : UPI PRESS, halaman 9
13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar