Minggu, 23 April 2023

makalah bentuk muka bumi dan atmofser

 

 

 

 

IPA BUMI DAN ANTARIKSA

 

BENTUK MUKA BUMI DAN ATMOSFER

Dosen pengampu

Solang. N. Flety S.pd,,M.pd

 

 

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1

1.       GRASELA F AWOM                     2022014134023

2.       YUNITA MANGGAPROUW       2022014134051

3.       MARTHEN F KMUR                  2022014134057

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI GURU SEKOLAH DASAR

JUSUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

TAHUN 2023

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BENTUK MUKA BUMI

 

A.     PENGANTAR

Mengapa bentuk permukaan bumi tidak merata? Anda sering melihat bahwa bumi ini terdiri dari berbagai bentuk permukaan, seperti gunung, bukit, lembah, dataran, dan laiinya. Apa yang menyebabkan semua itu?

Anekaragam bentuk muka bumi yang pernah Anda lihat tersebut merupakan hasil pengerjaan tenaga geologi, baik tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) maupun dari luar bumi (eksogen). Tenaga endogen bersifat membangun atau membentuk permukaan bumi dalam wujud pegunungan, perbukitan, lembah, dataran, dan laiinya. Sedangkan tenaga eksogen bersifat sebaliknya, yaitu merubah bentuk-bentuk permukaan bumi yang sudah dibangun oleh tenaga endogen, sehingga nampak terlihat seperti torehan atau sayatan- sayatan di permukaan.

Di dalam kegiatan belajar 2 ini, anda akan membahas tentang bagaimana bentuk-bentuk permukaan bumi sebagai hasil dari proses tektonisme (diatropisme) vulkanisme, gempa (seisme), dan hasil pengerjaan erosi serta sedimentasi.

 

B.     URAIAN MATERI

1.      Tenaga pembentuk permukaan bumi

Bentuk permukaan bumi bersifat dinamis, karena bentuk permukaan bumi mengalami perubahan. Perubahan bentuk diakibatkan oleh tenaga yang sangat besar yaitu tenaga geologi. Tenaga geologi yang menyebabkan perubahan bentuk permukaan bumi, yaitu : tenaga endogen endogen dan tenaga eksogen.

Tenaga endogen merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi, seperti: tektonisme (aktivitas kulit bumi), vulkanisme (aktivitas gunungapi), dan gempa. Sedangkan tenaga eksogen meliputi pengikisan dan pengendapan. Termasuk kedalam tenaga eksogen ini adalah pelapukan (weathering) dan erosi, baik yang diakibatkan oleh angin, air, gletser, iklim dan sebagainya.

 

2.      Gejala tektonisme (diatropisme)

Tektonisme atau diatropisme merupakan tenaga dari dalam bumi yang mengakibatkan perubahan letak (dislokasi) dan bentuk (deformasi) pada kulit bumi. Sudah Anda pahami sebelumnya, bahwa permukaan bumi paling atas kulit bumi atau litosfir. Kulit bumi yang bersifat keras dan kaku akibat tekanan dari dalam bumi, pada akhirnya kulit bumi terpecah menjadi lempengan-lempengan besar yang tidak sama ukurannya kemudian disebut lempeng tektonik. Lempeng-


 

 

lempeng ini bergerak secara horizontal maupun vertikal karena pengaruh cairan astenosfir yang panas di bawahnya.

Berdasarkan luas dan waktu kejadian, gerakan lempeng tektonik dapat dibedakan menjadi, gerak Epirogenetik dan gerak Orogenetik. Gerak Epirogenetik merupakan pergeseran lempeng tektonik secara perlahan dan meliputi wilayah yang luas, seperti penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia. Gerak epirogentik dibedakan atas:

a.       Epirogentik Positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga tampak permukaan air laut yang naik. Contoh: turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya sampai ke pulau Banda).

b.     


Epirogentik Negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga tampak permukaan air yang turun. Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.

Gambar 1. Gerak epirogenetik positif dan negatif

 


Gerak Orogenetik merupakan proses pembentukan pegunungan yang meliputi luas areal yang sempit dan waktu relatif singkat, dibandingkan epirogenesis, seperti pembentukan rangkaian pegunungan yang ada sekarang. Gerak orogenetik disebabkan adanya tekanan secara vertikal pada lempeng dan pecah, lempeng yang pecah mengalami pergeseran secara horisontal. Pergeseran ini mengakibatkan terjadinya lapisan kulit bumi atau salah satu lempeng terlipat dan patah.

Gambar 2. Proses Lipatan

Sumber: Frank Press & Raymond, 1985.


 

 

Proses Lipatan (Folded Process), merupakan kulit bumi berbentuk lipatan (gelombang) yang disebabkan pergeseran salah satu lempeng secara horisontal menumbuk lempeng lainnya. Pada gambar kalian bisa melihat puncak lipatan disebut antiklin jikab banyak disebut antiklinorium dan lembah disebut sinklin jika banyak disebut sinklinorium.

Berdasarkan bentuk dan puncak lipatan, maka lipatan ada beberapa, seperti; Lipatan Tegak, Lipatan Miring, Lipatan Menggantung, dan Lipatan. Contoh dari Pegunungan lipatan ini adalah Pegunungan seperti; Pegunungan Ural, Pegunungan Mediteranian dan Sirkum Pasifik.

 

 

Keterangan:

a.        Lipatan tegak

b.       Lipatan miring

c.        Lipatan rebah

d.       Lipatan menggantung

e.        Lipatan isoklin

f.        Lipatan kelopak

 

Gambar 3. Bentuk-bentuk lipatan

Sumber: Moh. Ma’mur, 1988.

 

Selain membentuk lipatan, tenaga tektonik menyebabkan terjadinya patahan (sesar) pada kulit bumi.   Proses patahan ini cepat, sehigga kulit bumi tidak sempat terlipat. Berdasarkan arah dan kekuatan tenaga tekanan, patahan dapat dibedakan, seperti berikut:

1)      tenaga tektonik dengan arah horisontal dan saling menjauh, maka pada bongkah batuan terjadi retakan-retakan dan patah membentuk bagian yang merosot (graben dan slenk) dan bagian yang menonjol (horst);

2)      tenaga tektonik yang berarah vertikal;

3)      dua tenaga tektonik secara horisontal dengan arah berlawanan, sehingga menimbulkan pergeseran batuan, yang disebut Sesar Mendatar.

Horst                                       Horst

 

Slank

 

 

 

 

 

 

Turun

Gambar 4. Ar(aMherotesokt)anan dan bagian yang patah  pada proses patahan

Sumber: Koleksi penulis, 2007.


 

 

 

 

 

 

 

Keterangan gambar:

A.      Horst dan Graben akibat tekanan dua arah

B.      Graben akibat tarikan dari dua arah

C.      Graben yang memusat

D.      Graben yang menyebar

E.      Fleksur

F.       Dekstral dan Sinistral

G.      Block Mountain

 

 

 

Gambar 5. Bentuk-bentuk patahan

Sumber: Moh Ma’mur, 1988.

 

Alur patahan adalah alur pecahnya batuan pada proses patahan. Alur patahan bisa dalam dan panjang atau dangkal. Patahan besar membelah batuan saat lempeng bergerak, mendorong naik wilayah daratan, atau membuatnya amblas. Setelah terjadi gempa saat energi dilepaskan, maka batuan di kedua sisi patahan terkunci menjadi satu di posisinya yang baru.

Relief geologis akibat patahan yang terkenal di dunia adalah Patahan San Andreas di California, AS dengan panjang 1.200 km. Patahan ini menjadi batas antara Lempeng Pasifik dan Lempeng benua Amerika Utara. Kedua lempeng terus berlangsung dengan arah berlawanan dengan pergeseran sekitar 5 cm/tahun., juga terdapat alur patahan yang lebih kecil dan berhubungan dengan San Andreas. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah gempa dengan kekuatan besar serta

20.000 gempa tercatat setiap tahun. Patahan San Andreas nampak dari udara, seperti goresan luka di permukaan bumi.

3.      Gejala vulkanisme

Vulkanisme merupakan peristiwa yang berhubungan dengan gunungapi. Terjadinya gunungapi karena adanya beberapa mineral yang bereaksi menimbulkaan panas. Panas dalam bumi akirnya membentuk dapur magma. Magma adalah cairan silikat pijar, artinya panas dalam magma. Akibat panas ini menimbulkan dorongan pada batuan yang mengalami retakan dan rekahan, sehingga material dalam dapur magma keluar. Kedalaman dan besar dapur magma berbeda, yang menyebabkan perbedaan kekuatan letusan.

Silikat pijar pada Magma terdiri dari bahan padat (batuan), cairan, dan gas yang berbeda di dalam lapisan kulit bumi (litosfir). Gas yang terkandung dalam


 

 

magma antara lain: uap air, Oksida Belerang (SO2), Gas Hidrokarbon atau Asam Klorida (HCL), Gas Hidrosulfat atau Asam Sulfat (H2SO4).

Ada dua bentuk gerakan magma yang berhubungan dengan vulkanisme, yaitu intrusi magma dan ekstrusi magma.

a.       Intrusi magma

Intrusi magma merupakan terobosan magma yang mendorong lapisan litosfira, tetapi tidak sampai ke permukaan bumi. Intrusi magma dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

1)      Sill merupakan magma menyusup dan membeku antara dua lapisan batuan secara mendatar searah lapisan batuan.

2)      Lakolit merupakan magma menyusup di antara lapisan bumi paling atas dengan bentuk cembung.

3)      Gang (korok) merupakan magma yang menyusup dan membeku di sela-sela lipatan.

4)     


Diaterma merupakan lubang (pipa) di antara dapur magma seperti silinder memanjang.

Gambar 6. Intrusi magma

b.      Ekstrusi magma

Ekstrusi magma merupakan proses keluarnya magma sampai ke permukaan bumi dengan mengeluarkan material seperti ;

1)      Lava, merupakan magma yang keluar dan mengalir di permukaan bumi.

2)      Lahar nerupakan material campuran antara lava yang panas dengan material di permukaan bumi, seperti; batu besar, pasir, kerikil, debu dan lain-lain dengan air sehingga membentuk lumpur.

3)      Eflata dan Piroklastika merupakan material padat, seperti; Bom, Lapili, Kerikil dan debu.

4)      Ekhalasi (gas) merupakan berupa gas yang dikeluarkan gunungapi saat meletus.


 

 

Ekstrusi merupakan proses keluarnya material saat guunungapi meletus(erufsi) dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

1)      Erupsi efusif, merupakan letusan gunungapi yang mengeluarkan lelehan lava yang mengalir di permukaan gunungapi

2)      Eruspi Eksplosif, merupakan letusan gunungapi dengan ledakan serta mengeluarkan bahan-bahan padat (Eflata/ Piroklastika), seperti: bom, lapili, kerikil, debu serta gas.

Letusan gunungapi pun berbeda, karena dipengaruhi letak dan tempat magma keluar, yaitu :

1)      Erupsi Linear, yaitu letusan yang menyebabkan keluarnya magma melalui celah atau retakan yang memanjang. sehingga membentuk deretan gunungapi.

2)      Erupsi Areal, yaitu letusan yang terjadi, karena letak magma dangkal, sehingga membakar dan melelehkan lapisan batuan di atasnya, sehingga terbentuk kaldera.

3)      Erupsi Sentral, letusan yang terjadi dimana material keluar melalui sebuah lubang yang membentuk gunung api yang terpisah-pisah. Erupsi sentral menghasilkan 3 jenis gunungapi, yaitu :

a)     


Gunungapi strato merupakan gunungapi yang mengalami beberapa kali letusan, sehingga berbentuk kerucut dan bantuannya berlapis-lapis, seperti; Gunungapi kerinci, Tangkubanparahu, Merapi, Ceremai, Semeru, Batur.

Gambar 8. Gunungapi Strato (kerucut)

b)     


Gunung api maar merupakan gunungapi dengan letusan eksplosif yang tidak terlalu kuat dan terjadi hanya 1kali, seperti : Gunungapi Lamongan, Galunggung.

Gambar 9. Gunungapi Maar

c)      Gunungapi perisai (Shield Volcanoes) merupakan letusan gunungapi secara efusif, sehingga cairan lava dan lahar lama membeku, karena itu


 

 

memiliki dasar yang luas dengan lereng tidak curam, seperti; Gunungapi Kalileau, Mamaleau di Kep. Hawaii.

 


4)      Erupsi freatik, letusan yang terjadi dari dalam litosfir akibat tekanan uap air meningkat.

Dari beberapa gunungapi, baik dari kedalaman magma, volume dapur magma, dan kekentalan (Viscositas) magma, maka letusan gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe. Viscositas magma bergantung pada susunan dan tingginya suhu. Semakin tinggi suhunya semakin besar viscositasnya.

Letusan gunungapi berbeda, maka tipe letusan gunungapi pun dibedakan menjadi:

1)      Tipe Hawaii

Letusan efusif dengan mengeluarkan lava cair dan mengalir di permukaan gunungapi (letusan air mancur), seperti; Gunungapi Mauna Loa, Kalileau di Kepulauan Hawaii.

2)      Tipe Stromboli

Letusan eksplosif dan sering terjadi letusan kecil dengan kekuatan kecil, material yang dikeluarkan eflata, seperti; Gunung Vesuvius di Italia, Gunung Raung di Jawa, dan Gunung Batur di Bali.

3)      Tipe Vulkano

Letusan Tipe vulkano bersifat efusif dengan mengeluarkan cairan magma kental, dapur magma dari dangkal sampai dalam, sehingga tekanan yang terjadi sedang sampai tinggi, seperti; Contoh, Gunung Semeru di Jawa Timur.

4)      Tipe Perret

Tipe perret merupakan letusan eksplosif yang besar, sehingga mengeluarkan material padat dan gas yang sangat tinggi dan membentuk awan menyerupai bunga kol di ujungnya, seperti; letusan Gunung Krakatau (1883). Awan yang terbentuk letusan ini setinggi 50 km. Karena letusannya sangat hebat, menyebabkan puncak gunung tenggelam dan merosotnya dinding kawah.

5)      Tipe Merapi

Letusan eksplosif dengan mengaluarkan bahan padat dan cair dan mengalir keluar perlahan-lahan dan membentuk sumbat kawah. Karena   tekanan gas dari dalam kuat, sehingga kawah terangkat dan pecah-pecah bagian luarnya disertai awan panas.


 

 

6)      Tipe St. Vincent

Letusan efusif dengan mengeluarkan lava yang kental, tekanan gas sedang dan dapur magma yang dangkal, seperti; Gunung Kelud dan St. Vincent.

7)      Tipe Pelle

Letusan efusif dengan mengeluarkan lava kental, tekanan gas tinggi, karena dapur magma dalam, seperti; Gunung Montagne Pelee di Amerika Tengah.

 


Gambar 11. Tipe-tipe letusan gunungapi

Sumber: Moh. Ma’mur, 1988.

 

Untuk mengurangi risiko dari letusan gunungapi, maka anda perlu mengetahui suatu gunungapi yang akan meletus memperlihatkan tanda-tanda, sebagai berikut :

1)      suhu di sekitar gunung meningkat;

2)      mengeluarkan suara gemuruh;

3)      kadang kadang disertai getaran (gempa);

4)      tumbuhan di sekitar gunung layu, dan

5)      binatang di sekitar gunung bermigrasi.

Selain proses vulkanisme menyebabkan terjadinya ledakan dengan mengeluarkan berbagai material. Setelah terjadi letusan, maka gunungapi mengelami fase istirahat atau mati. Setelah terjadinya letusan juga dapat menimbulkan gejala-gejala pasca letusan yang disebut Pasca Vulkanik, seperti; Fumarol, Solfatar, Geyser, Mofet.


 

 

1)      Fumarol    merupakan    gejala    pasca    letusan,    dimana    celah gunungapi mengeluarkan air panas dan zat lemas.

2)      Solfatar    merupakan    gejala    pasca    letusan,    dimana    celah gunungapi mengeluarkan air panas yang mengandung gas belerang.

3)      Mofet merupakan gejala pasca letusan, dimana celah gunungapi mengeluarkan gas beracun.

4)      Geyser    merupakan     gejala     pasca    letusan,    dimana    celah                gunungapi mengeluarkan air yang memancar dan panas.

Selain Letusan gunungapi banyak menimbulkan bahaya dan dampak yang lainnya, juga terdapat dampak positif dari letusan gunungapi, seperti;

1)      Sumber energi, sumber panas dari gunungapi yang mengeluarkan gas berupa uap air dapat dijadikan pembangkit listrik, seperti : PLTU di Gunungapi Kamojang Jawa Barat dan Gunungapi Dieng di Jawa Tengah.

2)      Sumber mineral dan bahan galian, seperti intan, timah, tembaga, belerang, batu apung, pasir, batu.

3)      Obyek wisata dan olahraga, seperti : hiking, climbing, layang gantung dan bersepeda gunung.

4)      Tanah mengalami pembaharuan, karena banyak mineral yang berasal dari letusan gunungapi, sehingga tanah menjadi subur kembali.

5)      Terbentuknya hujan orografis, karena ketinggiannya, maka angin yang membawa uap air dipaksa naik menyebabkan terbentuknya awan yang menimbulkan hujan serta berfungsi sebagai penangkap hujan, reservoir air dan tata air.

6)      Sumber plasma nutfah, karena ketinggian yang berbeda, maka suhu, kelembaban dan curah hujan berbeda mengakibatkan plasma nutfah yang hidup menjadi sangat bervariasi.

7)      Sanatorium untuk penderita penyakit tertentu, karena gunung ataupun pegunungan mempunyai udara yang sejuk dan segar.

 

4.      Gempa Bumi

Gempa bumi (Earthquake) merupakan getaran yang yang ditimbulkan dari dalam bumi yang merambat dan menyebabkan pergeseran kulit bumi. Alat pengukur gempa bumi disebut Seismograf. Kulit bumi yang terpecah menjadi beberapa lempeng. Pergeseran lempeng secara perlahan dengan saling bergesekan, menekan, dan mendesak bebatuan, sehingga pergeseran ini menyebabkan getaran yang disebut gempa bumi.

Gempa terbesar terjadi karena proses subduksi dimana salah satu lempeng samudra menumbuk lempeng benua. Lempeng samudra menumbuk dan menyusup di bawah lempeng benua, sedangkan lempeng benua terangkat dan


 

 

terjadi retakan. Terangkatnya lempeng benua menyebabkan terbentuknya pegunungan. Jika tumbukan lempeng ini menimbulkan bercampurnya beberapa mineral yang menyebabkan reaksi panas dapat membentuk magma, sehingga magna akan keluar melalui retakan dan patahan.


Gambar 12. Proses terjadinya Gempa

 

a.       Klasifikasi Gempa

Getaran pada lempeng ini disebabkan oleh beberapa tenaga, karena itu gempa diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :

1)      Gempa Tektonik (Tectonic Earthquake) diakibatkan oleh pergeseran lempeng. Gempa ini sangat berbahaya, karena meliputi wilayah luas.

2)      Gempa Vulkanik (Volcanic Earthquake) diakibatkan letusan gunungapi. Gempa ini sangat berbahaya untuk daerah sekitar gunungapi.

3)      Gempa Runtuhan (Fall Earthquake) diakibatkan runtuhnya batu-batu raksasa di sisi gunung, atau akibat runtuhnya gua-gua besar. Gempa ini dapat dirasakan hanya di sekitar daerah tersebut dan sempit.

b.      Gelombang Gempa

Titik bawah secara vertikal batuan yang menyebabkan gempa bumi disebut pusat atau Hiposentrum, meskipun jaraknya ratusan km. Gerakan batuan menyebabkan getaran yang disebut Gelombang Seismik. Gelombang seismik sangat cepat ke segala arah, dan yang bisa dirasakan saat mencapai permukaan. Gelombang paling kuat terjadi di atas (vertikal) dari Hiposentrum, semakin jauh, gelombang seismik semakin lemah.

Retakan batuan di sepanjang patahan menimbulkan gempa kecil yang terjadi sebelum gempa besar. Gempa kecil itu disebut gempa awal dan menjadi peringatan penduduk sekitar.

1)      Gelombang Longitudinal atau Gelombang Primer (P), merupakan gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah yang tercatat oleh seismograf dengan kecepatan antara 7-14 km/detik dengan periode gelombang 5-7 detik.


 

 

2)      Gelombang Transversal atau Gelombang Sekunder (S), merupakan gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah yang tercatat sebagai gelombang kedua oleh seismograf dengan kecepatan antara 4-7 km/detik daengan periode gelombang 11-13 detik.

3)      Gelombang Panjang atau Gelombang Permukaan, merupakan gelombang yang merambat dari episentrum menyebar ke segala arah di permukaan bumi dengan kecepatan 3,5-3,9 km/detik dengan periode gelombang relatif lama.

Untuk menentukan letak pusat terjadinya gempa di permukaan bumi atau letak episentrum dilakukan dengan menggunakan metoda homoseista, yaitu suatu metoda untuk menentukan letak episentrum dengan mencatat waktu rambatan pertama gelombang gempa minimal tiga tempat yang berbeda.

 

Contoh:

Stasiun pencatat gempa di Kota Bogor, Cianjur dan Sukabumi mencatat gelombang gempa pertama jam 9.30, itu menunjukan ke-3 tempat berada pada satu homoseista. Untuk menentukan episentrum, buat garis yang menghubungkan Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Selanjutnya buat garis tegak lurus pada titik tengah garis yang menghubungkan kota-kota tersebut. Titik perpotongan dua garis tegak lurus itulah episentrum gempa.

Pencatatan dilakukan pada beberapa tempat minimal 3 tempat berbeda, sehingga pusat gempa dan episentrumnya bisa diketahui secara tepat. Jarak stasiun ke episentrum dapat dihitung dengan menggunakan Hukum Laska

berikut:

D = {(S - P) -1}´1megameter

D   = Delta, menunjukkan jarak ke episentrum S   = saat tibanya gelombang S pada seismograf P   = saat tibanya gelombang P pada seismograf r    = 1 menit; 1 megameter = 1.000 km.

Contoh Soal:

Gempa tercatat pada seismograf stasion di Sukabumi sebagai berikut:

1)      Gelombang longitudinal tercatat pada jam 09 28’ 10”

2)      Gelombang transversal tercatat pada jam 09 29’ 25”

3)      Berapa jarak dari Sukabumi ke episentrum gempa?

Jawab:

Delta   = (09 29’ 25” – 09 28’ 10”) – 1 x 1.000 km

= ( 01’ 15” -1) x 1.000 km

= 15/60 x 1.000 km = 250 km

Jadi jarak dari Sukabumi ke episentrum gempa sekitar 250 km.


 

 

Model pengukuran gempa ditemukan oleh Guiseppe Mercalli tahun 1902 dengan menggunakan Skala Ritcher. Alat untuk mengukur getaran gempa adalah seismograf. Seismograf dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

1)      Seismograf Horizontal, alat ukur pencatat gempa bumi secara mendatar.

2)      Seismograf Vertikal, alat ukur pencatat gelombang secara berarah vertikal.

c.       Intensitas Kekuatan Gempa

Intensitas kekuatan gempa dapat digunakan skala intensitas gempa dengan Richter Magnitude Scale. Richter mengklasifikasikan intensitas gempa menggunakan angka 1 sampai 9, semakin besar angka semakin besar magnitudo.

 

Tabel 1. Skala gempa menurut Richter

Magnitudo

Keterangan

Rata-rata

per Tahun

Klasifikasi Umum

0 – 1,9

-

700.000

Goncangan    Kecil    (Small    Shock

earthquake)

2 – 2,9

-

300.000

Goncangan    Kecil    (Small    Shock

Earthquake)

3 – 3,9

Kecil

40.000

Gempa      Keras     (Strongly      Felt

Earthquake)

4 – 4,9

Ringan

6.200

Gempa        Merusak        (Damaging

Earthquake)

5 – 5,9

Sedang

800

Gempa      Destruktif      (Destructive

Earthquake)

6 – 6,9

Kuat

120

Gempa      Destruktif      (Destructive

Earthquake)

7 – 7,9

Besar

18

Gempa Besar (Major Earthquake)

8 – 8,9

Dahsyat

1 dalam 10-20 tahun

Bencana        Nasional        (National

Disaster)

 

d.      Proses Terjadinya Tsunami

Anda pernah menyaksikan peristiwa Tsunami di Aceh dan Pangandaran Jawa Barat? Tsunami merupakan gelombang laut, dimana air laut naik ke daratan. Proses terjadinya tsunami, karena adanya tumbukan lempeng di dasar samudra. Dari tumbukan lempeng tersebut ada bagian yang naik atau turun, maka air di dasar samudra mengalami goncang yang berpengaruh terhadap arus laut. Gelombang laut bergerak secara cepat dan naik dengan gelombang cukup tinggi, sehingga arus permukaan air laut bergerak masuk ke daratan. Kecepatan gelombang ini tergantung pada kedalaman dasar laut dan gaya gravitasi bumi. Ketika tsunami bergerak cepat melintasi samudera, gelombangnya tetap rendah. Tetapi ketika mencapai pantai, gelombang tersebut naik sehingga membentuk


 

 

dinding air raksasa. Gelombang bergerak cepat menuju daratan, merusak segala sesuatu yang dilaluinya. Tinggi gelombang tsunami bisa mencapai 30 meter.


Dampak dari gempa ini yang menyebabkan terjadinya gelombang yang meluluh-lantahkan wilayah Aceh akhir bulan Desember 2004 yang menelan korban jiwa lebih dari 200.000 orang. Pada pertengahan tahun 2006, tsunami terjadi di wilayah pantai selatan Pulau jawa, seperti; Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat Cilacap, Yogyakarta, meski tidak sebesar kejadian di Aceh. Gambar berikut merupakan proses kejadian tsunami di Aceh.

Gambar 13. Proses terjadinya tsunami di Aceh tahun 2004

 

Jalur gempa sebagian besar di sepanjang pantai Samudera Pasifik disebut Sabuk Pasifik, karena seluruh gempa bumi yang terjadi di dunia 80% terjadi di sabuk Pasifik, seperti gempa di Chili (1960), Peru (1970), Guatemala (1976), San Fransisco (1906), Alaska (1964), Tokyo (1923), Taiwan (1963), Filipina (1976), Irian Jaya (1971), Nabire(2004) dan sebagainya. Gempa pada jalur selatan sabuk pasifik juga ada sabuk Hindia yang berasal dari Samudra Hindia, sehingga nampak gempa yang terjadi seperti di Irian, Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara. Kedua sabuk ini sampai sekarang terus berlangsung intensif.

 

C. SOAL

1.      Jelaskan tentang tektonisme?

2.      Apakah perbedaan epirogenetik dengan orogenetik, sebutkan contohnya?

3.      Jelaskan tentang intrusi magma?

4.      Sebutkan tiga tipe gunungapi berdasarkan erupsi sentral?


 

 

 

RANGKUMAN

Tenaga geologi dibedakan atas tenaga endogen dan tenaga eksogen yang menyebabkan terjadinya bentuk muka bumi. Muka bumi adalah bagian terluar dari lapisan bumi, baik yang berupa daratan maupun perairan.

Tektonisme adalah terjadinya dislokasi batuan di dalam bumi, atau perubahan posisi atau letak dari komplek batuan, baik yang mengakibatkan putusnya hubungan batuan atau tidak. Berdasarkan bentukan alam yang dihasilkan, diastropisme dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu patahan dan lipatan. Patahan (sesar) terdiri dari sesar naik, sesar normal, dan sesar mendatar.

Vulkanisme adalah aktivitas magma di dalam kulit bumi, baik yang bergerak meresap diantara batuan di dalam kulit bumi maupun yang sampai keluar permukan bumi. Jenis-jenis letusan gunungapi ada yang erupsi eksplosif daN


erupsi epusif. Cara keluarnya magma, dapat dibedakan menjadi erupsi sentral, erupsi linear, dan erupsi areal. Berdasarkan penyebab terjadinya letusan, dibedakan menjadi erupsi magmatik dan erupsi preatik. Material gunung api dapat dibedakan menjadi material cair, material gas dan material padat.

Gempa bumi adalah getaran asli yang berasal dari lapisan kulit bumi bagian dalam, yang dirambatkan di antara lapisan batuan dalam kulit bumi kemudian sampai ke permukan. Gempa bumi dapat terjadi karena tektonik, vulkanik dan runtuhan.

 


 

 

GLOSARIUM

Astenosfir                : lapisan bumi di bawah litosfir antara lain dicirikan oleh kecepatan rambat getaran gempa yang rendah dan merupakan lapisan yang lunak dengan bagian-bagian yang cair.

Atmosfir                  : Selubung udara di sebelah luar litosfir serta bagian- bagiannya pada rongga, pori, dan celah di dalam litosfir.

Batolit                      :    massa batuan beku dalam yang berukuran besar terjadi dari butiran hablur mineral yang kasar.

Biosfir                      : semua makhluk hidup serta bagian bumi tempat hunian makhluk hidup itu, yaitu bagian bawah atmosfir, bagian paling atas litosfir dan seluruh bagian hidrosfir.

Bom                         : batuan produk vulkanik berbutir besar, berasal dari magma yang terlompar ketika gunungapi meletus dan membeku di luar. Produk vulkanik lain berturut-turut makin kecil ialah lapili, pasir vulkanik, dan abu volkanik. Berbagai produk vulkanik itu dinamakan juga eflata atau piroklastik.

Continental drift : pergeseran horizontal benua-benua yang menyebabkan perubahan letak satu benua terhadap benua yang lain.

Continental shelf :   bagian benua yang tergenang laut, merupakan dasar laut yang dalamnya kurang dari 200 meter dan reliefnya hampir datar berbatasan dengan slope.

Diatrema                 : pipa kepundan gunungapi. Ketika gunungapi masih aktif, diatrema merupakan tempat magma mengalir ke luar dan jika gunung telah tidak aktif lagi, diatrema merupakan batuan beku pengisi pipa tersebut.

Ekstrusi                   :     proses peresapan magma melalui lapiaan litosfer sampai ke permukaan bumi.


 

 

Episentrum             : titik di permukaan bumi tepat di ataa hiposentrum sebuah gempa tempat gelombang permukaan mulai dirambatkan.

Geyser                     : sumber air panas yang memancar berkala sebagai gejala pasca vulkanik. Gletser aliran es pada palung berbentuk U di daerah yang bersuhu kurang dari 0°C. Graben bagian yang turun di daerah tektonik patahan berdampingan dengan Horst.

Horst                        : bagian yang terangkat di daerah tektonik patahan bersebelahan dengan slenk atau Graben.

Intrusi                      : batuan beku yang terjadi karena peresapan magma ke dalam lapisan litosfer memotong atau menyisip di antara lapisan litosfer itu, di antaranya dikes, Bills (keping intrusi), apofisis, dan lakolit.

Kaldera                   : kepundan gunungapi yang sangat luas, merupakan lembah yang relatif datar dikelilingi tepi kepundan yang curam. Terjadi karena ledakan vulkanik yang kuat diikuti robohan tepi kepundan ke dalam lubang kepundan.

Kerak bumi            : bagian paling luar litosfer terdiri atas batuan dengan berat jenis yang relatif kecil. Kerak benua umumnya terjadi dari batuan granit dan granodiorit (lebih asam), sedangkan kerak dasar samudra pada umumnya terjadi dari batuan basal (basa).

Lahar                      : aliran lumpur yang mengangkut material vulkanik dari lereng gunung api karena aliran air hujan (lahar hujan) atau aliran air danau kepundan bercampur magma.

Lapili                       : benda vulkanik berbentuk kerikil lebih besar dari pasir vulkanik dan abu vulkanik, tetapi lebih kecil dari bom.

Lava                        :   magma yang telah sampai ke permukaan bumi.

Magma                    : batuan cair pijar yang terjadi dari berbagai mineral yang terdapat di dalam dapur magma dan akan menjadi batuan beku setelah mengalami pendinginan.

Meander                  : kelokan setengah lingkaran pada alur sungai yang terjadi karena erosi di bagian luar dan sedimentasi pada bagian dalam kelokan sungai. Dalam perkembangan selanjutnya dapat terbentuk meander cut off dan sungai mati (oxbow lake).

Mėlange                   : sedimen yang terjadi dari campuran berbagai batuan dan terdapat di suatu areal yang dapat dipetakan. Fragmen- fragmen pembentuk melange itu bermacam-macam dalam susunan, ukuran besar maupun bentuknya serta tempat fragmen itu terbentuk.

Orogenesa               :   pembentukan pegunungan.

Pasca Vulkanik : peristiwa   vulkanisme   setelah   aktivitas   gunungapi berhenti, meliputi sumber termal, sumber air mineral, geiser, sumber gas (fumarol, mofet, dan solfatar).


 

 

Tektonik Lempeng : teori tentang kedudukan, pergerakan, interaksi dan perusakan lempeng-lempeng; menerangkan kegiatan gempa, kegunungapian, pembentukan pegunungan dan peristiwa gunung api pada masa lalu dalam hubungannya dengan pergerakan lempeng.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asep Soedjoko, 1977. Geologi Umum 1, Surabaya: University Press IKIP Surabaya.

Budisantoso, P. 1987. Panduan Mengenal Batuan Bekuan. Bandung: Direktorat Geologi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum

Ibrahim Gunawan, 1991, Tektonik Lempeng, Bandung :Makalah Penataran IPBA. ITB Bandung.

Karta Saputra, Tehnologi Konservasi Tanah dan Air, Jakarta: PT Bina Aksara. Marbun MA., 1982, Kamus Geografi, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Munir, Moch. 1996 Geologi & Mineralogi Tanah. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya Strahler, Athur. 1976. Physical Geography. United States of America: Wiley

International Edition.

Strahler, Alan & Strahler, Arthur. 2003. Introducing Physical Geography Third Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Tisnasomantri, A. 1999. Geomorfologi Umum Jilid 1 (Konsep Dasar dan Morfologi Fluvial). Bandung: Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS-IKIP Bandung.

Tisnasomantri, A. 1999. Geologi Umum. Bandung: Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS-IKIP Bandung.

Totok Gunawan dkk, 2004, Fakta dan Konsep Geografi, Jakarta: Ganexa Exact.


 

 

ATMOSFIR

 

Pendahuluan

 

Selamat! Anda sudah menyelesaikan BBM 1. Tentunya Anda memperoleh hasil yang baik, bukan?. Sekarang, mari kita lanjutkan ke BBM 2 tentang Atmosfir. Pada BBM ini, Anda akan mempelajari tentang Cuaca dan Iklim yang merupakan inti dari pembahasan Atmosfir. Karena itu, sebelum mempelajarinya, coba Anda pahami terlebih dahulu tentang pengertian cuaca dan iklim dalam kehidupan sehari-hari! Bedakah cuaca dengan iklim? Ada apa saja yang mempengaruhi cuaca dan iklim tersebut?

Sebagai calon guru profesional, sebaiknya Anda mempelajari pokok bahasan ini dengan sebaik-baiknya sehingga Anda memiliki kompetensi dalam memahami dan memprediksi unsur-unsur dan dinamika atmosfir, sebagai materi pelajaran yang menarik untuk dibelajarkan kepada siswa. Dengan demikian, para siswa akan merasa terbantu proses pembelajarannya di kelas dan guru pun akan merasa bangga karena hasil belajar siswa meningkat. Karena itu, setelah mempelajari BBM ini Anda diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:

1.      Mengidentifikasi ciri-ciri lapisan atmosfir

2.      Menganalisis dinamika unsur-unsur cuaca dan iklim.

3.      Menjelaskan klasifikasi iklim dan pengaruhnya terhadap kehidupan.

Agar semua harapan di atas dapat terwujud, maka di dalam BBM 2 ini disajikan pembahasan dan latihan dengan butir uraian sebagai berikut:

1.      Atmosfir

2.      Cuaca dan iklim

3.      Klasifikasi iklim

Untuk mempelajari BBM ini, sebaiknya Anda perhatikan petunjuk berikut:

1.      Pahami BBM ini dengan seksama, baik isi maupun tujuannya, sehingga Anda dapat mencapai tujuan yang diharapkan sebagai hasil belajar.

2.      Setelah Anda merasa memahami, kemudian kerjakan latihan atau tugas yang terdapat dalam BBM ini sesuai dengan petunjuknya.

3.      Tuntaskan mempelajari Kegiatan Belajar 1 sehingga Anda benar-benar memahaminya, untuk kemudian dapat dilanjutkan dengan mempelajari Kegiatan Belajar 2, hingga tuntas mempelajari Kegiatan Belajar 3.

4.      Masyarakat dan lingkungan sekitar Anda merupakan sumber belajar yang nyata dan tepat dalam mempelajari modul ini. Tentunya pengetahuan Anda juga harus diperkaya dengan sumber belajar lain yang dapat diambil dari buku-buku pedoman, surat kabar dan majalah, media elektronik seperti radio televisi, dan internet, termasuk pengalaman tem


 

                                               


 

ATMOSFIR

A.     PENGANTAR

Sadarkah, jika setiap saat Anda membutuhkan udara segar. Sebaiknya Anda bernafas sedalam-dalamnya dan nikmati hidup sehat dengan menghirup udara bersih. Udara yang Anda hirup adalah udara dengan berbagai kandungan unsurnya. Paru-paru kita secara otomatis akan menyerap memilih unsur oksigen untuk menyertai peredaran darah dalam tubuh kita. Pertanyaannya, bagaimana jika di permukaan bumi tidak ada udara?. Makhluk hidup yang bernafas tentu saja akan mati. Begitu pentingnya unsur udara bagi kehidupan manusia juga mahluk hidup lainnya. Lapisan udara itulah yang dinamakan atmosfir.

 

B.     URAIAN MATERI

1.      Unsur-unsur udara

Atmosfir berasal dari Bahasa Yunani yaitu atmosfer. Kata atmos berarti uap dan sphaira berarti lapisan. Atmosfir merupakan lapisan udara yang menyelubungi bumi. Keberadaan udara dalam lapisan atmosfir sangatlah penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya untuk bernafas. Manusia dapat bertahan sampai satu hari tanpa air di daerah gurun yang paling panas, tetapi tanpa udara manusia hanya bertahan beberapa menit saja.

Pada skala yang lebih luas, atmosfir berfungsi sebagai payung atau pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas ke ruang angkasa pada malam hari. Atmosfir juga merupakan penghambat benda-benda angkasa yang bergerak melaluinya, sehingga sebagian meteor yang melalui atmosfir akan menjadi panas dan hancur sebelum mencapai bumi.

Atmosfir sebagai lapisan pelindung bumi memiliki beberapa sifat berikut:

1)      Tidak memiliki warna, tidak berbau, dan tidak memiliki wujud, hanya bisa dirasakan oleh indra perasa kita dalam bentuk angin.

2)      Memiliki berat sehingga dapat menyebabkan tekanan.

3)      Memiliki sifat dinamis dan elastis yang dapat mengembang dan mengerut.

Untuk menguji bahwa di dalam udara terdapat unsur-unsur fisik cobalah jawab pertanyaan berikut:

1)      Jika Anda berada di suatu tempat dekat pompa pengisi bahan bakar bensin. Udara di sekitarnya tampak tidak berubah, tetapi hidung kita akan merasa terganggu oleh bau bensin.

2)      Jika di sekitar Anda ada orang yang membakar kertas, tampak asap mengepul dan menyeliputi daerah sekitarnya. Cobalah Anda masuk pada gumpalan asap tersebut, tentu saja akan terasa sesak nafas karena udara didominasi oleh asap.

3)      Di lain waktu anda berada di tempat berkabut. Kabut tersebut menyerupai asap, bergumpal dan tampak putih. Masuklah pada gumpalan kabut tersebut dan rasakan keadaan nafas Anda, apakah masih terasa sesak? Mengapa tidak terasa sesak seperti masuk pada gumpalan asap pembakaran?


 

 


Percobaan di atas menunjukkan kepada kita bahwa di udara terkandung banyak unsur diantaranya adalah unsur oksigen (O2) yang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk bernafas.

Gambar 1. Gas Utama dalam Udara Kering

 

Ada unsur apa saja di dalam udara di sekitar kita? Atmosfir merupakan lapisan udara yang terdiri atas banyak unsur gas, seperti nitrogen (N2), oksigen (O2), argon (Ar), dan karbondioksida (CO2) sebagai unsur utama dan unsur lainnya seperti Neon (Ne), Helium (He), Ozon (O3), Hidrogen (H2), Krypton (Kr), Metana (CH4), dan Xenon (Xe). Selain itu, terkandung pula uap air dan partikel lain seperti debu dan garam-garaman yang kita sebut aerosol. Udara di permukaan bumi yang mengandung uap air disebut udara lembab, sedangkan jika tidak mengandung uap air disebut udara kering.

Gambar 1 di atas menunjukkan komposisi udara dalam keadaan kering. Pada gambar tersebut, coba sebutkan gas apakah yang paling banyak dalam udara? Ya, unsur kandungan nitrogen dan oksigen adalah yang paling banyak yaitu mencapai 99,03%. Selebihnya dalam jumlah kecil adalah argon, karbondioksida, ozon, dan lain-lain.

Unsur-unsur gas dalam udara sangat bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup. Nitrogen sangat bermanfaat bagi kehidupan karena dibutuhkan oleh tumbuhan yang berbintil-akar (seperti akar tanaman kedelai) dan beberapa jenis ganggang. Dalam bintil-bintil akar terdapat bakteri yang hidup bersimbiosis dengan tumbuhan inangnya. Bakteri itu akan menambat (menangkap) nitrogen bebas dari udara menjadi nitrat. Setelah menjadi nitrat, barulah diserap oleh tumbuhan untuk keperluan sintesis protein melalui proses metabolisme. Tumbuhan yang mengikat nitrit kaya akan protein dan tentu saja dibutuhkan untuk menenuhi protein nabati bagi manusia.

Manfaat oksigen sangat jelas yaitu untuk bernafas makhluk hidup yang bernafas dengan paru-paru termasuk manusia. Manfaat karbon dioksida adalah membantu proses fotosintesa tanaman yang berhijau daun untuk menghasilkan zat karbohidrat yang ditampung pada buah tanaman atau pada bagian tanaman lainnya (pada batang dan akar/umbi). Unsur ozon juga sangat bermanfaat. Menipisnya unsur ozon di atmosfer disebut kebocoran lapisan ozon. Lapisan ozon merupakan unsur udara pada ketinggian 15 35 km di atas permukaan bumi.


 

 

Ozon adalah gas yang molekulnya terdiri atas tiga atom oksigen (O3). Pembentukan ozon adalah dari oksigen (O2) yang pecah akibat radiasi ultraviolet menjadi atom oksigen. Atom oksigen hasil belahan itu masing-masing akan bertumbukan dan membentuk lapisan ozon (O3). Kebocoran ozon adalah jika salah satu dari tiga unsur atom oksigen itu bukan lagi dari unsur oksigen, tetapi misalnya oleh suatu zat pencemar (polutan) seperti klorofluorokarbon (CFC).

Uap air dalam udara tidak dikatakan sebagai gas udara, karena uap air bukan gas tetapi butiran air yang ukurannya sangat kecil. Uap air (H2O) merupakan salah satu unsur penting dalam atmosfer, yaitu dalam proses cuaca atau iklim yang dapat merubah fase (wujud) menjadi fase cair, atau fase padat melalui kondensasi dan deposisi. Perubahan fase air, dilukiskan pada gambar 2.


Gambar 2. Perubahan Fase Air.

 

Uap air merupakan senyawa kimia udara yang tersedia dalam jumlah besar, tersusun dari dua bagian hidrogen (H2) dan satu bagian oksigen (O). Uap air masuk ke dalam udara melalui proses evaporasi dan transpirasi (atau digabungkan menjadi istilah evapotranspirasi). Evaporasi adalah penguapan air yang berada di lautan, danau, sungai, dan massa air lainnya, sedangkan transpirasi adalah penguapan (perpindahan) air yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan ke udara. Uap air akan hilang dari udara jika ia mengalami kondensasi menjadi titik-titik air dan turun sebagai hujan.

Selain unsur gas dan uap air, lapisan udara juga memiliki unsur aerosol yang jumlahnya tidak tetap. Aerosol adalah partikel-partikel debu, garam laut, sulfat, atau nitrat yang berada dan melayang-layang di udara. Aerosol dapat berasal dari letusan gunungapi, pembakaran bahan bakar minyak dari kendaraan bermotor atau industri, deburan gelombang pecah di pantai, spora tumbuhan, bakteri, virus flu, dan lain-lain.

Atmosfer selalu dikotori oleh debu. Debu adalah istilah yang dipakai untuk benda yang sangat kecil sehingga tidak tampak kecuali dengan mikroskop. Jumlah debu berubah-ubah tergantung pada tempat. Sumber debu beraneka ragam, yaitu asap, abu vulkanik, pembakaran bahan bakar, kebakaran hutan, dan smog. Smog singkatan dari smoke and fog adalah kabut tebal yang sering dijumpai di daerah industri yang lembab.

Debu dapat menyerap, memantulkan, dan menghamburkan radiasi matahari. Debu atmosfirik dapat disapu turun ke permukaan bumi oleh curah hujan, tetapi kemudian atmosfir dapat terisi partikel debu kembali. Debu atmosfir adalah kotoran yang terdapat di atmosfir.


 

 

2.      Struktur Vertikal Atmosfir

Ketebalan lapisan atmosfir ini mencapai 1000 km yang diukur dari atas permukaan air laut. Selain ketebalannya yang besar, lapisan ini juga memiliki berat 6 milyar ton. Lapisan atmosfir tersebar berbeda baik secara vertikal maupun horisontal. Secara vertikal, atmosfir terdiri dari troposfir, stratosfir, mesosfir, dan thermosfir. Ada pula yang menambahkan dengan lapisan lain yaitu ionosfir, dan exosfir. Sebagai ilustrasi, dapat Anda lihat pada gambar 3!


Gambar 3. Pembagian lapisan atmosfer berdasarkan suhu

 

a.       Troposfir

Gejala cuaca seperti awan, petir, topan, badai dan hujan terjadi di lapisan ini. Pada troposfir terdapat penurunan suhu akibat sangat sedikitnya troposfir menyerap radiasi gelombang pendek yang berasal dari matahari. Sebaliknya permukaan tanah memberikan panas pada lapisan troposfir yang terletak di atasnya melalui peristiwa konduksi, konveksi, kondensasi, dan sublimasi yang dilepaskan oleh uap air atmosfir.

Pertukaran panas banyak terjadi pada bagian troposfir bawah, karena itu suhu turun dengan bertambahnya ketinggian pada situasi meteorologi (ilmu tentang cuaca). Nilainya berkisar antara 0,5 dan 1o C tiap 100 meter dengan nilai rata rata 0,65o C tiap 100 meter.

Udara troposfir atas sangat dingin, sehingga lebih berat dibandingkan dengan udara di atas tropopause akibatnya udara troposfir tidak dapat menembus tropopause. Ketinggian tropopause lebih besar di ekuator daripada di daerah kutub. Di ekuator, tropopause terletak pada ketinggian 18 km dengan suhu - 80o C, sedangkan di kutub tropopause hanya mencapai ketinggian 6 km dengan suhu - 40o C. Tropopause adalah lapisan udara yang terdapat di antara troposfir dengan stratosfir.

b.      Stratosfir

Lapisan atmosfir di atas tropopause merupakan lapisan inversi, artinya suhu udara bertambah tinggi (panas) seiring dengan naiknya ketinggian. Disebut


 

 

juga lapisan isothermis. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh lapisan ozonosfir yang menyerap radiasi ultra violet dari matahari. Bagian atas stratosfir dibatasi oleh permukaan diskontinuitas suhu yang disebut stratopause. Stratopause terletak pada ketinggian 60 km dengan suhu 0o C.

c.       Mesosfir

Pada mesosfir ditandai dengan adanya penurunan orde suhu sebesar 0,4o C setiap 100 meter, karena lapisan ini mempunyai keseimbangan radiasi yang negatif. Bagian atas mesosfir dibatasi oleh mesopause yaitu lapisan di dalam atmosfir yang mempunyai suhu paling rendah, kira-kira -100o C. Ketinggiannya sekitar 85 km.

d.      Thermosfir

Lapisan ini terletak pada ketinggian 85 dan 300 km yang ditandai dengan kenaikan suhu dari -100o C sampai ratusan bahkan ribuan derajat.

Bagian atas lapisan atmosfir dibatasi oleh termopause yang meluas dari ketinggian 300 km sampai pada ketinggian 1000 km. Suhu termopause adalah konstan terhadap ketinggian, tetapi berubah dengan waktu, yaitu dengan insolasi (incoming solar radiation). Suhu pada malam hari berkisar antara 300 dan 1200o C dan pada siang hari antara 700 dan 1700o C. Densitas termopause sangat kecil, kira-kira 10 kali densitas atmosfir permukaan tanah.

Ionosfir merupakan bagian dari lapisan thermosfir. Fungsi lapisan ini untuk memantulkan gelombang radio sebagai alat komunikasi ke seluruh permukaan bumi. Di atas lapisan ionosfir terdapat lapisan exosfir terluar yang memiliki ketinggian lebih dari 700 km di atas permukaan bumi. Lapisan ini semakin tinggi udara semakin tipis dan mendekati luar angkasa.

Persebaran kondisi atmosfir secara horisontal hanya berada pada lapisan troposfir dan keadaannya berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaannya mengakibatkan perbedaan gejala cuaca dan iklim di permukaan bumi. Cuaca adalah suatu keadaan udara pada suatu saat di suatu tempat, yaitu keadaan berdasarkan gejala suhu, tekanan udara, kelembaban, angin, dan curah hujan. Di samping itu terdapat unsur cuaca lainnya yang biasa kita saksikan yaitu penyinaran matahari, keadaan awan, gejala halilintar, pelangi, halo, dan lain-lain.

Iklim adalah suatu keadaan umum kondisi cuaca yang meliputi daerah yang luas. Iklim merupakan kelanjutan dari hasil-hasil pengamatan dan pencatatan unsur cuaca selama 30 tahun, karena itu iklim pada dasarnya merupakan rata-rata dari keadaan cuaca harian secara umum. Perbedaan lainnya, iklim bersifat relatif tetap dan stabil sedangkan cuaca selalu berubah setiap waktu.

 

SOAL

Jawablah soal latihan berikut dengan singkat!

3.      Identifikasi manfaat atmosfir bagi kehidupan!

4.      Sebutkan gas utama dalam udara!

5.      Identifikasi gejala-gejala cuaca yang terdapat di lapisan troposfir!

6.      Apa yang menyebabkan lapisan isothermis mengalami kenaikan suhu?

 

 

RANGKUMAN

Atmosfir merupakan lapisan udara yang menyelubungi bumi. Keberadaan udara dalam lapisan atmosfir sangatlah penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya terutama untuk bernafas. Atmosfir juga berfungsi sebagai payung atau pelindung kehidupan di bumi yang memiliki sifat tidak berwarna, tidak berbau, dan berwujud, dan fleksibel.

Di dalam atmosfir terdiri banyak unsur gas antara lain nitrogen (N2), oksigen (O2), argon (Ar), dan karbondioksida (CO2) sebagai unsur utama dan unsur lainnya seperti Neon (Ne), Helium (He), Ozon (O3), Hidrogen (H2), Krypton (Kr), Metana (CH4), dan Xenon (Xe).

Lapisan atmosfir tersebar berbeda baik secara vertikal maupun ke arah horisontal. Secara vertikal, lapisan atmosfir terdiri dari lapisan troposfir, stratosfir, mesosfir, dan thermosfir. Selain itu ada ionosfir, dan exosfir. Persebaran kondisi atmosfir secara horisontal hanya berada pada lapisan troposfir dan keadaannya berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaannya mengakibatkan perbedaan gejala cuaca dan iklim di permukaan bumi.

 

Cuaca adalah suatu keadaan udara pada suatu saat di suatu tempat, yaitu keadaan berdasarkan gejala suhu, tekanan udara, kelembaban, angin, dan curah hujan. Unsur cuaca lainnya seperti sinar matahari, keadaan awan, gejala halilintar, pelangi, halo. Sedangkan iklim adalah suatu keadaan umum kondisi cuaca yang meliputi daerah yang luas dan merupakan hasil-hasil pengamatan dan pencatatan unsur cuaca selama 30 tahun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH KEPRAMUKAAN :P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI

  Cover MAKALAH KEPRAMUKAAN   P3K POKOK POKOK PERTOLONGAN PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN DAN TRANSPORTASI   Dosen pengampuh matakul...