Minggu, 23 April 2023

makalah MANAJEMEN KELAS Pengaturan ruang kelas

 

MANAJEMEN KELAS

 

Pengaturan ruang kelas

 

 

Dosen pengampu:

Ibu. Riana puspita sarie S.pd,,M.pd

 

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 3

1.            ATI  B. WAMBRAUW

2.            MARSYAH C. AWOM

3.            MARSELIN. RUMBRAPUK

4.            NOVELA WANMA

5.            HERMON RUMAKIEK

6.            THERESIA BAAB

 

 

 

 

PROGRAM STUDI GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

TAHUN 2023

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjantkan kehadirat Tuhan yang maha esa, yang atas  berkatnya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ” PENGATURAN RUANG KELAS”” . penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah MANAJEMEN KELAS di universitas cendrawasih.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada Teknik penulisan  maupun materi,mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini

Dalam penulisan makalah ini kami mengucapkan terimah kasih yang sebesar besarnya kepada pihak pihak yang membantu  dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini

 

 

Uncen biak/04/042023

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

i

Daftar isi

Kata pengantar………………………………………………………………………………………………………………………………….i

Daftar isi……………………………………………………………………………………………………………………………………………ii

Bab 1 pendahuluhan

A.      Latar belakang……………………………………………………………………………………………………………………..1

B.      Rumusan masalah………………………………………………………………………………………………………………..1

C.      Tujuan penelitian …………………………………………………………………………………………………………………1

D.      Manfaat penelitian……………………………………………………………………………………………………………..

Bab 2 pembahasan

A.      Pentingnya pengaturan ruang kelas dalam pembelajaran……………………………………………………3

B.      Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar………………………………………………………….8

C.      Mengatur ruang…………………………………………………………………………………………………………………..10

Bab 3 penutup

A.      Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………………………..12

B.      Saran………………………………………………………………………………………………………………………………….12

C.      Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………………………………………14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengaturan ruang kelas adalah Proses seleksi dan penggunaan alat –alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas. Ini berarti guru bertugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem / organisasi kelas. Sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuanya, bakatnya, dan energinya pada tugas –tugas individual. Pengaturan ruang kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas. Karena itu, kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif. Maka agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola sebaik –baiknya oleh guru.

B. RUMUSAN MASALAH

   1.      Apa pengertian pengaturan ruang kelas?

   2.      Bagaimana kondisi ruangan kelas yang aman dan nyaman?

   3.      Faktor apa yang mempengaruhi lingkungan tehadap proses pembelajaran?

   4.      Bagaimana lingkungan fisik kelas yang baik?

C. TUJUAN PENELITIAN

   1.      Memberi pengetahuan tentang pengaturan ruang kelas.

   2.      Bisa menata kondisi ruangan kelas yang aman dan nyaman.

   3.      Memberi pengetahuan tentang pengaruh lingkungan terhadap proses pembelajaran.

   4.      Memotivasi siswa untuk menciptakan lingkungan kelas yang baik.

D. MANFAAT PENELITIAN

   1.      Untuk mengetahui pengertian dari pengaturan ruang kelas.

   2.      Memberikan kondisi ruangan kelas yang aman dan nyaman.

   3.      Untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap pembelajaran.

   4.      Untuk menciptakan lingkungan kelas yang baik.

 

 

 

 

 

 

1

BAB 2 PEMBAHASAN

A.      Pengaturan Ruang Kelas dalam Pembelajaran

1, Ruang kelas

merupakan ruang khusus yang disediakan bagi anak didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

 2. Gaya/metode mengajar

Guru yang mengajar dengan gaya atau metode yang menarik akan menjadikan siswa tertarik dan senang mengikuti PBM. Misalnya proses belajar-mengajar (PBM) dilaksanakan dengan metode sersan (serius tapi santai). Setiap empat puluh menit misalnya, diselingi dengan intermezo sehingga siswa akan merasa terhibur.

3. Penguasaan bahan ajar

Menguasai bahan ajar atau materi pembelajaran sangat penting bagi guru. Guru yang menguasai materi pembelajaran akan leluasa dan luwes dalam pelaksanaan PBM. Ia bisa melakukan berbagai improvisasi dalam menyajikan materi pembelajaran yang tentu saja dapat menjadi daya tarik bagi siswa.

4. Pengelolaan kelas

Guru harus bisa melakukan pengelolaan kelas yang baik dan berkesinambungan. Dalam pelaksanaan PBM, seringkali didapatkan siswa yang kerjanya hanya menganggu temannya atau mengerjakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan materi pembelajaran yang disajikan. Di sinilah perlunya seorang guru memiliki kemampuan dalam pengelolaan kelas. Tegurlah siswa dengan bijak dan sedikit gaya ironi agar siswa tetap merasa nyaman meski mendapat teguran.

5. Volume suara saat menyajikan materi pelajaran

Suara atau vokal angat penting dalam menyajikan materi pelajaran. Proses penyampaian informasi atau materi pembelajaran kepada siswa akan menjadi jelas bila diiringi dengan volume suara yang tinggi dan bervariasi. Dengan volume suara yang tinggi, siswa yang duduk paling belakang pun akan jelas mendengar materi yang disampaikan oleh guru. Bahkan siswa yang akan mengantuk dapat hilang rasa kantuknya jika volume suara gurunya bervariasi.

D. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menjadi guru yang profesional dan spesial itu tidaklah sulit. Dengan kesungguhan dan kemantapan hati, predikat guru profesional dan spesial di mata siswa akan dapat diraih. Sekarang tergantung pada pribadi kita masing-masing, mau atau tidak meraih predikat tersebut.

 

 

 

3

Sesuai dengan perkembangannya, anak memiliki banyak idealisme, angan-angan, atau keinginan yang hendak diwujudkannya. Namun, sesungguhnya anak-anak itu belum memiliki banyak kemampuan untuk melakukannya. Keterbatasan pemikiran pada anak-anak salah satu penyebab kurangnya kemampuan dalam mewujudkan keinginannya itu. Akibat dari kurangnya kemampuan berpikir, anak-anak menjadi bergerak atau bertindak sesuai nalurinya. Anak-anak kadang menjadi liar karena adanya dorongan nalurinya untuk melihat, meraba, dan merasakan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.

Pada usia 2 – 5 tahun sifat hiperaktif anak terlihat dari perilaku anak yang tidak bisa tinggal diam. Mereka akan terus bergerak dan bergerak melakukan aktivitas yang tidak kunjung selesai. Anak yang hiperaktif akan membuat orang tua atau pengasuhnya menjadi capek karena harus mengikuti kemana anak pergi dan terus mengawasi aktivitas anak. Pengawasan harus melekat pada anak hiperaktif mengingat mereka memiliki pemikiran yang masih terbatas. Dengan demikian, tentu mereka tidak bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya.Mereka baru mengetahui sesuatu itu berbahaya atau tidak setelah mencobanya.

Anak yang hiperaktif harus mendapat pengawasan ekstraketat. Anak yang hiperaktif rawan mengalami hal-hal yang berbahaya jika tidak selalu diawasi atau dipantau setiap kegiatan yang dilakukannya. Semua benda yang ditemui biaanya akan diraba, diangkat, atau digoyang-goyangkan untuk mengetahui jenis benda tersebut. Anak yang hiperaktif memiliki sifat keinginantahuan yang tinggi. Oleh karena itu, anak yang hiperaktif sudah harus diberi pembinaan sejak masih balita atau masa prasekolah.

Pada masa usia prasekolah, anak hiperaktif biasanya tambah mulai menjadi-jadi. Hal ini karena anak sudah mulai lepas dari lingkungan rumah, pelukan dan pengawasan ibu, atau pengawasan pengasuh mereka. Lingkungan pergaulan menjadi lebih luas dan mulai mendapatkan banyak teman. Selanjutnya, tanggung jawab pengawasan pada anak, sudah mulai berpindah kepada guru di sekolah. Oleh karena itu, seorang guru yang mendapatkan anak hiperaktif harus memiliki teknik pengawasan dan pembinaan yang tepat. Ia harus mengetahui cara mengatasi anak yang hiperaktif agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan lancar.

Anak yang hiperaktif jika tidak dibina dengan baik akan menjadi anak yang menghambat pelaksanaan pembelajaran di kelas. Sifat tidak bisa tinggal diam pada anak tersebut akan menjadikan teman-teman lainnya ikut terpancing dan melakukan aktivtas yang sama dengan anak yang hiperaktif tersebut. Hal ini tentu akan menjadikan kelas tambah ramai dan tidak kondusif untuk kegiatan pembelajaran.

Mengatur lingkungan fisik bagi pengajaran merupakan titik mula yang logis untuk pengelolaan ruang kelas karena hal ini merupakan subuah tugas yang dihadapi semua guru sebelum kegiatan kelas dimulai. Banyak guru merasa lebih mudah merencanakan aspek pengelolaan kelas non-fisik dibandingkan harus mengatur lingkungan kelas dalam mendukung dan mencapai tujuan pembelajaran. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam mengatur ruang kelas umum di tingat Sekolah Dasar yang mempunyai banyak instrument dan perabotan, seperti: meja guru dan siswa, rak buku, lemari buku, kursi guru dan siswa, serta lemari arsip. Mungkin juga ada peralatan elektronik seperti: proyektor, komputer, speaker atau audio, selain itu juga ada alat bantu visualisasi seperti: papan tulis, white board, papan bulletin, diagaram, peta dll. Terakhir guru juga memberikan sentuhan personal bagi sebuah ruang kelas seperti: tanaman, aquarium, dan beberapa pernak-pernik hasil karya siswa.

4

 

 

Pengaturan ruangan yang akan dilakukan guru dapat mengkomunikasikan kepada siswa bagaimana guru mengharapkan kepada semua anggota kelas untuk turut serta dalam mengelola kelas. Filosofi guru mengenai pembelajaran akan mempengaruhi bagaimana cara guru dalam mengatur setiap komponen pada ruang kelas. Meja dan kursi yang diatur secara berkelompok mengisyaratkan bahwa interaksi dan kalaborasi diantara siswa memfasilitasi beberapa kegiatan aktif yang hendak dicapai. Meja tulis yang diatur berurutan mengindikasikan bahwa fokus dari ruang kelas adalah sang guru, papan tulis atau beberapa titik pusat perhatian lainnya.

Pengaturan ruang kelas merupakan bentuk dari kemampuan guru dalam memanajemen kelas dan menciptakan iklim pembelajaran yang baik bagi siswa. Ruang kelas bukanlah wilayah yang sangat luas bagi siswa hingga puluhan orang berinteraksi selama periode waktu yang lama selama 5-8 jam sehari. Guru dan siswa akan selalu terlibat dalam berbagai kegiatan dalam menggunakan berbagai wilayah ruang yang berbeda dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru akan selalu memfasilitasi kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan baik jika guru mengatur ruang kelas untuk memungkinkan pergerakan yang teratur, mempertahankan distraksi seminimal mungkin, dan menggunakan ruang yang tersedia secara efisien.

Menurut Carolyn & Edmund (2015:4) ada 4 kunci bagi guru untuk melakukan pengaturan ruang kelas yang baik, yaitu:

Jadikanlah wilayah sirkulasi dan mobilitas siswa tinggi dan bebas dari kemacetanPastikan setiap siswa dapat dipantau dengan mudah oleh guru Menjaga agar instrument pengajaran yang sering digunakan dan perlengkapan siswa mudah diakses Pastikan bahwa para siswa dapat dengan mudah melihat persentasi dan tampilan seisi kelas Menerapkan tiap-tiap komponen dalam 4 kunci tersebut akan membantu guru dalam merancang pengaturan ruang kelas sehingga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa. Komponen-komponen di atas dapat diaplikasikan guru dengan memperhatikan beberapa aspek penting pengaturan ruang kelas seperti:

1. Pengaturan Ruang Dinding dan Langit-Langit

Ruang dinding dan papan bulletin menyedikan tempat untuk memfasilitasi dalam menampilkan/ruang display hasil karya-karya siswa dan instrument yang relevan dengan pembelajaran seperti; tugas-tugas yang diberikan guru, peraturan kelas, jadwal pelajaran, piket kelas, jam dinding, pernak-pernik hiasan dinding dan hal menarik lainnya. Adapun ruang langit-langit juga bisa digunakan untuk menggantung benda-benda hasil karya siswa, dekorasi dan benda-benda yang bisa dipindah-pindahkan untuk mempercantik ruang kelas.

2. Pengaturan Ruang lantai

Salah satu titik mula yang baik bagi rencana pengaturan lantai ruang kelas adalah menentukan dimana guru dan siswa akan menyelenggarakan pembelajaran kelas dengan duduk di kursi, berdiri atau duduk di lantai dengan suasana yang santai. Maka guru harus menyediakan tempat/ tata letak ruang yang luas untuk siswa dapat berkumpul di lantai dalam pembelajaran

 

5

3. Pengaturan Meja & Kursi Siswa

Guru harus menentukan pengaturan tempat duduk yang dibuat bervariasi untuk menciptakan suasana baru dan menarik bagi siswa. Meja tulis siswa dapat diatur berkelompok, berjajar, berbaris, melingkar, setengah lingkaran, tapal kuda dsb. Disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

4. Pengaturan Lemari Buku dan Material Pembelajaran

Lemari buku yang berisi materi, bahan ajar/buku pelajaran sebaiknya diletakkan dimana tidak menghalangi dan menghambat siswa dalam mengakses. Maka letaknya harus mudah dilihat, diakses dan diawasi dengan mudah serta tidak menghalangi jalan. Pertimbangan menggunakan lemari dorong lebih efektif untuk menyimpan buku pelajaran dan material lainnya yang mungkin harus dipindahkan dari posisi satu ke posisi lain yang mudah dilihat.

5. Pengaturan Berkas Portofolio Siswa

Setiap siswa mempunyai dokumen portofolio yang berisi tugas-tugas dan pekerjaan mereka selama di kelas, maka guru harus menempatkan portofolio siswa di tempat yang mudah dijangkau atau ditemukan dalam susunan alfabet, seperti ditempel di tembok kelas yang Panjang, atau di lemari kaca transparan.

6. Pengaturan Meja Tulis & Perlengkapan Guru

Prinsip pengaturan meja tulis guru dapat diatur menghadap para siswa dan pastikan mereka dapat melihat guru dari tempat duduknya. Bukan keharusan meja tulis guru berada di depan meja tulis siswa, karena beberapa guru lebih suka menempatkan meja tulis mereka dibelakang ruangan dibandingkan di depan. Adapun perlengkapan guru sebaiknya disimpan di meja tulisnya sendiri dan selalu memperhatikan Batasan perlengkapan pada setiap tahun ajaran.

7. Pengaturan Benda-Benda Musiman/Jarang Digunakan

Hiasan bertemakan hari libur atau musiman, tampilan bulletin, proyek khusus, busur derajat, material seni tertentu, dan perlengkapan sains yang digunakan pada beberapa keadaan tertentu dapat disimpan di lemari belakang ruangan untuk mengefektifkan penggunaan dan tata letak barang.

Menurut Suharsimi Arikunto (2008:304) dalam tata ruang kelas, guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam bertindak dan memanfaatkan sesuatu, diantaranya: (1) menata tempat duduk siswa, (2) menata alat peraga yang ada di dalam kelas, (3) menata kedisiplinan siswa, (4) menata pergaulan siswa, (5) menata tugas siswa, (6) menata ruang fisik kelas, (7) menata kebersihan dan keindahan kelas, (8) menata kelangkapan kelas, dan (9) menata pajangan kelas.

Tata ruang kelas sendiri merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/fasilitas pembelajaran. Selain itu, tata ruang kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran (Djamarah, 2006).

 

 

6

Sehingga tujuan pokok mengatur menata ruang kelas adalah untuk menciptakan dan mengarahkan kegiatan siswa serta mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya di dalam kelas. Di samping itu, beberapa tujuan tata ruang kelas secara khusus dapat disimpulkan, diantaranya yaitu:

 

Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkingkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajar. Menyediakan dan mengatur fasilitas perabot kelas yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai lingkungan, sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya.

‌‌Lingkungan belajar menjadi hal yang berpengaruh terhadap pembelajaran anak. Dimana lingkungan belajar yang kondusif menjadi faktor penting untuk memaksimalkan kesempatan belajar bagi anak. Lingkungan belajar yang dimaksud yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif artinya kondisi yang benar-benar nyaman serta mendukung kegiatan belajar mengajar.

Adapun proses pembelajaran yaitu interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadilah proses informasi menjadi keterampilan, pengetahuan dan sikap pada diri anak sebagai hasil dari proses pembelajaran.

Lingkungan belajar menurut Saroni (2006) dan Kusmoro (2008), terdiri dari dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik merupakan sarana fisik yang berada di sekitar siswa saat belajar. Contoh sarana fisik yang ada di lingkungan sekolah yaitu, ruang kelas belajar di sekolah sarana dan prasarana kelas, pengudaraan, alat atau media belajar, pencahayaan, pewarnaannya, pajangan hingga penataannya.

Sedangkan lingkungan sosial merupakan kondisi atau situasi interaksi yang terjadi saat proses pembelajaran, mulai dari pola interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber pembelajaran dan lainnya. Untuk menciptakan lingkungan sosial yang baik, maka diperlukan interaksi yang proporsional antara siswa dengan guru ketika kegiatan pembelajaran berlangsung.

Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa untuk menumbuhkan minat atau memotivasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar harus difasilitasi untuk merefleksikan ekspektasi tinggi dalam meraih kesuksesan anak secara individu. Lingkungan belajar juga menjadi situasi yang dapat direkayasa oleh guru untuk mengefektifkan proses pembelajaran.

Kondisi atau lingkungan pembelajaran yang kondusif wajib diterapkan, untuk memaksimalkan kegiatan belajar mengajar. Lalu, bagaimana cara menciptakan lingkungan yang kondusif?

 

 

 

7

B. menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar

Lingkungan pembelajaran yang kondusif memang tidak tercipta dengan sendirinya. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan lingkungan ini dapat direalisasikan dengan baik. Berikut ini merupakan 7 tips membangun lingkungan yang kondusif dalam pembelajaran, di antaranya yaitu:

1. Menata Ruang Kelas Belajar

Untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, diperlukan penataan ruang kelas yang baik dan tepat. Pasalnya ruang kelas merupakan lingkungan utama untuk menciptakan kegiatan belajar dan mengajar yang menyenangkan. Ruang belajar yang bersih, nyaman dan tertata dengan rapi akan mendukung pembelajaran lebih baik.

Menata ruang kelas merupakan tugas bersama antara siswa dengan wali kelas yang bersangkutan. Pihak sekolah juga bisa berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, misalnya dengan mengadakan lomba kebersihan kelas secara berkala. Perlombaan tersebut memacu anak untuk menciptakan ruangan kelas yang bersih, rapi dan nyaman.

Menata ruang kelas bukan hanya menjajarkan kursi dan meja dengan teratur, melainkan melengkapinya dengan administrasi kelas, seperti denah tempat duduk, jadwal pelajaran, struktur kelas dan lain sebagainya. Tambahkan juga beberapa aksesoris di dinding kelas untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, misalnya dengan menempelkan lukisan hasil siswa atau kalimat positif yang memotivasi belajar siswa.

2.Suasana Belajar dan Mengajar

Setelah menciptakan ruang kelas yang kondusif, selanjutnya yaitu menciptakan suasana belajar dan mengajar yang menyenangkan. Ada beberapa faktor yang mendukung suasana belajar dan mengajar lebih menyenangkan, mulai dari cara mengajar guru, mood siswa, lingkungan dalam kelas dan lainnya. Meskipun begitu, guru berperan penting untuk menciptakan suasana yang menggairahkan dan memacu siswa semangat belajar.

Guru yang simpatik dan demokratis memungkinkan suasana belajar yang kondusif tercipta. Dimana hasil belajar siswa dihargai, sehingga siswa tidak takut merasa salah ketika menjawab pertanyaan atau bertanya kepada guru.

Suasana belajar dan mengajar yang menyenangkan membuat siswa menjadi semangat belajar dan pembelajaran akan lebih bermakna. Sehingga, pembelajaran tidak selalu dinilai dari perolehan angka yang tinggi.

3.Lingkungan Luar Kelas

Meskipun siswa melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, namun lingkungan luar kelas  juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran siswa. Lingkungan luar kelas yang kondusif membuat siswa belajar dengan baik, namun sebaliknya, jika lingkungan luar tidak kondusif dan terjadi masalah maka konsentrasi siswa akan terganggu.

 

8

Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang baik, diperlukan kerjasama yang baik antar pihak yang bersangkutan mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, staff hingga petugas pembersihan. Bangunlah komunikasi yang baik dengan pihak yang terkait. Lingkungan sekolah juga menjadi acuan penilaian kualitas sekolah, sehingga harus dijaga dengan baik.

4. Komunikasi dan Hubungan Sosial

Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di ruang kelas bersifat intern, di mana guru memiliki wewenang penuh untuk menjalankan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik, tanpa didasari komunikasi serta hubungan sosial yang harmonis antara siswa dan guru.

Komunikasi yang efektif selama proses pembelajaran akan mengurangi terjadinya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa selama belajar. Selain itu, komunikasi yang baik membuat waktu belajar menyenangkan.

5. Menjadi guru yang menyenangkan

Setelah menciptakan komunikasi yang baik, seorang guru juga harus mampu mengajar murid dengan menyenangkan. Peran guru bukan hanya mengajar siswa, melainkan menjadi orang tua siswa di sekolah, menjadi pendengar yang baik, menjadi penasihat, mendengarkan keluh kesah anak, memberi solusi, saran atau pendapat dan lain sebagainya. Ada baiknya jika guru mengurangi sikap otoriter dalam mengajar, agar siswa merasa nyaman dan tidak tertekan saat belajar.

Salah satu cara yang bisa dilakukan guru untuk membangun komunikasi dengan baik terhadap siswa yaitu dengan memberikan nasihat saat dibutuhkan. Nasihat menjadi cara yang bijaksana untuk menyentuh hati siswa agar Ia mau merubah perilaku lebih baik. Dengan nasihat yang tepat, maka siswa akan sadar peran dan tugas yang harus dijalankannya, sehingga ia akan berubah menjadi lebih baik dan melaksanakan kewajibannya sebagai pelajar serta menjadi orang yang bertanggung jawab.

Agar pembelajaran bisa lebih menyenangkan, ada baiknya jika guru tidak terlalu serius dalam mengajar, sisipkanlah beberapa candaan yang bisa mengurangi kejenuhan siswa. Sehingga siswa akan lebih nyaman saat belajar dan tidak terkesan kaku atau monoton.

6. Membiarkan Siswa Berkreasi

Cara membuat lingkungan belajar yang kondusif selanjutnya yaitu dengan membiarkan siswa berkreasi sesuai imajinasinya. Seperti yang diketahui, guru merupakan fasilitator, mediator, motivator dan katalisator yang mendukung pembelajaran siswa.

Guru tidak boleh bersifat otoriter dan menguasai pembelajaran, tetapi guru harus berani memberikan kesempatan kedua untuk siswa terus berkreasi. Selain itu, guru juga harus memberikan apresiasi kepada siswa yang telah berkreasi. Agar siswa merasa senang dan semangat untuk berkreasi kembali

7. Menyepakati Aturan Bersama

Untuk menciptakan kelas kondusif, guru harus bisa memberikan aturan yang disepakati oleh siswa. Sehingga siswa tidak bisa membuat keributan di kelas yang membuat suasana belajar tidak kondusif,

9

karena telah membuat aturan yang disepakati. Berikan hukuman ringan bagi siswa yang melanggar peraturan sesuai dengan kesepakatan bersama, misalnya dengan membersihkan ruangan kelas, menghafalkan materi pelajaran dan lain sebagainya

Itulah beberapa penjelasan singkat mengenai lingkungan pembelajaran serta cara menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Pasalnya lingkungan belajar yang kondusif membuat kegiatan belajar mengajar lebih bermakna dan menyenangkan.

 

C . mengatur ruang kelas

Pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran, seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan, aman, dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran.

Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut :

   1.      Penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif

   2.      Penataan ruang belajar sebagai sentral pembelajaran

   3.      Penetapan strategi pembelajaran

   4.      Penilaian hasil belajar

   5.      Pemanfaatan media dan sumber belajar

   6.      Penciptaan atmosfir belajar yang menyenangkan, mengasikkan, mencerdaskan, dan menguatkan.

 

 

 

10

 

Kondisi Yang Mempengaruhi Penciptaan Iklim yang Kondusif Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti : Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan dan  menguatkan.

1. Menyenangkan dan mengasyikkan

Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih :

a. bersikap ramah

b. membiasakan diri selalu tersenyum

c. berkomunikasi dengan santun dan patut

d. adil terhadap semua siswa

e. senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya.

f. menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa.

2. Mencerdaskan dan Menguatkan

Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif (pengetahuan) melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif

dalam.keseharian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). Oleh karena itu, guru dilatih :

a. Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

b. Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran, karena jika anak senang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.

11

c. Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.

d. Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.

Selain itu, ada juga hal dalam pengaturan tata ruang kelas dan pengaturan tempat duduk :

a. Pengaturan Tata Ruang Kelas

1. Ventilasi dan Tata Cahaya

   Kondisi –kondisi yang perlu diperhatikan didalam ruang kelas adalah :

a.       Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan kelas

b.      Sebaiknya tidak merokok

c.       Pengaturan cahaya perlu diperhatikan

d.      Cahaya yang masuk harus cukup

e.       Masuknya dari arah kiri, jangan berlawanan dengan bagian depan.

2. Pemeliharaan Kebersihan dan Penataan Keindahan Ruang Kelas

a. Siswa bergiliran untuk membersihkan kelas

b. Guru memeriksa kebersihan dan ketertiban dikelas

3. Penataan Keindahan

a. Memasang hiasan dinding yang mempunyai nilai edukatif. Contohnya : burung garuda, teks proklamasi, slogan pendidikan, foto pahlawan, peta/globe, dll.

b. Mengatur tempat duduk siswa, lemari, rak buku, dan semacamnya secara rapi.

c. Merapikan meja guru dengan memakai taplak meja, vas bunga, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

12

 

  BAB 3 PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pengaturan dapat pula diartikan dengan pengelolaan, menurut kamus bahasa Indonesia kalimat ini berasal dari kata manajemen yang berarti penyelenggaraan. pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal.

Pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.

Pengaruh lingkungan terhadap pembelajaran meliputi : a. Lingkungan sosial yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. b. Lingkungan non sosial yaitu alam, sarana dan prasarana.

Guru harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan pendidikan subyek didiknya (siswa). Dengan teknik motivasi yang akurat, guru dapat menciptakan kontribusi iklim kelas yang sehat.

 

B. SARAN

Menurut kami saran baik yang dapat dilakukan dalam pengaturan ruang kelas, yaitu :

1.       Untuk guru / dosen : menentukan posisi tempat duduk yang disesuaikan dengan metode pembelajaran dan tujuan pembelajaran.

2.       Untuk pembaca : menggunakan tempat duduk yang mudah diatur atau diubah-ubah untuk mempermudah merubah posisi tempat duduk.

3.       Untuk penulis : dengan mengetahui posisi tempat duduk yang cocok sesuai dengan karakteristik siswa atau sesuai tinggi siswa, sehingga penulis bisa mengatur tempat duduknya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afriza, S.Ag, M.Pd. 2014. Manajemen Kelas. Pekanbaru : Kreasi Edukasi, halaman 67

Drs. Mudasir, M.Pd. 2011. Manajemen Kelas. Pekanbaru : Zanafa Publishing, halaman 5

Hery Hernawan, Asep. 2006. Pengelolaan Kelas. Bandung : UPI PRESS, halaman  9

 

13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH KEPRAMUKAAN :P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI

  Cover MAKALAH KEPRAMUKAAN   P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI   Dosen pengampuh matakul...