KEPRIBADIAN GURU
Dosen pengampu matakuliah
Ibu. MARIKE MARAN S.pd,,M.pd
DI SUSUN OLEH KEL.1
1. MARSYAH CLAUDIA AWOM
2. GIDALTI KARUBABA
3. NOVELA WANMA
4. DELILA RUMPARPAM
5. FEBRIANA DAWAN
6. RATI MSIREN
Puji syukur
kami panjantkan kehadirat Tuhan yang maha esa, yang atas berkatnya sehingga dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul ” KEPRIBADIAN GURU” . penulisan makalah ini
merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah pendidikan
sosiologi di universitas cendrawasih.
Dalam
penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada Teknik
penulisan maupun materi,mengingat akan
kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat
kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini
Dalam
penulisan makalah ini kami mengucapkan terimah kasih yang sebesar besarnya
kepada pihak pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen kami yang telah memberikan
tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
Biak 05, mei 2023
Penulis
DAFTAR ISI
PENDIDIKAN SOSIOLOGI 1
KATA PENGANTAR. 2
DAFTAR ISI 3
BAB 1 PENDAHULUAN.. 4
A . Latar Belakang. 4
B. Rumusan Masalah. 4
C. Tujuan Penulisan. 4
D. Metode Penulisan. 5
E. Sistematika Penulisan. 5
BAB 2 PEMBAHSAN.. 5
A. PRIBADI GURU.. 5
B. Perkembangan
Kepribadian Guru. 7
C. CIRI CIRI STEORITIP
GURU.. 9
D. MEMILIH JABATAN GURU.. 10
E. KETEGANGAN DALAM
PROFESI KEGURUAN.. 11
F. GANGUAN FISIK DAN
MENTAL GURU.. 12
BAB III PENUTUP. 13
A. Kesimpulan. 13
B. Saran. 14
DAFTAR PUSTAKA.. 14
Salah satu
penyebab rendahnya moral/ahlak generasi saat ini adalah rendahnya moral para
guru dan orang tua. Kecenderungan tugas guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan
tanpa memperhatikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ilmu pengetahuan
tersebut, apalagi kondisi pembelajaran saat ini sangat berorientasi pada
perolehan angka-angka sebagai standarisasi kualitas pendidikan.
Setiap orang
yang pernah sekolah, pastilah berhubungan dengan guru dan mempunyai gambaran
tentang kepribadian guru. Walaupun gambaran tentang guru tidak lengkap dan
mungkin tidak benar seluruhnya, namun orang akan berinteraksi dengan guru.
Guru adalah
pribadi yang menentukan maju atau tidaknya sebuah bangsa dan peradaban manusia.
Ditangannya, seorang anak yang awalnya tidak tahu apa-apa menjadi pribadi
jenius. Melalui sepuhannyalah, lahir generasi-generasi unggul. Maka dari itu,
didalam makalah ini akan dibahas tentang kepribadian guru.
Sesuai latar
belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang
dimaksud dengan guru dan kepribadian guru ?
2. Bagaimana
perkembangan kepribadian guru ?
3. Apa saja
ciri-ciri stereotip guru ?
4. Bagaimana
ketegangan dalam profesi keguruan ?
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalah
adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui pengertian guru dan kepribadian guru
2. Untuk
mengetahui perkembangan kepribadian guru
3. Untuk
mengetahui ciri-ciri stereotip guru
4. Untuk
mengetahui ketegangan dalam profesi keguruan
Adapun
metode penulisan makalah yang digunakan adalah dengan cara study pustaka, yaitu
mempelajari buku-buku yang kami jadikan referensi dalam pengumpulan informasi
dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian
informasi dengan melalui jalur internet.
Adapun
sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Pengertian Guru dan Kepribadian Guru
1. Pengertian Guru
Menurut kamus besar bahasa Indonesia guru
adalah seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.
Dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut Teacher.
Semua memiliki arti yang sederhana yakni "A Person Occupation is Teaching
Other" artinya guru ialah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.
Sedangkan arti secara umumnya, guru adalah
pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dengan tugas
utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik.
2. Kepribadian Guru
Ada beberapa pengertian kepribadian menurut
ahli sosiologi, diantaranya:
a) Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan,
ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu
akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu.
b) Menurut Schever Dan Lamm (1998)
Kepribadian adalah sebagai keseluruhan pola
sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu
yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau di katakan pola sikap,
maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam
menghadapai situasi yang di hadapi. Seorang guru memiliki sikap yang dapat
mempribadi sehingga dapat dibedakan ia dengan guru yang lain. Kepribadian
menurut Zakiah Darajat disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat
secara nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, atau ucapan
ketika menghadapi suatu persoalan.
Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik
maupun psikis. Sehingga dapat diketahui bahwa setiap tindakan dan tingkah laku
seseorang merupakan cerminan dari kepribadian seseorang. Setiap perkataan,
tindakan, dan tingkah laku positif akan meningkatkan dan kepribadian seseorang.
Begitu naik kepribadian seseorang maka akan naik pula wibawa orang tersebut.
Guru hendaknya memiliki kepribadian, yaitu
diantaranya:
1. Kepribadian yang mantap dan stabil:
Ø Bertindak
sesuai dengan norma hukum
Ø Bertindak
sesuai dengan norma sosial
Ø Memiliki
konsisten dalam bertindak
2. Kepribadian berakhlak mulia:
Ø Berakhlak
mulia dan menjadi teladan
Ø Memiliki
perilaku yang diteladani oleh peserta didik
3. Kepribadian yang dewasa:
Ø Menampilkan
kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik
Ø Memiliki
etos kerja sebagai guru
4. Kepribadian yang arif:
Ø Menampilkan
tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat
Ø Menunjukkan
dalam berfikir dan bertindak
5. Kepribadian yang berwibawa:
Ø Memiliki
perilaku yang bersifat positif terhadap peserta didik
Ø Memiliki
perilaku yang disegani
Kepribadian akan turut menentukan apakah para
guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik atau sebaliknya, justru menjadi
perusak anak didiknya. Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki
sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam
seluruh segi kehidupannya. Karenanya guru harus selalu berusaha memilih dan
melakukan perbuatan yang positif agar dapat mengangkat kewibawaannya, terutama
di depan murid-muridnya. Disamping itu guru juga harus mengimplementasikan nilai-nilai
tinggi terutama yang diambilkan dari ajaran agama, misalnya jujur dalam
perbuatan dan perkataan. Guru yang demikian niscaya akan selalu memberikan
pengarahan kepada anak didiknya untuk berjiwa baik juga. Dalam menggerakkan
murid, guru juga dianggap sebagai partner yang siap melayani, membimbing dan
mengarahkan muridnya. Djamarah dalam bukunya “Guru dan Anak didik Dalam
Interaksi Edukatif” menggambarkan bahwa: Guru adalah pahlawan tanpa pamrih,
pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan ilmu, pahlawan kebaikan, pahlawan
pendidikan”.
Kemuliaan hati seorang guru diwujudkan dalam
kehidupan sehari-hari. Guru secara nyata dapat berbagi dengan anak didiknya.
Guru tidak akan merasa lelah dan tidak mungkin mengembangkan sifat iri hati,
munafik, suka menggunjing, menyuap, malas, marah-marah dan berlaku kasar
terhadap orang lain, apalagi terhadap anak didiknya.
Guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak
didik dapat saja dipisahkan kedudukannya, akan tetapi mereka tidak dapat
dipisahkan dalam mengembangkan diri murid dalam mencapai cita-citanya.
Disinilah kemanfaatan guru bagi orang lain atau murid benar-benar dituntut,
seperti hadits Nabi: ”Khoirunnaasi anfa’uhum linnaas,” artinya sebaik-baiknya
manusia adalah yang paling besar memberikan manfaat bagi orang lain (Al Hadits).
Kepribadian sesungguhnya adalah sesuatu yang
abstrak, sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah
penampilan atau bekasnya dalam segala aspek kehidupan. Misalnya dalam tindakan,
ucapan, caranya bergaul, berpakaian, dan dalam menghadapi persoalan atau
masalah.
Ada 3 faktor yang menentukan dalam perkembangan
kepribadian :
1. Faktor bawaan
Unsur ini terdiri dari bawaan genetic yang
menetukan diri fisik primer (warna mata, kulit) selain itu juga
kecenderungan-kecenderungan dasar misalnya kepekaan, penyesuaian diri.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan seperti sekolah, atau
lingkungan sosial/budaya seperti teman, guru, dan lain-lain. Dapat mempengaruhi
terbentuknya kepribadian.
3. Interaksi bawaan dan lingkungan
Interaksi yang terus menerus antara bawaan dan
lingkungan menyebabkan timbulnya perasaan aku/diriku dalam diri seseorang.
Kepribadian guru terbentuk atas pengaruh kode
kelakuan seperti yang diharapkan oleh masyarakat dan sifat pekerjaannya. Guru
harus menjalankan peranannya menurut kedudukannya dalam berbagai situasi
sosial.
Tingkah laku atau moral guru pada umumnya,
merupakan penampilan lain dari kepribadian. Bagi anak didik yang masih kecil
guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru
adalah orang pertama sesudah orang tua, yang mempengaruhi pembinaan kepribadian
anak didik. Jika tingkah laku atau akhlak guru tidak baik, maka umunya
akhak-akhlak anak didik akan rusak, karena anak mudah terpengaruh oleh orang-orang
yang dikaguminya. Atau dapat juga menyebabkan anak didik gelisah, cemas atau
terganggu jiwa karena ia menemukan contoh yang berbeda atau berlawanan dengan
contoh yang selama ini didapatnya di rumah dari orang tuanya.
Menurut Athiyah Al-Abrosy bahwasannya
sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki seorang guru:
Hubungan guru dengan murid harus baik.
ü Guru
harus selalu memperhatikan murid serta pelajaran mereka.
ü Guru
harus peka terhadap lingkungan sekitar murid.
ü Guru
wajib menjadi contoh/teladan di dalam keadilan dan keindahan serta kemuliaan.
ü Guru
wajib ikhlas di dalam pekerjaannya.
ü Guru
wajib menghubungkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan.
ü Guru
harus selalu membaca dan mengadakan penyelidikan.
ü Guru
harus mampu mengajar bagus penyiapannya dan bijaksana dalam menjalankan
tugasnya.
ü Guru
harus punya niat yang tetap.
ü Guru
harus sehat jasmaninya.
ü Guru
harus punya pribadi yang mantap.
Dalam situasi kelas, guru menghadapi sejumlah
murid yang harus dipandangnya sebagai anaknya. Sebaliknya murid-murid akan
memperlakukannya sebagai bapak guru dan ibu guru. Berkat kedudukannya, maka
guru di dewasakan atau di tuakan, sekalipun menurut usia yang sebenarnya belum
pantas menjadi orang tua. Dalam menjalankan peranannya sebagai guru, ia lambat
laun membentuk kepribadiannya. Ia diperlakukan oleh lingkungan sosialnya
sebagai guru dan ia bereaksi sebagai guru pula. Jadi ia menjadi guru karena
diperlakukan dan belaku sebagai guru.
Kedudukannya sebagai guru, akan membatasi
kebebasannya serta dapat membatasi pergaulannya. Seorang guru tidak akan diajak
melakukan kegiatan yang rasanya kurang layak bagi guru, tetapi seorang guru
akan mencari pergaulannya terutama dari kalangan guru yang sependirian
dengannya.
Stereotip guru adalah hal-hal yang sering
dilakukan oleh para guru. Stereotip juga bisa diartikan sebagai sifat
kepribadian. Yang berkembang dimasyarakat adalah adanya suatu anggapan bahwa
yang stereotip selalu dianggap benar, sedangkan yang diluar stereotip dianggap
salah.
Ciri-ciri stereotip guru, yaitu:
1. Guru tidak memperlihatkan kepribadian yang
fleksibel
Ia cenderung mempunyai pendirian yang tegas dan
mempertahankannya. Ia kurang terbuka bagi pendirian lain yang berbeda karenanya
ia sulit melihat kebenaran pendapat orang lain atau cara orang lain memecahkan
masalah.
2. Guru pandai menahan diri
Ia selalu hati-hati dan tidak mudah menceburkan
diri dalam pergaulan dengan orang lain.
3. Guru cenderung untuk menjauhkan diri untuk
bergaul dengan orang lain
Karena kecenderungan guru bergaul dengan orang
lain, maka orang lainpun sukar untuk mengadakan hubungan akrab dengan guru.
4. Guru berusaha menjaga harga diri dan merasa
keterikatan kelakuannya pada norma-norma yang berkenaan dengan kedudukannya.
Maka dari itu ia berfikir, baginya guru itu orang
yang terhormat dan karena itu sebagai guru harus berprilaku sesuai dengan
kedudukan itu.
5. Guru cenderung bersikap otoriter dan ingin
“menggurui” dalam diskusi
Ia sebagai guru merasa orang yang serba tahu
dalam kelas, sehingga dengan merasa sebagai orang yang serba tahu ia akan akan
memperlihatkan sikapnya itu di luar kelas.
6. Guru pada umumnya tidak didorong oleh
motivasi yang kuat untuk menjadi guru
Seseorang yang memasuki lembaga pendidikan
guru, tidak sepenuhnya didorong dari hati, melainkan sering karena pilhan lain
tertutup, ataupun berkat dorongan dari orang tua.
7. Guru menunjukan kesediaan untuk berbakti dan
berjasa
8. Guru pada umumnya tidak mempunyai ambisi
yang kuat untuk mencapai kemajuan
Ciri-ciri guru diatas tidak dapat dibuktikan
kebenarannya, namun orang akan mempunyai suatu bayangan tertentu tentang
pribadi guru pada umumnya, orang akan berinteraksi dengan guru berdasarkan
gambaran apa adanya.
Matsumoto (1996) menunjukkan bahwa kita dapat
belajar untuk mengurangi stereotip yang kita miliki dengan mengakui tiga poin
kunci mengenai stereotip, yaitu:
Stereotip didasarkan pada penafsiran yang kita
hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita. Stereotip juga
dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumbernya
langsung. Karenanya interpretasi kita mungkin salah, didasarkan atas fakta yang
keliru atau tanpa dasar fakta.
Stereotip seringkali diasosiasikan dengan
karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciri yang kita identifikasi seringkali
kita seleksi tanpa alasan apapun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja
mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain.
Stereotip merupakan generalisasi dari kelompok
kepada orang-orang di dalam kelompok tersebut. Generalisasi mengenai sebuah
kelompok mungkin memang menerangkan atau sesuai dengan banyak individu dalam
kelompok tersebut.
Memilih jabatan guru merupakan suatu pilihan
penting bagi seorang pendidik. Jabatan guru di dalam dunia pendidikan memiliki
berbagai level dan tingkatannya, yaitu mulai dari guru kelas, guru bidang
studi, kepala sekolah, hingga supervisor.
Sebelum memilih dan mengambil jabatan guru,
sebaiknya calon guru melakukan pertimbangan dan evaluasi terlebih dahulu atas
minat, bakat dan kualifikasi yang dimiliki. Adapun beberapa faktor yang dapat
dipertimbangkan dalam memilih jabatan guru antara lain:
- Minat dan Bakat - Seorang calon guru
haruslah memilih jabatan sesuai dengan minat dan bakatnya. Hal ini akan
memudahkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang
guru.
- Kualifikasi dan Keahlian - Setiap level
jabatan guru memiliki persyaratan kualifikasi dan keahlian yang
berbeda-beda. Sebelum memilih jabatan, seorang calon guru harus
mengevaluasi apakah kualifikasinya sesuai dengan persyaratan jabatan
tersebut.
- Pengalaman dan Kinerja - Pengalaman dan
kinerja akan berpengaruh pada kualitas seorang guru. Seorang guru yang
telah memiliki pengalaman dan kinerja yang baik akan lebih mudah dalam
mengambil jabatan guru yang lebih tinggi.
- Gaji dan Tunjangan - Gaji dan tunjangan
juga menjadi faktor pertimbangan bagi seorang calon guru dalam memilih
jabatan. Namun, gaji dan tunjangan tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan
dalam memilih jabatan, karena sebagai seorang guru, tugas dan tanggung
jawab yang harus dilaksanakan menjadi lebih penting.
Memilih jabatan guru yang tepat sangat penting
untuk membantu seorang guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
secara maksimal. Dalam memilih jabatan, sebaiknya calon guru mengevaluasi kemampuan
dan kualifikasi yang dimiliki dan juga mempertimbangkan faktor lainnya seperti
minat, bakat, pengalaman dan kinerja, serta gaji dan tunjangan.
Setiap pekerjaan mengandung aspek-aspek yang
dapat menimbulkan ketegangan. Ketegangan itu, tidak hanya ditentukan oleh sifat
pekerjaan itu, akan tetapi juga bergantung pada orang yang melakukannya.
Ketegangan timbul, sebagai akibat hambatan untuk mencari kepuasan yang dicari
individu dari kedudukannya. Karena sesungguhnya setiap orang ingin mencari
kepuasan dalam pekerjaannya Sifat ketegangan itu bergantung pada apa yang ingin
dicapai seseorang dalam pekerjaannya. Kepuasan yang dicari oleh setiap individu
berbeda-beda. Pekerjaan yang dapat memberi kepuasan kepada sesorang belum tentu
akan memberi kepuasan kepada orang lain. Apa yang menimbulkan ketegangan bagi
seseorang mungkin tidak mempunyai pengaruh terhadap orang lain.
Walaupun tugas yang mulia sebagai guru, akan
tetapi tidak selalu memberi kepuasan yang dicari orang dalam jabatannya.
Sebetulnya, apa yang diharapkan seorang guru dari jabatannya?
Yang diharapkan oleh seorang guru dari
jabatannya, antara lain:
1. Keuntungan ekonomis, imbalan, finansial,
gaji atau uang.
Gaji pekerja atau pegawai pada umumnya tidak
tinggi dibandingkan dengan gaji orang di negara-negara yang maju. Secara
finansial, jabatan guru tidak akan membuat seorang jadi kaya.
Guru-guru pada umumnya tidak begitu melibatkan
diri dalam usaha mencari uang, namun menginginkan adanya jaminan ekonomis, agar
dapat menutupi biaya kehidupan sehari-hari menurut keperluannya.
Gaji yang tinggi memberi kesempatan untuk
menabung, mendirikan rumah, membiaya pendidikan anak, dan sebagainya.
Untuk mencari jaminan ini, guru atau anggota
keluarganya sering terpaksa mencari sumber-sumber finansial lainnya. Jadi aspek
finansial dapat menimbulkan ketegangan dikalangan guru.
2. Status atau kedudukan yang terhormat didalam
masyarakat
Guru tidak mempunyai gambaran yang jelas
mengenai statusnya di tengah-tengah jabatan lain.
Guru banyak berasal dari golongan rendah atau
menengah rendah, dan memandang jabatan sebagai guru sebagai jabatan untuk
mendapatkan status yang lebih tinggi. Status guru yang tidak begitu tinggi
dalam mata masyarakat dan status yang tidak jelas bagi guru sendiri, mungkin
akan mengecewakan dan dapat mengganggu kesetabilan kepribadiannya. Status guru
yang tidak jelas ini, dapat menjadi sumber ketegangan bagi orang yang mencari
kenaikan statusnya melalui jabatannya.
3. Otoritas, kewibaan, kekuasaan atas orang
lain (peserta didik)
Sumber ketegangan lain bagi gurru adalah
otoritas guru untuk menghukum atau memberi penghargaan kepada siswanya. Tidak
selalu sama pendapat masyarakat apa yang harus dihargai atau dihukum, sehingga
menimbulkan ketegangan. Misalnya, jika melihat ada anak yang merokok, kemudian
guru menghukumnya. Sebagian orang tua ada yang menganggap hukuman itu terlalu
keras atau tidak pada tempatnya, sebaliknya ada juga orang tua yang
menginginkan agar anaknya diberi hukuman yang keras atas perlakuannya. Demikianlah
guru berada pada titik silang berbagai harapan dan tuntutan yakni dari pihak
orang tua dan masyarakat, dari pihak kepala sekolah dan atasannya. Guru
diharapkan agar mematuhi berbagai tuntutan dan berusaha melayani permintaan
berbagai pihak yang mungkin saling bertentangan sehingga dapat menimbulkan
ketegangan pada guru.
4. Status Profesional
Tanpa melalui pendidikan keguruan, seseorang
dapat mengajar. Berbeda dengan profesi lainnya seperti kedokteran atau hukum.
Diadakannya akta IV dapat dipandang sebagai pengakuan atas perlunya pendidikan
khusus keguruan agar dapat mengajar dengan tanggung jawab. Namun sampai saat
ini, yang menjadi ketegangan guru, apakah pekerjaan guru dapat diakui sebagai
profesi.
5. Tanggung jawab (pekerjaan) guru di dalam
kelas
Di dalam kelas guru diuji kemampuannya,
kesanggupannya untuk mengatur proses belajar mengajar, gangguan disiplin,
kenakalan, kemalasan, ketidak mampuan anak dalam belajar dapat menjadi sumber
ketegangan dan frustasi bagi guru. Dirasakan ada dan tidaknya ketegangan,
bergantung kepada kepuasan yang dicari seorang guru dalam profesinya.
Keberhasilan guru dalam membantu anak dalam pelajarnnya akan memberi kepuasan
bagi guru yang menjunjung tinggi profesi kegurannya dan kurang menghiraukan
penghargaan finansial yang diperolehnya.
Gangguan fisik dan mental pada guru dapat sangat mempengaruhi
kinerja mereka dalam mengajar. Gangguan fisik, seperti sakit kepala, sakit
punggung, atau penyakit lain dapat menyebabkan mereka tidak nyaman dan tidak
mampu fokus pada tugas mereka. Ini dapat menyebabkan penurunan kualitas
pengajaran, berkurangnya produktivitas, dan tingkat absensi yang tinggi.
Gangguan mental, seperti kecemasan, stres, atau depresi, juga
dapat mempengaruhi kinerja guru. Kecemasan dapat menyebabkan mereka tidak mampu
fokus pada tugas mereka, sehingga mengurangi kualitas pengajaran. Stres dapat
membuat mereka lebih mudah marah dan kurang sabar dengan siswa mereka, yang
dapat mempengaruhi hubungan interpersonal dengan siswa mereka.
Depresi dan gangguan mental lainnya juga dapat mempengaruhi
kinerja guru dengan cara yang serupa. Mereka mungkin merasa kurang termotivasi
dan kehilangan minat dalam pekerjaan mereka, yang juga dapat mengurangi
kualitas pengajaran.
Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menjaga kesehatan
mereka, baik fisik maupun mental. Mereka dapat melakukan kegiatan yang membantu
memperkuat kesehatan mereka, seperti olahraga, meditasi, atau konseling untuk
mengatasi stres. Pengurangan stres juga dapat dicapai dengan mengambil cuti
atau rehat singkat jika diperlukan, untuk menghindari kelelahan dan menjadi
lebih baik dalam pekerjaan mereka sebagai guru.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepribadian adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan,
ciri-ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi
standar atau baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah
baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di
hadapi.
Ada 3 faktor yang menentukan dalam perkembangan kepribadian :
Faktor bawaan Faktor lingkungan Interaksi bawaan dan lingkungan Ciri-ciri
stereotip guru, yaitu: Guru tidak memperlihatkan kepribadian yang fleksibel
Guru pandai menahan diri Guru cenderung untuk menjauhkan diri untuk bergaul
dengan orang lain Guru berusaha menjaga harga diri dan merasa keterikatan
kelakuannya pada norma-norma yang berkenaan dengan kedudukannya. Guru cenderung
bersikap otoriter dan ingin “menggurui” dalam diskusi Guru pada umumnya tidak
didorong oleh motivasi yang kuat untuk menjadi guru Guru menunjukan kesediaan
untuk berbakti dan berjasa.
a. Motivasi Guru Menjadikan siswa yang aktif dalam kegiatan
belajar mengajar. Menciptakan suasana kelas yang kondusif. Menciptakan Metode
pembelajaran yang bervariasi. Meningkatkan antusias dan semangat guru dalam
mengajar. Memberikan reward atau penghargaan. Menciptakan aktifitas yang
melibatkan seluruh siswa dalam kelas.
b. Gangguan Fisik dan Mental Guru Berdasarkan penelitian,
guru sangat rentan terhadap penyakit yang berkaitan dengan radang tenggorokan
seperti batuk – batuk sampai sariawan. Gangguan mental guru seperti frustasi,
Banyak tuntutan – tuntutan terhadap guru, diantaranya ada yang saling
bertentangan, usahanya mendidik anak sering menemui kegagalan, hubungannya
dengan anak-anak penuh ketegangan, dan banyak lagi faktor lain yang dapat
mengguncangkan kestabilan pribadi seseorang.
Dari makalah yang kami buat semoga akan menjadikan manfaat
bagi kita semua.Namun, penulis menyadari dari pembuatan makalah ini banyak
sekali kesalahan baik dari tulisan maupun kata-katanya. Penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Nasution,
Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2014) Batubara, Muhyi,
Sosiologi Pendidikan,) http://peralatan guru.tk.blogspot.co.id/ http://
mayadisasak.blogspot.com/